Semilir angin di
redupnya pagi ini seakan turut menyertai dalam galauku. Bagaimana aku
menyampaikan amanahmu yang jelas-jelas berlawanan dengan nuraniku. Seharusnya
engkau tahu segala perhatianku bukan tanpa alasan. Kau telah memenuhi seluruh ruang
di dasar hatiku tanpa kau tahu. Tanpa ada sedikit pun ruang tersisa. Ingin aku
mengusir segala bayang tentangmu. Namun sia-sia, semakin kuingin lupa segala
tentangmu semakin melekat di hati dan jiwaku. Entah bagaimana aku harus
meruntuhkan bayangmu. Kutahu hatimu tak kan mampu kurengkuh dalam hari-hariku.
Tak kan mungkin aku terus mengejarmu dalam keterbatasanku sebagai seorang
perempuan.
Seperti pagi ini, cuaca
redup dibumbui semilir angin. Seharusnya dingin, tapi justru membuatku
mengeluarkan butir-butir keringat dingin. Bendungan mutiara yang bertanggul
kuat tiada tertahan lagi, demikian deras mengalir. Betapa kejam hatimu tanpa
kau tahu. Mengapa kau harus menyimpan hati yang sangat kudambakan untuk
sahabatku? Nyinyir hatiku, dalam dekapan amarah dan malu. Amarahku pada diriku
yang tak mampu menggapai kasih sayangmu dalam hari-hariku. Aku malu telah
sekuat daya mencuri perhatianmu yang sama sekali tak bersambut, Yumna? Yang
jelas-jelas tahu obsesiku malah mampu menarik perhatianmu.
Andai bisa, kuingin
hari ini berjalan lebih lambat, belum sempat ku memikirkan serabut kisah yang
melingkupi perjalanan ini dengan Yumna. Kuingin siap dan tegar hati dalam
menyampaikan amanahmu. Tak kusangka Yumna yang biasa-biasa saja ternyata lebih
memesona hatimu. Mungkin karena nama Yumna yang berarti “memperoleh berkah”
yang membuat dia selalu lebih beruntung dari diriku. Melambung pikiranku hanya
tentang Yumna, tiada terasa aku telah cemburu pada Yumna sahabatku sendiri
tanpa dia tahu.
Seiring perjalanan
dalam bayang Yumna, akhirnya sampai juga aku di area kampus tempatku menempa
asa demi sebuah cita. Kucoba tenangkan hati, hilangkan segala iri dan benci
terhadap Yumna, dia tidak tahu apa-apa. Aku harus lebih bijaksana. Meski tanpa
semangat kuayunkan jua langkahku menuju lantai tiga. Tangga demi tangga kudaki
dalam langkah tak pasti. Sesampai di lantai dua aku terkejut, dari balik ruang
dekan ada yang mendorong tubuhku hingga map yang kubawa berhamburan terlepas
dari jemari tanganku.
“Astaghfirloh!”
jeritku, yang di hadapanku malah tersenyum kegirangan merasa misinya sukses.
“Har…sa?” sambil
kumemicingkan mata takut keliru.
“Iya Han,” jawabnya sambil tersenyum.
“Kenapa? Aku tambah
ganteng ya, kok seperti tidak percaya.” Selorohnya sambil mengulurkan mapku
yang terjatuh.
“Ah kepedean!” Jawabku
sambil menerima jabat tangannya.
“Mana Yumna?” Sambil
menengok sekeliling kami.
“Belum juga kasih tahu
kenapa sampai di sini, malah tanya Yumna.” Balasku, lagi-lagi aku cemburu pada
Yumna.
“Oh iya ya, aku pindah
ke sini, gak enak kuliah jauh dari kamu and Yumna,” Jawabnya dengan suara
sedikit merendah.
“Memang kenapa?”
Tanyaku lagi.
“Kamu bukan sebagai
seorang penyidik kan?” Balasnya sambil tersenyum.
Aku tahu Harsa
menyimpan sesuatu. Dulu kami sekelas sewaktu SMA selama tiga tahun, walaupun
ada perputaran kelas, kami bertiga tetap satu kelas. Mungkin ini yang membuat
kami semakin dekat. Kami paham betul karakter masing-masing.
“Malah diam,” Selidiknya,
ketika kami sudah duduk di kursi tak jauh dari tangga menuju lantai tiga. Kami
sempat larut dalam alam pikiran masing-masing. Dan aku hanya tersenyum.
“Han, ayo ke atas!”
Panggil Yumna yang baru sampai di lantai tiga. Dia tidak tahu kalau cowok di
depanku adalah Harsa.
“Sini dulu!”
kulambaikan tanganku.
Dengan langkah pastinya
Yumna mendekati kami, dalam pandanganku kali ini, dia kelihatan cantik, mungkin
ini yang membuat mas Tiksna menyisihkan hatinya untuk Yumna. Balutan hem biru
muda dipadukan celana jin biru, sepatu putih kombinasi biru kelihatan pas
sekali melekat di tubuh Yumna. Ah lagi-lagi aku cemburu dengan Yumna.
“Loh kamu Har?” Sapa Yumna terkejut dengan kehadiran Harsa.
“Iya non,” Jawab Harsa menggunakan panggilan semasa SMA.
Mereka berjabat tangan dan Harsa tiba-tiba mengingatkan yel-yel kami dulu.
“Ha Ha Y!” Seru Harsa.
“Hana!” Seruku.
“Harsa!” Seru Harsa.
“Yumna!” Seru Yumna.
“Satu dalam asa!
Semangat!” Kami bersama-sama.
Kami bertiga
melakukannya dengan spontan dan kompak. Sampai-sampai mahasiswa yang berada di
sekitar lantai dua memperhatikan tingkah kami bertiga. Di mata mereka mungkin
kami kekanak-kanakan, tapi inilah yang tidak bisa kami tinggalkan di setiap
perjumpaan.
Belum sempat Yumna
bertanya tentang Harsa, matanya telah menatap sampul yang menyembul sedikit di
sakuku. Belum sempat aku menyampaikan, tangan Yumna sudah menyabet sampul itu
dari sakuku.
“Hayo! Dapat surat dari
siapa ya?”gurau Yumna.
“Eit, Yumna!” Aku tidak
bisa berkata apa-apa.
Dengan lincah Yumna
berlari menjauhiku, mungkin hendak membaca tulisan yang tertera di sampul.
Sementara Harsa hanya bengong tidak mengerti. Dan ia berlalu dariku karena dipanggil
dekan. Di kejauhan Yumna yang tadi tersenyum girang, kini diam seperti
terkejut. Mungkin dikiranya surat buatku ternyata untuk dirinya. Aku berjalan
mendekatinya.
“Itu surat untukmu Yum.”
Kataku pelan, kutahan perih di hati. Kubendung butiran mutiaraku kuat-kuat. Aku
tak boleh menangis di depan Yumna.
“Dari siapa Han?”
Tanyanya penasaran.
“ Sudahlah nanti sampai
kamar kamu baca, jangan sekarang.” Jawabku sebijak mungkin sambil kutunjuk pergelangan
tanganku pertanda jam mata kuliah Teori Sastra sudah dimulai.
Yumna pun menurut,
menyimpan surat itu dalam saku celana jinnya. Untuk menghindari pertanyaan
Yumna aku sengaja mengambil tempat duduk agak jauh darinya. Kebetulan Anty
memanggilku.
Selama dua jam
pelajaran, pikiranku bukan pada sejumlah teori-teori yang dipaparkan pak
Rahardjo. Yumna dan mas Tiksna masih menghiasi anganku. Bagaimana aku bisa
menahan rasaku, aku sedemikian mengharap pada ketulusan mas Tiksna, namun
ternyata mas Tiksna memilih Yumna. Sedih, malu, putus asa bercampur menjadi
satu dalam laraku. Membalut hati yang sakit ternyata tak semudah membalut luka
di badan, aku kecewa dan tak berdaya.
Usai perkuliahan Teori
Sastra biasanya aku pulang bersama Yumna, tapi Anty minta diantar ke
perpustakaan. Syukur bagiku, dengan demikian ada alasan untuk tidak pulang
dulu.
“Aku pulang dulu Han,”
Seru Yumna ketika mengetahui aku dan Anty menuju perpustakaan. Aku hanya
mengangguk setuju.
Kupandangi langkah
Yumna hingga hilang di balik tembok pintu keluar. Aku tak biasa berjauhan
dengan Yumna, walaupun kami tidak sekamar. Aku dan Yumna sudah sepakat kami
akan selalu bersama, tapi untuk kamar walau dalam satu kos kami tidak mau
bersama. Ada beberapa privasi yang harus kami jaga. Sedekat apa pun tetap harus
ada batas, agar persahabatan kami kekal abadi. Kami tetap saling menghargai.
Di perpustakaan aku
sengaja berlama-lama, aku ingin sejenak melepaskan segala penat dengan membaca
karya emas Kahlil Gibran walau ternyata tak mampu. Diksi-diksi Gibran justru
membuatku tak mampu membendung butiran mutiaraku. Kontradiktif sekali dengan
yang terjadi padaku.
………………………………………
“Jiwa
yang jenuh penderitaan itu menemukan ketentraman saat disatukan dengan jiwa
lain yang serupa. Mereka saling memeluk dengan mesra, seperti orang asing yang
terhibur tatkala melihat orang asing lain di tempat yang jauh. Hati yang
dipersatukan melalui perantara duka cita tidak akan terpisahkan oleh semaraknya
kebahagiaan. Cinta yang dibasuh air mata akan suci dan indah selamanya.”
(Obor
Putih dalam The Love Story Of Kahlil Gibran halaman 23).
Kuhapus butiran mutiara
yang tercecer sebelum Anty melihatku, dia masih asik mencari novel kesayangan
yang belum usai dibaca namun raib entah ke mana dari tadi mencari belum bertemu
jua. Mungkin sudah dipinjam orang lain.
“Ayo Han!” Ajak Anty
kelihatan kecewa tiba-tiba sudah di depanku.
“Kamu pinjam Kahlil
Gibran lagi?” Tanyanya.
Aku hanya mengangguk
dan berlalu menuju pintu keluar sambil mendaftarkan buku yang hendak kupinjam.
Kami pun keluar dari perpustakaan menuju rumah kos masing-masing.
Sesampai kamar pintu
kututup. Aku merasa lelah sekali. Rasanya ingin tidur saja. Mudah-mudahan Yumna
juga sudah tertidur dengan sejuta sanjung puji mas Tiksna. Ah, aku cemburu
lagi. Yumna pantas mendapatkan mas Tiksna. Aku tak boleh berkerdil hati. Aku
yakin Allah sudah mengatur jalan hidup hambaNya dengan sempurna.
“Hana!” Suara Yumna
dari luar sambil mengetuk pintu. Bimbang dalam hatiku, kubuka atau kubiarkan
saja.
“Hana, kamu sudah
pulang kan?” Ulangnya.
“Iya!” Jawabku sembari
bangun dari tempat tidur.
Kubuka pintu dan Yumna
langsung memelukku.
“Maafkan, aku Han, aku
tak menyangka kita akan mengalami kenyataan ini.” Katanya dengan rendah hati.
Sekuat daya kumenahan bendungan mutiaraku toh runtuh jua.
“Sudahlah Yum, ini
kenyataan. Aku memang mendamba mas Tiksna, tapi ternyata mas Tiksna lebih
memilihmu.” Kataku, tak mampu melanjutkan. Ada yang teriris di kedalaman
nuraniku.
“Tidak Han.” Yumna pun
tak mampu melanjutkan. Kurangkai hatiku yang porak poranda tuk menata kata
dengan bijaksana. Bagaimanapun juga Yumna adalah sahabat terbaikku.
“Semua terserah kamu
Yum, mas Tiksna berhak memilihmu dan kau berhak menerimanya, jangan memikirkan
…” Belum selesai kalimatku, tangan Yumna sudah menutup mulutku.
“Han! Kamu jangan
seperti itu, aku masih sahabatmu kan?” Sanggah Yumna menanggapi perkataanku.
“Jangan salah paham
dulu, iya kita tetap sahabat, tidak ada yang bisa memisahkan persahabatan kita.
Tapi jangan hanya karena latar belakangku kamu lantas menolak mas Tiksna.”
Jawabku menegaskan, walau dengan suara parau oleh porak-porandanya hatiku.
Jelas sudah aku harus melupakan mas Tiksna dengan segala pesonanya.
“Tidak Han,aku tidak
mungkin menerima, aku belum mau berpikir masalah pacar.” Yumna mencoba
menetralisir keadaan. Walau tak berharap Yumna akan menolak mas Tiksna, namun
perkataan Yumna sangat membantu memulihkan rasa cemburu padanya. Aku tak tega
pada ketulusan hatinya. Kupeluk Yumna dalam damainya hati.
“Baiklah, tapi bukan
karena aku kan? Kalau aku insyaallah akan terima apapun keputusanmu. Hal
seperti ini banyak terjadi di luar sana. Kita harus belajar untuk selalu siap
menghadapi permasalahan apa pun yang menimpa kita.” Jawabku kembali menegaskan
pada Yumna.
Pasca peristiwa ini aku
menjalani hari dengan indahnya, kami bertiga penuh semangat menggapai asa. Mas
Tiksna? Dia telah lulus dan kembali ke kotanya. Ha Ha Y!
Sumber: Jawa Pos Edisi Minggu, 4 Mei 2014