Episode 8
Memang sempat kurasakan ada rona-rona lembut beraroma cinta dan kasih yang menghiasi
wajah Mas Yosi saat kami bersama, namun hanya sebatas itu dan sejauh ini di
antara kami tidak pernah terikrar apa pun. Mas Yosi sangat pandai menjaga hati
dan sikap, dia sangat tertutup.
Merajut Asa dalam
Keterbatasan
Kupendam di relung hatiku yang terdalam semua
kejadian yang kualami, tak seorang pun boleh mengetahuinya. Aku harus tegar dan
bangkit dari keterpurukan ini. Aku masih ada kesempatan menjadi penyiar lagi,
aku bukan orang terbuang laksana sampah busuk. Kupilih dan kupilah jalan
terbaik untuk masa depanku. Bapak
dan ibu tidak boleh tahu. Tentang Mas Radit, ibunya,
inilah yang terberat bagiku. Mereka sangat menyayangiku. Tapi bila mereka tahu
kondisiku yang sebenarnya apa mereka masih mau? Atau justru membuangku laksana
sampah? Duh Gusti, mengapa semua ini harus menimpaku? Ampuni hambaMu ini ya
Allah. Kembali bendungan di kedua kelopakku tak mampu bertahan menahan segala
perih yang melanda.
Awal bulan, aku mulai bekerja lagi. Aku diantar bapak, walau sebenarnya aku tidak tega namun kondisiku benar-benar belum memungkinkan. Sesampai di kantor beberapa teman menyambutku dan mengucapkan selamat bergabung kembali. Keadaan ini membuatku merasa masih memiliki hidup, aku harus memperjuangkannya. Pekikku dalam hati. Nina datang dengan membawa jadwal siaran lalu menunjukkannya padaku. Kuamati jadwal tersebut dan berdegup jantungku ketika kudapati acara Simfoni Malam kembali padaku, kucoba bernego dengan Nina supaya acara itu diberikan orang lain saja dengan alasan kesehatan. Namun Nina tidak berani memutuskan harus koordinasi dulu dengan Pak haji, maklum radio tempatku bekerja milik perorangan sehingga segala hal harus sepengetahuan beliau. Tak lama kemudian Nina pun kembali dengan memberitahukan padaku bahwa acara itu tidak live tapi direkam di siang harinya saja. Alhamdulillah, seruku dalam hati.
Hari kedua siaran ada beberapa fans yang datang
untuk menemuiku. Walau sebenarnya aku belum siap bertemu dengan orang banyak,
tapi mau tidak mau harus kulalui. Aku harus mengawalinya lagi, seperti kala
pertama menjadi penyiar. Aneh, aku mudah sekali tersinggung dan ingin menangis
kala ada yang berbicara agak nyleneh
terhadapku. Akhirnya aku berpura-pura sibuk di dalam, ke luar hanya beberapa
saat saja. Acaraku selesai, aku bersiap-siap untuk pulang, namun Nico sang
operator memanggilku, katanya ada telepon. Dadaku sudah berdetak lebih dari
biasanya, kucoba tenangkan diri beberapa saat.
“Halo,” sapaku.
“Halo, aku Radit,” sapanya dengan suara datar, namun
bagiku sangat menggelegar.
“Bisa ketemu?” sambungnya. Aku semakin bingung.
“Maaf, hari ini tidak bisa,” jawabku asal.
“Kapan?” kejarnya.
“Besok saja,” jawabku dengan malas. Keringat dingin
mulai mengucur melalui pori-pori dan
membasahi sekujur tubuhku.
“Ok. Ini janji!” jawabnya lalu menutup telepon.
Kutarik nafasku panjang-panjang. Untung bapak segera datang.
Sesampai di rumah kubanting tubuhku di pembaringan
seakan ingin melepaskan segala persoalan di kasur ini. Kini, persoalan
terbesarku adalah Mas Radit. Tiap kali memikirkannya kepalaku seperti berputar,
mata berkunang-kunang. Logika mengajakku untuk kuat, namun ragaku tak mampu
mengimbangi. Sudah terlalu lama aku mengabaikan Mas Radit, dari sakit lalu ke
Surabaya tanpa mengabarinya. Hp sengaja tidak kuaktifkan hingga saat ini. Aku
tidak lagi menggunakan medsos berupa apa pun. Aku ingin menutup diri dari apa pun
dan siapa pun.
Tengah malam bapak dan ibu membangunkanku untuk
salat malam. Kumohon petunjuknya agar aku menemukan jalan memutuskan hubungan
dengan Mas Radit yang sebenarnya sangat kudamba, kucintai, dalam murninya
hatiku. Namun aku tak boleh egois dengan cintaku, aku tak boleh mengorbankan
ketulusan cintanya dengan kepalsuan di diriku. Sementara untuk bercerita dengan
terus terang tak mungkin kulakukan. Ada banyak hal yang aku tak sanggup bila
berterus terang. Akan ada banyak orang yang kecewa atau bahkan justru membuatku semakin terluka.
Siang itu aku datang ke studio agak terlambat, hujan
turun dengan lebatnya tiba-tiba mengguyur desaku yang mulai gersang. Meski aku
nekat berangkat dengan menggunakan mantel namun tetap saja terlambat, aku harus
mengurangi kecepatan motorku dari biasanya. Terpaan angin dan air sangat
mengaburkan penglihatanku, belum lagi ketika ada mobil atau truk yang melintas
berlawanan denganku,
aku harus ekstra berhati-hati karena genangan air di jalanan bukan tidak
mungkin akan menyemprotku jika terlindas bannya. Sungguh suasana yang tidak
bersahabat bagiku.
Sesampai di ruang siaran ada Mas Yosi yang ternyata
menggantikanku beberapa saat sebelum aku datang. Aku langsung menuju ruang
siaran, namun ketika hendak membuka pintu, mas Yosi memanggilku, aku pun
berbalik.
“Kenalkan!” kata Mas Yosi padaku sambil menunjuk
seorang gadis di sebelahnya untuk berkenalan denganku.
“Kina,” sebutku sambil kuulurkan tanganku. Mas Yosi
mengulang namaku dengan perlahan, gadis itu mengangguk dan tersenyum manis
sekali.
“Salma,” sebutnya dengan suara pelan sekali, aku
paham karena melihat dari gerak bibirnya dan kami berjabat tangan beberapa
saat.
“Salma, namanya, dia gadis tunarungu,” Mas Yosi
mengulang nama gadis itu. Aku paham, dia seorang gadis tunarungu yang cantik.
“Salma Karami ya Mas?”
tanyaku pada Mas Yosi, Mas Yosi paham Salma Karami adalah nama salah satu tokoh
dalam Love Storynya Kahlil Gibran.
“Iya,” jawab Mas Yosi, sambil tersenyum.
“Dan ini? Kahlil Gibrannya,” jawab Mas Yosi sambil
menunjuk dirinya sendiri, aku sedikit kaget
namun segera tersenyum untuk menetralisir suasana getir yang seketika muncul di
hatiku, dan mereka pun segera berlalu setelah aku meminta maaf karena
keterlambatanku.
Betul kata Lani, kemarin ia bercerita tentang Mas
Yosi yang telah bertunangan dengan seorang model dari kota yang dulu pernah
diwawancarainya. Model itu seorang gadis tunarungu, ia sangat cantik, dan Mas
Yosi sangat menyayanginya. Dari tatapan matanya, memang kelihatan sekali kalau
Mas Yosi sangat menyayangi Salma. Salma seorang gadis yang terlahir ke dunia
ini tanpa mengetahui siapa kedua orang tuanya, ia tumbuh dan besar hingga
menjadi seorang model berkat pendidikan yang diperolehnya selama berada di
panti asuhan. Dia banyak menyandang ketidakberuntungan, namun ia berhasil
meraih mimpinya sebagaimana orang normal, tidak sepertiku yang bergelimang
kehancuran.
Siang ini ada siaran langsung dari lapangan sepak bola di desaku, waktu luang ini kugunakan untuk membaca koran yang terdapat di ruang siaran. Mataku tertuju pada foto seorang gadis dengan memeluk piala, bukankah ini Salma yang baru saja kukenal? Dan benar, model ini adalah Salma, ternyata ia memiliki nama lengkap yang cantik sekali secantik orangnya, Salma Kanistha. Sembilan belas tahun yang lalu ibu Sakinah pemilik panti mendapati sebuah kardus di depan pintu pantinya. Setelah didekati dan dibuka bersama suaminya ternyata seorang bayi yang cantik, ibu panti pun mengasuhnya dan memberi nama bayi itu Salma Kanistha. Bayi Salma tumbuh sebagaimana bayi lain, namun ia jarang sekali menangis, dan ketika dipanggil jarang sekali memberikan respon, hingga menginjak usia satu tahun Salma masih asik dengan dirinya sendiri. Ibu Sakinah dan suaminya membawa Salma ke dokter, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Salma ada gangguan pada pendengarannya, hingga usia tiga tahun penantian Ibu Sakinah terjawablah bahwa Salma Kanistha tidak akan pernah bisa berbicara alias tunarungu wicara. Gangguan tersebut menyebabkan tidak adanya bunyi atau suara yang diterima Salma sehingga ia tidak dapat menirukan suara yang merupakan proses awal seseorang berbicara. Dunianya sunyi dan senyap.
Ibu Sakinah pemilik panti memang tidak memiliki
keturunan karena suatu penyakit maka indung telurnya harus diangkat. Kehadiran
Salma otomatis mendapat tempat yang spesial di hati pasangan suami isteri ini,
dengan kesabaran dan kasih sayang berlimpah mereka merawat Salma, dia disekolahkan
di sebuah Sekolah Luar Biasa yang tidak jauh dari pantinya. Setiap hari bersama
suaminya membawa puteri cantik itu ke sekolah tersebut. Di sekolah Salma
termasuk dalam kategori anak yang pintar, dan sedikit demi sedikit mulai
diketahui bakatnya, dia mulai senang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti
tata kecantikan, menjahit, melukis. Di sisa waktunya Ibu Sakinah masih
memasukkan Salma pada sekolah modeling yang ada di kota itu juga.
Kembali aku membaca artikel Salma, selain menjadi
seorang model ternyata dia juga menjadi perancang busana, termasuk busana yang
dikenakan ketika lomba itu, dia merancangnya sendiri. Kutatap dalam-dalam foto
Salma, baju itu demikian bagus, sangat berkelas, pas sekali dengan kulitnya
yang kuning langsat. Masih ada lagi, Salma juga pandai melukis. Sungguh sebuah
kesempurnaan yang dimiliki Salma, tiada henti aku mengaguminya. Belum selesai
aku membacanya, Lani sudah muncul dengan dua gelas teh hangat.
“Mbak Kina mau teh?” tanyanya sambil menunjukkan teh
yang dibawanya.
“Tumben kamu nawari teh,” komentarku, karena tidak
biasanya ia membawakan teh ke ruang siar.
“Hari ini spesial Mbak,” jawabnya, sambil meletakkan
nampan di meja depanku.
“Memang kamu alih profesi?” gurauku sambil membuka
tutup gelas berisi teh, Lani malah tertawa.
“Sakit apa? Di rumah sakit mana?” tanyaku ingin
segera mengetahui.
“Demam berdarah, di puskesmas,” jawabnya sambil
mengintip koran yang kubaca.
“Ada berita apa Mbak?” tanyanya.
“Ini, beritanya Salma tunangan Mas Yosi,” jawabku
sambil menunjukkan foto Salma.
“Gak cemburu nih..,” Lani menggodaku. Aku menggeleng
pelan, tiba-tiba ada keraguan yang menyelinap di rongga dadaku. Mungkinkah ini
cemburu? Bukan pekikku dalam hati.
“Ya enggaklah,” netralisirku untuk menghindari Lani
berpikir macam-macam.
“Bener nih,” jawab Lani memastikan jawabanku.
“Bener! Suer!” jawabku lagi, kutunjukkan ibu jariku.
“Memang kenapa?” kejarku tentang prasangka buruknya.
“Ya, kan dulunya mas Yosi menyimpan hati untuk Mbak
Kina, lalu dia patah hati melihat Mbak Kina dekat dengan Mas Radit, sebentar
kemudian bertunangan dengan Salma, kan..,” jelasnya lagi.
“Sudahlah jangan berprasangka buruk dengan Mas Yosi,
setahuku Mas Yosi benar-benar tulus terhadap Salma,” sergahku. Aku tidak ingin
Lani terus berprasangka buruk.
“Ya Mbak Kina tidak tahu curahan hati Mas Yosi sih,
betapa sakitnya hati Mas Yosi waktu itu, coba kalau Mbak Kina baca di
laptopnya, pasti Mbak Kina mengiyakan prasangkaku ini,” ia masih membantah
namun harus kutinggalkan ke ruang siar karena acara sepak bola sudah selesai.
Aku mulai memandu acara musik siang itu, banyak
pendengar yang mengirim sms untuk sekedar memesan lagu atau mengirim salam. Satu
per satu kubacakan permintaan mereka. Hingga tiba-tiba kudapati nama Arvel
Anantara yang mengirim pesan untuk Rena Antari bahwa sore ini ditunggu
kedatangannya di vila Bugenvill Indah. Kalimat ini mengalir begitu saja dari
mulutku, namun setelah itu langsung aku mengalihkan dengan beberapa lagu.
Karena degup kencang di jantungku telah menyesakkan dada, dan suaraku pun
hilang beberapa saat. Sebotol aqua yang berada di ruang siar telah berpindah ke
perutku, namun getar di dadaku masih saja mendera.
Hingga
tiba-tiba kudapati nama Arvel Anantara yang mengirim pesan untuk Rena Antari
bahwa sore ini ditunggu kedatangannya di vila bugenvill Indah.
Lanjut episode 10 Terpuruk di Balik Dendam
Kataku.
Jangan memaksa untuk bertahan, bila keadaan tak menginginkanmu. Jangan biarkan hatimu terbelenggu. Keluar darinya dan menata kembali hidupmu. Itu lebih bijak.