Sabtu, 25 September 2021

Epis 9 Merajut Asa dalam Keterbatasan


Episode 8

Memang sempat kurasakan ada rona-rona lembut beraroma cinta dan kasih yang menghiasi wajah Mas Yosi saat kami bersama, namun hanya sebatas itu dan sejauh ini di antara kami tidak pernah terikrar apa pun. Mas Yosi sangat pandai menjaga hati dan sikap, dia sangat tertutup.


Merajut Asa dalam Keterbatasan

 

Kupendam di relung hatiku yang terdalam semua kejadian yang kualami, tak seorang pun boleh mengetahuinya. Aku harus tegar dan bangkit dari keterpurukan ini. Aku masih ada kesempatan menjadi penyiar lagi, aku bukan orang terbuang laksana sampah busuk. Kupilih dan kupilah jalan terbaik untuk masa depanku. Bapak dan ibu tidak boleh tahu. Tentang Mas Radit, ibunya, inilah yang terberat bagiku. Mereka sangat menyayangiku. Tapi bila mereka tahu kondisiku yang sebenarnya apa mereka masih mau? Atau justru membuangku laksana sampah? Duh Gusti, mengapa semua ini harus menimpaku? Ampuni hambaMu ini ya Allah. Kembali bendungan di kedua kelopakku tak mampu bertahan menahan segala perih yang melanda.

    Awal bulan, aku mulai bekerja lagi. Aku diantar bapak, walau sebenarnya aku tidak tega namun kondisiku benar-benar belum memungkinkan. Sesampai di kantor beberapa teman menyambutku dan mengucapkan selamat bergabung kembali. Keadaan ini membuatku merasa masih memiliki hidup, aku harus memperjuangkannya. Pekikku dalam hati. Nina datang dengan membawa jadwal siaran lalu menunjukkannya padaku. Kuamati jadwal tersebut dan berdegup jantungku ketika kudapati acara Simfoni Malam kembali padaku, kucoba bernego dengan Nina supaya acara itu diberikan orang lain saja dengan alasan kesehatan. Namun Nina tidak berani memutuskan harus koordinasi dulu dengan Pak haji, maklum radio tempatku bekerja milik perorangan sehingga segala hal harus sepengetahuan beliau. Tak lama kemudian Nina pun kembali dengan memberitahukan padaku bahwa acara itu tidak live tapi direkam di siang harinya saja. Alhamdulillah, seruku dalam hati.

Hari kedua siaran ada beberapa fans yang datang untuk menemuiku. Walau sebenarnya aku belum siap bertemu dengan orang banyak, tapi mau tidak mau harus kulalui. Aku harus mengawalinya lagi, seperti kala pertama menjadi penyiar. Aneh, aku mudah sekali tersinggung dan ingin menangis kala ada yang berbicara agak nyleneh terhadapku. Akhirnya aku berpura-pura sibuk di dalam, ke luar hanya beberapa saat saja. Acaraku selesai, aku bersiap-siap untuk pulang, namun Nico sang operator memanggilku, katanya ada telepon. Dadaku sudah berdetak lebih dari biasanya, kucoba tenangkan diri beberapa saat.

“Halo,” sapaku.

“Halo, aku Radit,” sapanya dengan suara datar, namun bagiku sangat menggelegar.

“Bisa ketemu?” sambungnya. Aku semakin bingung.

“Maaf, hari ini tidak bisa,” jawabku asal.

“Kapan?” kejarnya.

“Besok saja,” jawabku dengan malas. Keringat dingin mulai mengucur melalui  pori-pori dan membasahi sekujur tubuhku.

“Ok. Ini janji!” jawabnya lalu menutup telepon. Kutarik nafasku panjang-panjang. Untung bapak segera datang.

Sesampai di rumah kubanting tubuhku di pembaringan seakan ingin melepaskan segala persoalan di kasur ini. Kini, persoalan terbesarku adalah Mas Radit. Tiap kali memikirkannya kepalaku seperti berputar, mata berkunang-kunang. Logika mengajakku untuk kuat, namun ragaku tak mampu mengimbangi. Sudah terlalu lama aku mengabaikan Mas Radit, dari sakit lalu ke Surabaya tanpa mengabarinya. Hp sengaja tidak kuaktifkan hingga saat ini. Aku tidak lagi menggunakan medsos berupa apa pun. Aku ingin menutup diri dari apa pun dan siapa pun.

Tengah malam bapak dan ibu membangunkanku untuk salat malam. Kumohon petunjuknya agar aku menemukan jalan memutuskan hubungan dengan Mas Radit yang sebenarnya sangat kudamba, kucintai, dalam murninya hatiku. Namun aku tak boleh egois dengan cintaku, aku tak boleh mengorbankan ketulusan cintanya dengan kepalsuan di diriku. Sementara untuk bercerita dengan terus terang tak mungkin kulakukan. Ada banyak hal yang aku tak sanggup bila berterus terang. Akan ada banyak orang yang kecewa atau bahkan justru membuatku semakin terluka.

Siang itu aku datang ke studio agak terlambat, hujan turun dengan lebatnya tiba-tiba mengguyur desaku yang mulai gersang. Meski aku nekat berangkat dengan menggunakan mantel namun tetap saja terlambat, aku harus mengurangi kecepatan motorku dari biasanya. Terpaan angin dan air sangat mengaburkan penglihatanku, belum lagi ketika ada mobil atau truk yang melintas berlawanan denganku, aku harus ekstra berhati-hati karena genangan air di jalanan bukan tidak mungkin akan menyemprotku jika terlindas bannya. Sungguh suasana yang tidak bersahabat bagiku.

Sesampai di ruang siaran ada Mas Yosi yang ternyata menggantikanku beberapa saat sebelum aku datang. Aku langsung menuju ruang siaran, namun ketika hendak membuka pintu, mas Yosi memanggilku, aku pun berbalik.

“Kenalkan!” kata Mas Yosi padaku sambil menunjuk seorang gadis di sebelahnya untuk berkenalan denganku.

“Kina,” sebutku sambil kuulurkan tanganku. Mas Yosi mengulang namaku dengan perlahan, gadis itu mengangguk dan tersenyum manis sekali.

“Salma,” sebutnya dengan suara pelan sekali, aku paham karena melihat dari gerak bibirnya dan kami berjabat tangan beberapa saat.

“Salma, namanya, dia gadis tunarungu,” Mas Yosi mengulang nama gadis itu. Aku paham, dia seorang gadis tunarungu yang cantik.

“Salma Karami ya Mas?” tanyaku pada Mas Yosi, Mas Yosi paham Salma Karami adalah nama salah satu tokoh dalam Love Storynya Kahlil Gibran.

“Iya,” jawab Mas Yosi, sambil tersenyum.

“Dan ini? Kahlil Gibrannya,” jawab Mas Yosi sambil menunjuk dirinya sendiri, aku sedikit kaget namun segera tersenyum untuk menetralisir suasana getir yang seketika muncul di hatiku, dan mereka pun segera berlalu setelah aku meminta maaf karena keterlambatanku.

Betul kata Lani, kemarin ia bercerita tentang Mas Yosi yang telah bertunangan dengan seorang model dari kota yang dulu pernah diwawancarainya. Model itu seorang gadis tunarungu, ia sangat cantik, dan Mas Yosi sangat menyayanginya. Dari tatapan matanya, memang kelihatan sekali kalau Mas Yosi sangat menyayangi Salma. Salma seorang gadis yang terlahir ke dunia ini tanpa mengetahui siapa kedua orang tuanya, ia tumbuh dan besar hingga menjadi seorang model berkat pendidikan yang diperolehnya selama berada di panti asuhan. Dia banyak menyandang ketidakberuntungan, namun ia berhasil meraih mimpinya sebagaimana orang normal, tidak sepertiku yang bergelimang kehancuran.

Siang ini ada siaran langsung dari lapangan sepak bola di desaku, waktu luang ini kugunakan untuk membaca koran yang terdapat di ruang siaran. Mataku tertuju pada foto seorang gadis dengan memeluk piala, bukankah ini Salma yang baru saja kukenal? Dan benar, model ini adalah Salma, ternyata ia memiliki nama lengkap yang cantik sekali secantik orangnya, Salma Kanistha. Sembilan belas tahun yang lalu ibu Sakinah pemilik panti mendapati sebuah kardus di depan pintu pantinya. Setelah didekati dan dibuka bersama suaminya ternyata seorang bayi yang cantik, ibu panti pun mengasuhnya dan memberi nama bayi itu Salma Kanistha. Bayi Salma tumbuh sebagaimana bayi lain, namun ia jarang sekali menangis, dan ketika dipanggil jarang sekali memberikan respon, hingga menginjak usia satu tahun  Salma masih asik dengan dirinya sendiri. Ibu Sakinah dan suaminya membawa Salma ke dokter, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Salma ada gangguan pada pendengarannya, hingga usia tiga tahun penantian Ibu Sakinah terjawablah bahwa Salma Kanistha tidak akan pernah bisa berbicara alias tunarungu wicara. Gangguan tersebut menyebabkan tidak adanya bunyi atau suara yang diterima Salma sehingga ia tidak dapat menirukan suara yang merupakan proses awal seseorang berbicara. Dunianya sunyi dan senyap.

Ibu Sakinah pemilik panti memang tidak memiliki keturunan karena suatu penyakit maka indung telurnya harus diangkat. Kehadiran Salma otomatis mendapat tempat yang spesial di hati pasangan suami isteri ini, dengan kesabaran dan kasih sayang berlimpah mereka merawat Salma, dia disekolahkan di sebuah Sekolah Luar Biasa yang tidak jauh dari pantinya. Setiap hari bersama suaminya membawa puteri cantik itu ke sekolah tersebut. Di sekolah Salma termasuk dalam kategori anak yang pintar, dan sedikit demi sedikit mulai diketahui bakatnya, dia mulai senang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti tata kecantikan, menjahit, melukis. Di sisa waktunya Ibu Sakinah masih memasukkan Salma pada sekolah modeling yang ada di kota itu juga.

    Kini, Salma tumbuh menjadi gadis yang sempurna dari segala sisi kehidupannya. Sekarang dia kuliah di sebuah universitas dengan mengambil program studi modeling. Sesuai berita di koran ini, ia baru saja mengikuti lomba modeling di tingkat nasional, dan ia berhasil mendapat juara dua. Sungguh sebuah prestasi yang membanggakan, seorang gadis tunarungu yang sukses  merajut asa dalam keterbatasannya. Aku jadi ingat diriku, mengapa hidupku tak seindah Salma? Salma banyak mengalami ketidakberuntungan namun Salma mampu meraih kehidupan yang layak bahkan melebihi manusia normal. Aku adalah manusia normal yang terpuruk oleh keadaan yang kejam, walaupun sebenarnya aku tumbuh dari keluarga yang harmonis. Salma telah menginspirasiku untuk berjuang melawan segala keterpurukanku, walau di ujung-ujung keberanianku masih diuji mampukah menghadapi seorang Mas Radit? Bila ingat ini, bongkahan batu hitam yang besar seperti menghimpit dadaku hingga kurasakan sesak di rongga-rongga pernafasanku.

Kembali aku membaca artikel Salma, selain menjadi seorang model ternyata dia juga menjadi perancang busana, termasuk busana yang dikenakan ketika lomba itu, dia merancangnya sendiri. Kutatap dalam-dalam foto Salma, baju itu demikian bagus, sangat berkelas, pas sekali dengan kulitnya yang kuning langsat. Masih ada lagi, Salma juga pandai melukis. Sungguh sebuah kesempurnaan yang dimiliki Salma, tiada henti aku mengaguminya. Belum selesai aku membacanya, Lani sudah muncul dengan dua gelas teh hangat.

“Mbak Kina mau teh?” tanyanya sambil menunjukkan teh yang dibawanya.

“Tumben kamu nawari teh,” komentarku, karena tidak biasanya ia membawakan teh ke ruang siar.

“Hari ini spesial Mbak,” jawabnya, sambil meletakkan nampan di meja depanku.

“Memang kamu alih profesi?” gurauku sambil membuka tutup gelas berisi teh, Lani malah tertawa.

        “Masak gitu mbak, Pak Taib tidak masuk, kabarnya anaknya masuk rumah sakit,” aku terkejut dengan kalimat ini, Pak Taib pesuruh di radio ini. Aku sangat mengenalnya dengan baik. Dia seusia bapakku, namun masih harus bekerja untuk menghidupi anggota keluarganya yang tidak sedikit. Tidak jarang gajiku yang tidak seberapa aku sisihkan sebagian kecil untuk beliau.

“Sakit apa? Di rumah sakit mana?” tanyaku ingin segera mengetahui.

“Demam berdarah, di puskesmas,” jawabnya sambil mengintip koran yang kubaca.

“Ada berita apa Mbak?” tanyanya.

“Ini, beritanya Salma tunangan Mas Yosi,” jawabku sambil menunjukkan foto Salma.

“Gak cemburu nih..,” Lani menggodaku. Aku menggeleng pelan, tiba-tiba ada keraguan yang menyelinap di rongga dadaku. Mungkinkah ini cemburu? Bukan pekikku dalam hati.

“Ya enggaklah,” netralisirku untuk menghindari Lani berpikir macam-macam.

“Bener nih,” jawab Lani memastikan jawabanku.

“Bener! Suer!” jawabku lagi, kutunjukkan ibu jariku.

“Mudah-mudahan Mas Yosi benar-benar menyayangi Salma ya Mbak, kalau tidak kan kasihan gadis itu,” sambungnya, menyangsikan ketulusan hati mas Yosi.
 

“Memang kenapa?” kejarku tentang prasangka buruknya.

“Ya, kan dulunya mas Yosi menyimpan hati untuk Mbak Kina, lalu dia patah hati melihat Mbak Kina dekat dengan Mas Radit, sebentar kemudian bertunangan dengan Salma, kan..,” jelasnya lagi.

“Sudahlah jangan berprasangka buruk dengan Mas Yosi, setahuku Mas Yosi benar-benar tulus terhadap Salma,” sergahku. Aku tidak ingin Lani terus berprasangka buruk.

“Ya Mbak Kina tidak tahu curahan hati Mas Yosi sih, betapa sakitnya hati Mas Yosi waktu itu, coba kalau Mbak Kina baca di laptopnya, pasti Mbak Kina mengiyakan prasangkaku ini,” ia masih membantah namun harus kutinggalkan ke ruang siar karena acara sepak bola sudah selesai. 

Aku mulai memandu acara musik siang itu, banyak pendengar yang mengirim sms untuk sekedar memesan lagu atau mengirim salam. Satu per satu kubacakan permintaan mereka. Hingga tiba-tiba kudapati nama Arvel Anantara yang mengirim pesan untuk Rena Antari bahwa sore ini ditunggu kedatangannya di vila Bugenvill Indah. Kalimat ini mengalir begitu saja dari mulutku, namun setelah itu langsung aku mengalihkan dengan beberapa lagu. Karena degup kencang di jantungku telah menyesakkan dada, dan suaraku pun hilang beberapa saat. Sebotol aqua yang berada di ruang siar telah berpindah ke perutku, namun getar di dadaku masih saja mendera.

Hingga tiba-tiba kudapati nama Arvel Anantara yang mengirim pesan untuk Rena Antari bahwa sore ini ditunggu kedatangannya di vila bugenvill Indah.

Lanjut episode 10 Terpuruk di Balik Dendam

Kataku.

Jangan memaksa untuk bertahan, bila keadaan tak menginginkanmu. Jangan biarkan hatimu terbelenggu. Keluar darinya dan menata kembali hidupmu. Itu lebih bijak.

Jumat, 10 September 2021

Epis 8 Cinta Tak Terkata

Epis 8 Cinta Tak Terkata 


Di sela-sela padatnya acara, aku sempat mengenal seorang perempuan seusia Rena, Ambar namanya. Dia seorang gadis yang ceria dan ramah. Mungkin hadirnya juga yang membuatku sejenak tak merasa sepi meski tanpa sms Rena. 

    Sekitar satu bulan lebih kami di rumah kakak. Kini saatnya kami harus kembali ke desa. Sebenarnya aku enggan untuk turut, namun melihat bapak dan ibu yang sudah tua akhirnya aku pulang juga. Sekitar Subuh kami sampai di rumah, Pak Jon yang menunggu rumah mungkin sedang nyenyak tidurnya sehingga tidak mendengar panggilan kami. Baru setelah sekitar setengah jam kami menunggu akhirnya pak Jon membukakan pintu. Pagi itu, usai sholat Subuh ibu langsung mengecek bunga-bunga di depan rumah, sedang bapak melihat-lihat kebun pisang di belakang rumah. Aku langsung merapikan kasurku untuk tidur, karena selama di perjalanan tidak sekejap pun mata ini terpejam. Jam delapan tepat aku terbangun, samar-samar kudengar ada tamu di depan. Kubangkit lalu mandi. Selesai mandi kusempatkan untuk solat Duha, mungkin karena sudah terbiasa melakukan selama di rumah kakak, sehingga belum lengkap rasanya bila tidak melakukannya sekai saja. Ibu mengetuk pintu kamarku dan masuk ketika aku baru selesai sholat.

“Ada Mas Yosi,” kata ibu, sambil duduk di kasur yang belum kurapikan.

“Ada apa ya Bu?” jawabku penasaran. Sebenarnya aku belum ingin bertemu dengan siapa pun.

“Katanya sih disuruh Pak haji,” jawab ibu lagi. Pak haji yang dimaksud ibu adalah Direktur Radio Suara Desaku tempat aku bekerja dulu.

“Ya baiknya segera ditemui, sudah menunggu dari tadi,” sambung ibu lagi. Aku ragu, takut jangan-jangan pak Haji mendengar tentang aibku. Gemetar seluruh badanku, keringat dingin keluar.

“Kamu kenapa?” tanya ibu saat mngetahui keadaanku.
            “Entahlah, kepalaku pusing,” jawabku berbohong. Kuambil air dalam botol sisa semalam dan kuminum. Kudiam beberapa saat. Setelah kondisi membaik aku mencoba ke
luar dari kamar.

“Assalammualaikum…,” sapaku pada Mas Yosi yang sedang berbicara dengan bapak.

“Waalaikumsalam…,” jawab Mas Yosi.

“Wah sudah sehat ni,” sambungnya, sambil kami bersalaman.

“Dingin sekali tanganmu, masih sakit?” tanya mas Yosi lagi. Aku hanya menggeleng dan tersenyum. Lalu duduk didampingi ibu.

“Begini bapak, ibu, dan Kina, saya ke sini di utus Pak haji untuk mengajak Kina siaran lagi kalau memang sudah sehat. Kemarin memang ada beberapa orang yang melamar, namun pak Haji sepertinya belum berkenan.” kata Mas Yosi menjelaskan kedatangannya. Hal ini membuatku sedikit lega.

“Kalau kami setuju-setuju saja Sasi kembali bekerja, tapi ya kembali lagi pada Sasi bagaimana.” kata Bapak sangat bijak. Sasi adalah nama panggilanku dari bapak dan ibu. Sedang teman-teman di sekolah memanggilku Kina, karena untuk memanggil Kirana mereka malas, katanya lebih simpel Kina.

“Iya Nak Yosi, bapak ibu terserah Sasi saja, kalau sudah sehat silakan, tapi kalau belum sehat ya bagaimana lagi?” jawab ibu.

“Barusan saja mau keluar dari kamar badannya gemetar, mengeluarkan keringat dingin,” tambah ibu lagi.

“Iya mas, saya senang masih dibutuhkan, tapi kalau boleh saya minta waktu beberapa hari lagi untuk bisa menjawabnya,” jawabku tidak berani langsung memberikan jawaban yang pasti.

“Oh iya tidak apa-apa, paling tidak kalau memang kamu bersedia kan masih bulan depan,” jawab mas Yosi lagi. Aku jadi lega aku masih punya waktu, setidaknya untuk menyiapkan hati dan jiwaku yang porak poranda. Akhirnya Mas Yosi pun pulang.

Awal aku bekerja dulu, Mas Yosilah yang selalu membantuku memperkenalkan beberapa peralatan di ruang siaran. Dia seorang kepala difisi penyiaran, jadi sudah terbiasa melatih pegawai/penyiar baru. Dulu, teman-teman sempat mengira bahwa aku berpacaran dengan mas Yosi karena kedekatan kami. Dan memang sempat kurasakan ada rona-rona lembut beraroma cinta dan kasih yang menghiasi wajah Mas Yosi saat kami bersama, namun hanya sebatas itu dan  sejauh ini di antara kami tidak pernah terikrar apa pun. Mas Yosi sangat pandai menjaga hati dan sikap, dia sangat tertutup.

Lani pernah bercerita, dia sempat melihat ada fotoku di laptopnya dalam bingkai yang cantik sekali. Tidak mungkin kalau tidak ada apa-apanya mengabadikan fotoku seperti itu. Dan dia juga sempat membuka puisi-puisi Mas Yosi di komputer penyiaran ketika suatu hari Mas Yosi

 tidak masuk kerja dia disuruh melihatkan jadwal acara-acara on air dalam minggu tersebut. Diam-diam dia sempatkan ngeprint puisi tersebut dan diberikannya padaku.

“Tatap matanya menerawang jauh, mengikuti sejauhmana merpati itu terbang, terus dan terus diikuti, dia ingin ketika merpati itu lelah, dialah yang akan mendekapnya, merapikan dan mengelus mesra bila sayap-sayapnya ada yang terluka atau patah. Dia terus menunggu merpati itu. Namun hingga hari ini,

Dia masih terdiam dan termangu dalam tatapan kosongnya.

Dia lemah, tak mampu untuk menyampaikan maksud di hatinya.

Dan kini, merpati itu tak kunjung lelah atau pun terjatuh dalam dekapannya. Merpati itu telah hinggap dengan manisnya di sebuah sangkar emas, Merpati itu tampak bahagia dan takkan pernah ke luar dari sangkar itu. Ia pun pasrah dan terkulai lemah dalam bayang impiannya. Tak mungkin lagi  ia berharap tuk mendekap merpati itu, Tak mungkin lagi menaburkan benih-benih keindahan itu, Selamat jalan merpatiku, pujaanku,

Selamat jalan cintaku yang terdiam dalam kelamnya ketidakberdayaan

Selamat jalan Sasi Kirana. Semoga bahagia bersama pujaan hatimu. Kukan mencoba hidup tanpa bayang-bayangmu lagi

Karna kutahu engkau tak mungkin kurengkuh dalam jambangan hatiku Yang selama ini kuhias indah hanya untukmu

Namun, belum selesai aku merapikannya

Engkau telah memiliki jambangan yang lebih indah dan lebih pantas untukmu. Hingga tak mungkin lagi kutawarkan jambanganku. ” Yosi Yudanta.

 

Aku tak menyangka Mas Yosi menyimpan perasaan itu terhadapku, memang aku sempat menangkap sinyal itu darinya, tapi sejauh ini dia tidak mengatakan apa pun terhadapku. Mungkin waktu itu dia masih ingin menyelami siapa diriku, dan di saat dia masih sibuk mengumpulkan data tentang diriku, Mas Radit dengan seribu pesonanya telah mengikatku dalam jalinan asmaranya yang kusambut dengan juta bahagia. Kuminta pada Lani untuk merahasiakan semua ini dari teman-teman, aku merasa tidak sampai hati bila Mas Yosi yang pendiam itu harus menerima ejekan dari teman-teman. Dan aku pun berlaku seperti tidak pernah mengetahui perasaan Mas Yosi.  

***

Jika seseorang demikian meluap amarahnya terhadap kesalahan kecil yang Anda lakukan. Coba introspeksi, mungkin dia sudah terlalu lelah dengan kesalahan-kesalahan (yang Anda anggap kecil) yang seringkali Anda lakukan. Jujurlah pada hati Anda. Jika iya segera akui. Bijaklah dalam bertindak, jangan malah membuat statemen yang justru mengundang sengketa. [Menebar Asa]