Sabtu, 05 Juli 2014

Ha Ha Y


Semilir angin di redupnya pagi ini seakan turut menyertai dalam galauku. Bagaimana aku menyampaikan amanahmu yang jelas-jelas berlawanan dengan nuraniku. Seharusnya engkau tahu segala perhatianku bukan tanpa alasan. Kau telah memenuhi seluruh ruang di dasar hatiku tanpa kau tahu. Tanpa ada sedikit pun ruang tersisa. Ingin aku mengusir segala bayang tentangmu. Namun sia-sia, semakin kuingin lupa segala tentangmu semakin melekat di hati dan jiwaku. Entah bagaimana aku harus meruntuhkan bayangmu. Kutahu hatimu tak kan mampu kurengkuh dalam hari-hariku. Tak kan mungkin aku terus mengejarmu dalam keterbatasanku sebagai seorang perempuan.
Seperti pagi ini, cuaca redup dibumbui semilir angin. Seharusnya dingin, tapi justru membuatku mengeluarkan butir-butir keringat dingin. Bendungan mutiara yang bertanggul kuat tiada tertahan lagi, demikian deras mengalir. Betapa kejam hatimu tanpa kau tahu. Mengapa kau harus menyimpan hati yang sangat kudambakan untuk sahabatku? Nyinyir hatiku, dalam dekapan amarah dan malu. Amarahku pada diriku yang tak mampu menggapai kasih sayangmu dalam hari-hariku. Aku malu telah sekuat daya mencuri perhatianmu yang sama sekali tak bersambut, Yumna? Yang jelas-jelas tahu obsesiku malah mampu menarik perhatianmu.
Andai bisa, kuingin hari ini berjalan lebih lambat, belum sempat ku memikirkan serabut kisah yang melingkupi perjalanan ini dengan Yumna. Kuingin siap dan tegar hati dalam menyampaikan amanahmu. Tak kusangka Yumna yang biasa-biasa saja ternyata lebih memesona hatimu. Mungkin karena nama Yumna yang berarti “memperoleh berkah” yang membuat dia selalu lebih beruntung dari diriku. Melambung pikiranku hanya tentang Yumna, tiada terasa aku telah cemburu pada Yumna sahabatku sendiri tanpa dia tahu.
Seiring perjalanan dalam bayang Yumna, akhirnya sampai juga aku di area kampus tempatku menempa asa demi sebuah cita. Kucoba tenangkan hati, hilangkan segala iri dan benci terhadap Yumna, dia tidak tahu apa-apa. Aku harus lebih bijaksana. Meski tanpa semangat kuayunkan jua langkahku menuju lantai tiga. Tangga demi tangga kudaki dalam langkah tak pasti. Sesampai di lantai dua aku terkejut, dari balik ruang dekan ada yang mendorong tubuhku hingga map yang kubawa berhamburan terlepas dari jemari tanganku.
“Astaghfirloh!” jeritku, yang di hadapanku malah tersenyum kegirangan merasa misinya sukses.
“Har…sa?” sambil kumemicingkan mata takut keliru.
“Iya Han,”  jawabnya sambil tersenyum.
“Kenapa? Aku tambah ganteng ya, kok seperti tidak percaya.” Selorohnya sambil mengulurkan mapku yang terjatuh.
“Ah kepedean!” Jawabku sambil menerima jabat tangannya.
“Mana Yumna?” Sambil menengok sekeliling kami.
“Belum juga kasih tahu kenapa sampai di sini, malah tanya Yumna.” Balasku, lagi-lagi aku cemburu pada Yumna.
“Oh iya ya, aku pindah ke sini, gak enak kuliah jauh dari kamu and Yumna,” Jawabnya dengan suara sedikit merendah.
“Memang kenapa?” Tanyaku lagi.
“Kamu bukan sebagai seorang penyidik kan?” Balasnya sambil tersenyum.
Aku tahu Harsa menyimpan sesuatu. Dulu kami sekelas sewaktu SMA selama tiga tahun, walaupun ada perputaran kelas, kami bertiga tetap satu kelas. Mungkin ini yang membuat kami semakin dekat. Kami paham betul karakter masing-masing.
“Malah diam,” Selidiknya, ketika kami sudah duduk di kursi tak jauh dari tangga menuju lantai tiga. Kami sempat larut dalam alam pikiran masing-masing. Dan aku hanya tersenyum.
“Han, ayo ke atas!” Panggil Yumna yang baru sampai di lantai tiga. Dia tidak tahu kalau cowok di depanku adalah Harsa.
“Sini dulu!” kulambaikan tanganku.
Dengan langkah pastinya Yumna mendekati kami, dalam pandanganku kali ini, dia kelihatan cantik, mungkin ini yang membuat mas Tiksna menyisihkan hatinya untuk Yumna. Balutan hem biru muda dipadukan celana jin biru, sepatu putih kombinasi biru kelihatan pas sekali melekat di tubuh Yumna. Ah lagi-lagi aku cemburu dengan Yumna.
“Loh kamu Har?”  Sapa Yumna terkejut dengan kehadiran Harsa.
“Iya non,”  Jawab Harsa menggunakan panggilan semasa SMA. Mereka berjabat tangan dan Harsa tiba-tiba mengingatkan yel-yel kami dulu.
“Ha Ha Y!” Seru Harsa.
“Hana!” Seruku.
“Harsa!” Seru Harsa.
“Yumna!” Seru Yumna.
“Satu dalam asa! Semangat!” Kami bersama-sama.
Kami bertiga melakukannya dengan spontan dan kompak. Sampai-sampai mahasiswa yang berada di sekitar lantai dua memperhatikan tingkah kami bertiga. Di mata mereka mungkin kami kekanak-kanakan, tapi inilah yang tidak bisa kami tinggalkan di setiap perjumpaan.
Belum sempat Yumna bertanya tentang Harsa, matanya telah menatap sampul yang menyembul sedikit di sakuku. Belum sempat aku menyampaikan, tangan Yumna sudah menyabet sampul itu dari sakuku.
“Hayo! Dapat surat dari siapa ya?”gurau Yumna.
“Eit, Yumna!” Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Dengan lincah Yumna berlari menjauhiku, mungkin hendak membaca tulisan yang tertera di sampul. Sementara Harsa hanya bengong tidak mengerti. Dan ia berlalu dariku karena dipanggil dekan. Di kejauhan Yumna yang tadi tersenyum girang, kini diam seperti terkejut. Mungkin dikiranya surat buatku ternyata untuk dirinya. Aku berjalan mendekatinya.
“Itu surat untukmu Yum.” Kataku pelan, kutahan perih di hati. Kubendung butiran mutiaraku kuat-kuat. Aku tak boleh menangis di depan Yumna.
“Dari siapa Han?” Tanyanya penasaran.
“ Sudahlah nanti sampai kamar kamu baca, jangan sekarang.” Jawabku sebijak mungkin sambil kutunjuk pergelangan tanganku pertanda jam mata kuliah Teori Sastra sudah dimulai.
Yumna pun menurut, menyimpan surat itu dalam saku celana jinnya. Untuk menghindari pertanyaan Yumna aku sengaja mengambil tempat duduk agak jauh darinya. Kebetulan Anty memanggilku.
Selama dua jam pelajaran, pikiranku bukan pada sejumlah teori-teori yang dipaparkan pak Rahardjo. Yumna dan mas Tiksna masih menghiasi anganku. Bagaimana aku bisa menahan rasaku, aku sedemikian mengharap pada ketulusan mas Tiksna, namun ternyata mas Tiksna memilih Yumna. Sedih, malu, putus asa bercampur menjadi satu dalam laraku. Membalut hati yang sakit ternyata tak semudah membalut luka di badan, aku kecewa dan tak berdaya.
Usai perkuliahan Teori Sastra biasanya aku pulang bersama Yumna, tapi Anty minta diantar ke perpustakaan. Syukur bagiku, dengan demikian ada alasan untuk tidak pulang dulu.
“Aku pulang dulu Han,” Seru Yumna ketika mengetahui aku dan Anty menuju perpustakaan. Aku hanya mengangguk setuju.
Kupandangi langkah Yumna hingga hilang di balik tembok pintu keluar. Aku tak biasa berjauhan dengan Yumna, walaupun kami tidak sekamar. Aku dan Yumna sudah sepakat kami akan selalu bersama, tapi untuk kamar walau dalam satu kos kami tidak mau bersama. Ada beberapa privasi yang harus kami jaga. Sedekat apa pun tetap harus ada batas, agar persahabatan kami kekal abadi. Kami tetap saling menghargai.
Di perpustakaan aku sengaja berlama-lama, aku ingin sejenak melepaskan segala penat dengan membaca karya emas Kahlil Gibran walau ternyata tak mampu. Diksi-diksi Gibran justru membuatku tak mampu membendung butiran mutiaraku. Kontradiktif sekali dengan yang terjadi padaku.
………………………………………
“Jiwa yang jenuh penderitaan itu menemukan ketentraman saat disatukan dengan jiwa lain yang serupa. Mereka saling memeluk dengan mesra, seperti orang asing yang terhibur tatkala melihat orang asing lain di tempat yang jauh. Hati yang dipersatukan melalui perantara duka cita tidak akan terpisahkan oleh semaraknya kebahagiaan. Cinta yang dibasuh air mata akan suci dan indah selamanya.”
(Obor Putih dalam The Love Story Of Kahlil Gibran halaman 23).   
Kuhapus butiran mutiara yang tercecer sebelum Anty melihatku, dia masih asik mencari novel kesayangan yang belum usai dibaca namun raib entah ke mana dari tadi mencari belum bertemu jua. Mungkin sudah dipinjam orang lain.
“Ayo Han!” Ajak Anty kelihatan kecewa tiba-tiba sudah di depanku.
“Kamu pinjam Kahlil Gibran lagi?”  Tanyanya.
Aku hanya mengangguk dan berlalu menuju pintu keluar sambil mendaftarkan buku yang hendak kupinjam. Kami pun keluar dari perpustakaan menuju rumah kos masing-masing.
Sesampai kamar pintu kututup. Aku merasa lelah sekali. Rasanya ingin tidur saja. Mudah-mudahan Yumna juga sudah tertidur dengan sejuta sanjung puji mas Tiksna. Ah, aku cemburu lagi. Yumna pantas mendapatkan mas Tiksna. Aku tak boleh berkerdil hati. Aku yakin Allah sudah mengatur jalan hidup hambaNya dengan sempurna.
“Hana!” Suara Yumna dari luar sambil mengetuk pintu. Bimbang dalam hatiku, kubuka atau kubiarkan saja.
“Hana, kamu sudah pulang kan?” Ulangnya.
“Iya!” Jawabku sembari bangun dari tempat tidur.
Kubuka pintu dan Yumna langsung memelukku.
“Maafkan, aku Han, aku tak menyangka kita akan mengalami kenyataan ini.” Katanya dengan rendah hati. Sekuat daya kumenahan bendungan mutiaraku toh runtuh  jua. 
“Sudahlah Yum, ini kenyataan. Aku memang mendamba mas Tiksna, tapi ternyata mas Tiksna lebih memilihmu.” Kataku, tak mampu melanjutkan. Ada yang teriris di kedalaman nuraniku.
“Tidak Han.” Yumna pun tak mampu melanjutkan. Kurangkai hatiku yang porak poranda tuk menata kata dengan bijaksana. Bagaimanapun juga Yumna adalah sahabat terbaikku.
“Semua terserah kamu Yum, mas Tiksna berhak memilihmu dan kau berhak menerimanya, jangan memikirkan …” Belum selesai kalimatku, tangan Yumna sudah menutup mulutku.
“Han! Kamu jangan seperti itu, aku masih sahabatmu kan?” Sanggah Yumna menanggapi perkataanku.
“Jangan salah paham dulu, iya kita tetap sahabat, tidak ada yang bisa memisahkan persahabatan kita. Tapi jangan hanya karena latar belakangku kamu lantas menolak mas Tiksna.” Jawabku menegaskan, walau dengan suara parau oleh porak-porandanya hatiku. Jelas sudah aku harus melupakan mas Tiksna dengan segala pesonanya.
“Tidak Han,aku tidak mungkin menerima, aku belum mau berpikir masalah pacar.” Yumna mencoba menetralisir keadaan. Walau tak berharap Yumna akan menolak mas Tiksna, namun perkataan Yumna sangat membantu memulihkan rasa cemburu padanya. Aku tak tega pada ketulusan hatinya. Kupeluk Yumna dalam damainya hati.
“Baiklah, tapi bukan karena aku kan? Kalau aku insyaallah akan terima apapun keputusanmu. Hal seperti ini banyak terjadi di luar sana. Kita harus belajar untuk selalu siap menghadapi permasalahan apa pun yang menimpa kita.” Jawabku kembali menegaskan pada Yumna.
Pasca peristiwa ini aku menjalani hari dengan indahnya, kami bertiga penuh semangat menggapai asa. Mas Tiksna? Dia telah lulus dan kembali ke kotanya. Ha Ha Y!

 Sumber: Jawa Pos Edisi Minggu, 4 Mei 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar