Jumat, 10 September 2021

Epis 8 Cinta Tak Terkata

Epis 8 Cinta Tak Terkata 


Di sela-sela padatnya acara, aku sempat mengenal seorang perempuan seusia Rena, Ambar namanya. Dia seorang gadis yang ceria dan ramah. Mungkin hadirnya juga yang membuatku sejenak tak merasa sepi meski tanpa sms Rena. 

    Sekitar satu bulan lebih kami di rumah kakak. Kini saatnya kami harus kembali ke desa. Sebenarnya aku enggan untuk turut, namun melihat bapak dan ibu yang sudah tua akhirnya aku pulang juga. Sekitar Subuh kami sampai di rumah, Pak Jon yang menunggu rumah mungkin sedang nyenyak tidurnya sehingga tidak mendengar panggilan kami. Baru setelah sekitar setengah jam kami menunggu akhirnya pak Jon membukakan pintu. Pagi itu, usai sholat Subuh ibu langsung mengecek bunga-bunga di depan rumah, sedang bapak melihat-lihat kebun pisang di belakang rumah. Aku langsung merapikan kasurku untuk tidur, karena selama di perjalanan tidak sekejap pun mata ini terpejam. Jam delapan tepat aku terbangun, samar-samar kudengar ada tamu di depan. Kubangkit lalu mandi. Selesai mandi kusempatkan untuk solat Duha, mungkin karena sudah terbiasa melakukan selama di rumah kakak, sehingga belum lengkap rasanya bila tidak melakukannya sekai saja. Ibu mengetuk pintu kamarku dan masuk ketika aku baru selesai sholat.

“Ada Mas Yosi,” kata ibu, sambil duduk di kasur yang belum kurapikan.

“Ada apa ya Bu?” jawabku penasaran. Sebenarnya aku belum ingin bertemu dengan siapa pun.

“Katanya sih disuruh Pak haji,” jawab ibu lagi. Pak haji yang dimaksud ibu adalah Direktur Radio Suara Desaku tempat aku bekerja dulu.

“Ya baiknya segera ditemui, sudah menunggu dari tadi,” sambung ibu lagi. Aku ragu, takut jangan-jangan pak Haji mendengar tentang aibku. Gemetar seluruh badanku, keringat dingin keluar.

“Kamu kenapa?” tanya ibu saat mngetahui keadaanku.
            “Entahlah, kepalaku pusing,” jawabku berbohong. Kuambil air dalam botol sisa semalam dan kuminum. Kudiam beberapa saat. Setelah kondisi membaik aku mencoba ke
luar dari kamar.

“Assalammualaikum…,” sapaku pada Mas Yosi yang sedang berbicara dengan bapak.

“Waalaikumsalam…,” jawab Mas Yosi.

“Wah sudah sehat ni,” sambungnya, sambil kami bersalaman.

“Dingin sekali tanganmu, masih sakit?” tanya mas Yosi lagi. Aku hanya menggeleng dan tersenyum. Lalu duduk didampingi ibu.

“Begini bapak, ibu, dan Kina, saya ke sini di utus Pak haji untuk mengajak Kina siaran lagi kalau memang sudah sehat. Kemarin memang ada beberapa orang yang melamar, namun pak Haji sepertinya belum berkenan.” kata Mas Yosi menjelaskan kedatangannya. Hal ini membuatku sedikit lega.

“Kalau kami setuju-setuju saja Sasi kembali bekerja, tapi ya kembali lagi pada Sasi bagaimana.” kata Bapak sangat bijak. Sasi adalah nama panggilanku dari bapak dan ibu. Sedang teman-teman di sekolah memanggilku Kina, karena untuk memanggil Kirana mereka malas, katanya lebih simpel Kina.

“Iya Nak Yosi, bapak ibu terserah Sasi saja, kalau sudah sehat silakan, tapi kalau belum sehat ya bagaimana lagi?” jawab ibu.

“Barusan saja mau keluar dari kamar badannya gemetar, mengeluarkan keringat dingin,” tambah ibu lagi.

“Iya mas, saya senang masih dibutuhkan, tapi kalau boleh saya minta waktu beberapa hari lagi untuk bisa menjawabnya,” jawabku tidak berani langsung memberikan jawaban yang pasti.

“Oh iya tidak apa-apa, paling tidak kalau memang kamu bersedia kan masih bulan depan,” jawab mas Yosi lagi. Aku jadi lega aku masih punya waktu, setidaknya untuk menyiapkan hati dan jiwaku yang porak poranda. Akhirnya Mas Yosi pun pulang.

Awal aku bekerja dulu, Mas Yosilah yang selalu membantuku memperkenalkan beberapa peralatan di ruang siaran. Dia seorang kepala difisi penyiaran, jadi sudah terbiasa melatih pegawai/penyiar baru. Dulu, teman-teman sempat mengira bahwa aku berpacaran dengan mas Yosi karena kedekatan kami. Dan memang sempat kurasakan ada rona-rona lembut beraroma cinta dan kasih yang menghiasi wajah Mas Yosi saat kami bersama, namun hanya sebatas itu dan  sejauh ini di antara kami tidak pernah terikrar apa pun. Mas Yosi sangat pandai menjaga hati dan sikap, dia sangat tertutup.

Lani pernah bercerita, dia sempat melihat ada fotoku di laptopnya dalam bingkai yang cantik sekali. Tidak mungkin kalau tidak ada apa-apanya mengabadikan fotoku seperti itu. Dan dia juga sempat membuka puisi-puisi Mas Yosi di komputer penyiaran ketika suatu hari Mas Yosi

 tidak masuk kerja dia disuruh melihatkan jadwal acara-acara on air dalam minggu tersebut. Diam-diam dia sempatkan ngeprint puisi tersebut dan diberikannya padaku.

“Tatap matanya menerawang jauh, mengikuti sejauhmana merpati itu terbang, terus dan terus diikuti, dia ingin ketika merpati itu lelah, dialah yang akan mendekapnya, merapikan dan mengelus mesra bila sayap-sayapnya ada yang terluka atau patah. Dia terus menunggu merpati itu. Namun hingga hari ini,

Dia masih terdiam dan termangu dalam tatapan kosongnya.

Dia lemah, tak mampu untuk menyampaikan maksud di hatinya.

Dan kini, merpati itu tak kunjung lelah atau pun terjatuh dalam dekapannya. Merpati itu telah hinggap dengan manisnya di sebuah sangkar emas, Merpati itu tampak bahagia dan takkan pernah ke luar dari sangkar itu. Ia pun pasrah dan terkulai lemah dalam bayang impiannya. Tak mungkin lagi  ia berharap tuk mendekap merpati itu, Tak mungkin lagi menaburkan benih-benih keindahan itu, Selamat jalan merpatiku, pujaanku,

Selamat jalan cintaku yang terdiam dalam kelamnya ketidakberdayaan

Selamat jalan Sasi Kirana. Semoga bahagia bersama pujaan hatimu. Kukan mencoba hidup tanpa bayang-bayangmu lagi

Karna kutahu engkau tak mungkin kurengkuh dalam jambangan hatiku Yang selama ini kuhias indah hanya untukmu

Namun, belum selesai aku merapikannya

Engkau telah memiliki jambangan yang lebih indah dan lebih pantas untukmu. Hingga tak mungkin lagi kutawarkan jambanganku. ” Yosi Yudanta.

 

Aku tak menyangka Mas Yosi menyimpan perasaan itu terhadapku, memang aku sempat menangkap sinyal itu darinya, tapi sejauh ini dia tidak mengatakan apa pun terhadapku. Mungkin waktu itu dia masih ingin menyelami siapa diriku, dan di saat dia masih sibuk mengumpulkan data tentang diriku, Mas Radit dengan seribu pesonanya telah mengikatku dalam jalinan asmaranya yang kusambut dengan juta bahagia. Kuminta pada Lani untuk merahasiakan semua ini dari teman-teman, aku merasa tidak sampai hati bila Mas Yosi yang pendiam itu harus menerima ejekan dari teman-teman. Dan aku pun berlaku seperti tidak pernah mengetahui perasaan Mas Yosi.  

***

Jika seseorang demikian meluap amarahnya terhadap kesalahan kecil yang Anda lakukan. Coba introspeksi, mungkin dia sudah terlalu lelah dengan kesalahan-kesalahan (yang Anda anggap kecil) yang seringkali Anda lakukan. Jujurlah pada hati Anda. Jika iya segera akui. Bijaklah dalam bertindak, jangan malah membuat statemen yang justru mengundang sengketa. [Menebar Asa]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar