“Ada Mas Yosi,” kata ibu, sambil duduk di kasur yang
belum kurapikan.
“Ada apa ya Bu?” jawabku penasaran. Sebenarnya aku
belum ingin bertemu dengan siapa pun.
“Katanya sih disuruh Pak haji,” jawab ibu lagi. Pak haji yang dimaksud ibu adalah Direktur Radio Suara Desaku tempat aku bekerja dulu.
“Ya baiknya segera ditemui, sudah menunggu dari
tadi,” sambung ibu lagi. Aku ragu, takut jangan-jangan pak Haji mendengar
tentang aibku. Gemetar seluruh badanku, keringat dingin keluar.
“Kamu kenapa?” tanya ibu saat mngetahui keadaanku.
“Entahlah, kepalaku pusing,” jawabku
berbohong. Kuambil air dalam botol sisa semalam dan kuminum. Kudiam beberapa
saat. Setelah kondisi membaik aku mencoba ke luar dari kamar.
“Assalammualaikum…,” sapaku pada Mas Yosi yang
sedang berbicara dengan bapak.
“Waalaikumsalam…,” jawab Mas Yosi.
“Wah sudah sehat ni,” sambungnya, sambil kami
bersalaman.
“Dingin sekali tanganmu, masih sakit?” tanya mas
Yosi lagi. Aku hanya menggeleng dan tersenyum. Lalu duduk didampingi ibu.
“Begini bapak, ibu, dan Kina, saya ke sini di utus Pak
haji untuk mengajak Kina siaran lagi kalau memang sudah sehat. Kemarin memang
ada beberapa orang yang melamar, namun pak Haji sepertinya belum berkenan.” kata
Mas Yosi menjelaskan kedatangannya. Hal ini membuatku sedikit lega.
“Kalau kami setuju-setuju saja Sasi kembali bekerja, tapi ya kembali lagi pada Sasi bagaimana.” kata Bapak sangat bijak. Sasi adalah nama panggilanku dari bapak dan ibu. Sedang teman-teman di sekolah memanggilku Kina, karena untuk memanggil Kirana mereka malas, katanya lebih simpel Kina.
“Iya Nak Yosi, bapak ibu terserah Sasi saja, kalau
sudah sehat silakan, tapi kalau belum sehat ya bagaimana lagi?” jawab ibu.
“Barusan saja mau keluar dari kamar badannya
gemetar, mengeluarkan keringat dingin,” tambah ibu lagi.
“Iya mas, saya senang masih dibutuhkan, tapi kalau
boleh saya minta waktu beberapa hari lagi untuk bisa menjawabnya,” jawabku
tidak berani langsung memberikan jawaban yang pasti.
“Oh iya tidak apa-apa, paling tidak kalau memang
kamu bersedia kan masih bulan depan,” jawab mas Yosi lagi. Aku jadi lega aku
masih punya waktu, setidaknya untuk menyiapkan hati dan jiwaku yang porak
poranda. Akhirnya Mas Yosi pun pulang.
Awal aku bekerja dulu, Mas Yosilah yang selalu
membantuku memperkenalkan beberapa peralatan di ruang siaran. Dia seorang
kepala difisi penyiaran, jadi sudah terbiasa melatih pegawai/penyiar baru. Dulu,
teman-teman sempat mengira bahwa aku berpacaran dengan mas Yosi karena
kedekatan kami. Dan memang sempat kurasakan ada rona-rona lembut beraroma cinta
dan kasih yang menghiasi wajah Mas Yosi saat kami bersama, namun hanya sebatas
itu dan sejauh ini di antara kami tidak
pernah terikrar apa pun. Mas Yosi sangat pandai menjaga hati dan sikap, dia
sangat tertutup.
Lani pernah bercerita, dia sempat melihat ada fotoku di laptopnya dalam bingkai yang cantik sekali. Tidak mungkin kalau tidak ada apa-apanya mengabadikan fotoku seperti itu. Dan dia juga sempat membuka puisi-puisi Mas Yosi di komputer penyiaran ketika suatu hari Mas Yosi
“Tatap matanya
menerawang jauh, mengikuti sejauhmana merpati itu terbang, terus dan terus
diikuti, dia ingin ketika merpati itu lelah, dialah yang akan mendekapnya,
merapikan dan mengelus mesra bila sayap-sayapnya ada yang terluka atau patah.
Dia terus menunggu merpati itu. Namun hingga hari ini,
Dia masih terdiam dan
termangu dalam tatapan kosongnya.
Dia lemah, tak mampu
untuk menyampaikan maksud di hatinya.
Dan kini, merpati itu
tak kunjung lelah atau pun terjatuh dalam dekapannya. Merpati itu telah hinggap
dengan manisnya di sebuah sangkar emas, Merpati itu tampak bahagia dan takkan
pernah ke luar
dari sangkar itu. Ia pun pasrah dan terkulai lemah dalam bayang impiannya. Tak
mungkin lagi ia berharap tuk mendekap
merpati itu, Tak mungkin lagi menaburkan benih-benih keindahan itu, Selamat
jalan merpatiku, pujaanku,
Selamat jalan cintaku
yang terdiam dalam kelamnya ketidakberdayaan
Selamat jalan Sasi Kirana. Semoga bahagia bersama
pujaan hatimu. Kukan mencoba hidup tanpa bayang-bayangmu lagi
Karna kutahu engkau tak
mungkin kurengkuh dalam jambangan hatiku Yang selama ini kuhias indah hanya untukmu
Namun, belum selesai
aku merapikannya
Engkau telah memiliki
jambangan yang lebih indah dan lebih pantas untukmu. Hingga tak mungkin lagi
kutawarkan jambanganku. ” Yosi Yudanta.
Aku tak
menyangka Mas Yosi menyimpan perasaan itu terhadapku, memang aku sempat
menangkap sinyal itu darinya, tapi sejauh ini dia tidak mengatakan apa pun
terhadapku. Mungkin waktu itu dia masih ingin menyelami siapa diriku, dan di
saat dia masih sibuk mengumpulkan data tentang diriku, Mas Radit dengan seribu
pesonanya telah mengikatku dalam jalinan asmaranya yang kusambut dengan juta
bahagia. Kuminta pada Lani untuk merahasiakan semua ini dari teman-teman, aku
merasa tidak sampai hati bila Mas Yosi yang pendiam itu harus menerima ejekan
dari teman-teman. Dan aku pun berlaku seperti tidak pernah mengetahui perasaan
Mas Yosi.
***
Jika seseorang demikian meluap amarahnya terhadap kesalahan kecil yang Anda lakukan. Coba introspeksi, mungkin dia sudah terlalu lelah dengan kesalahan-kesalahan (yang Anda anggap kecil) yang seringkali Anda lakukan. Jujurlah pada hati Anda. Jika iya segera akui. Bijaklah dalam bertindak, jangan malah membuat statemen yang justru mengundang sengketa. [Menebar Asa]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar