Kamis, 07 Oktober 2021

Epis 10 Terpuruk di Balik Dendam

 

 Sekilas episode 9

Hingga tiba-tiba kudapati nama Arvel Anantara yang mengirim pesan untuk Rena Antari bahwa sore ini ditunggu kedatangannya di vila bugenvill Indah.


Terpuruk di Balik Dendam

Sesuai rencanaku semalam, sore ini sepulang dari radio aku menuju rumah Mas Radit. Hari ini adalah hari pertamaku membawa sepeda motor sendiri, aku tidak ingin melibatkan bapak dalam masalahku. Suasana sunyi ketika aku sampai di depan rumahnya yang sebenarnya sangat kurindukan. Kukumpulkan segala keberanianku untuk menghadapi Mas Radit. Kubunyikan bel, tak lama ada orang yang membuka pintu. Ternyata ibu.

“Nak Rena!” ibu kelihatan kaget sekali.

“Mas Radit ada, Bu?” tanyaku tanpa memberikan salam terlebih dulu.

“Ada, ayo masuk dulu,” ajak ibu. Kuulurkan tanganku sebagai hormatku pada ibu. Aku duduk di kursi dengan lemah. Lidahku serasa terkunci. Tak lama Mas Radit muncul dengan wajah kuyu baru bangun tidur. Aku hanya diam beberapa saat. Tak tahu harus memulai dari sudut mana untuk keputusanku yang tanpa alasan.

“Mengapa tidak memberi kabar, hp non-aktif!” tiba-tiba Mas Radit mengawali dengan menunjukkan kesalahanku. Aku hanya menunduk mencoba menguasai diri.

"Aku ingin kita putus!” bukan jawaban atas pertanyaan Mas Radit tapi keputusan yang tidak bisa ditawar lagi. Mas Radit tampak kaget dengan keputusan ini.

“Tidak! Apa salahku? Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba minta putus!” tolaknya dengan nada marah. Aku hanya terdiam menahan butiran permata bening yang kian menggantung.

“Ayo katakan! Sekian lama tidak ada kabar tiba-tiba…!” kata-katanya semakin keras, hingga ibu keluar dan memanggilnya.

“Radit! Jangan keras-keras kenapa!” kata ibu mendekatiku. Butiran permataku tak terbendung lagi. Aku menangis tanpa bisa kutahan-tahan lagi.

“Ada apa Nak? Apa Radit sudah berbuat salah?” tanya ibu penuh bijaksana. Aku menggeleng.

“Tidak Ibu, Mas Radit tidak bersalah apapun, Rena yang salah, Rena tidak pantas hidup berdampingan dengan Mas Radit,” sanggahku dengan suara tangis semakin keras karena terbayang pula wajah Afdal bedebah itu. Aku menahan diri sekuat daya untuk menyimpan nama itu agar tidak keluar dari mulutku.

“Mana mungkin kalau tanpa sebab, kau memutuskan semua ini,” ujar Mas Radit seperti telah hilang simpatinya terhadapku. Ia benar-benar kecewa. Tangannya mencengkeram dengan kerasnya hingga wajahnya memerah. Aku takut sekali.

“Sudahlah Radit! Hargai Nak Rena, mungkin belum bisa mengatakannya sekarang, mungkin lain hari,” ibunya menengahi, takut anaknya tidak bisa menguasai diri.

“Baiknya Nak Rena pulang dulu, kami tunggu jawaban Nak Rena,” aku sedikit lega. Ibu bijaksana sekali. Aku pun berdiri. Kuraih tangannya, kucium pipinya.

“Maafkan saya Bu,” kataku mengakhiri pertemuan itu dengan bersimbah air mata. Ibu hanya mengangguk dan mengusap kepalaku. Langkahku berat sekali meninggalkan rumah itu. Maafkan aku ibu telah menghancurkan harapanmu dan anakmu. Harapku dari kedalaman hatiku.

Mungkin ini kehadiranku yang terakhir kali di vila Bougenvill, aku harus meretas segala asa yang selama ini menghiasi hari-hariku dengan indah. Aku harus menghapusnya, meski terasa berlawanan dengan inginku. Aku harus berlalu dan terus berlalu tanpa berusaha menoleh lagi. Karena dengan menoleh akan berarti mengukir luka lebih dalam lagi di hatiku. Aku harus tega, aku harus berani mengambil langkah ini untuk menutup sebuah aib yang telah terjadi di diriku.

Aktivitasku sebagai penyiar mulai menyita sebagian besar waktuku. Awalnya hanya untuk mengalihkan kekalutanku, tapi lama kelamaan aku keasyikan. Kadang ibu protes dengan keadaan ini. Ibu juga mulai menanyakan ke mana Mas Radit. Aku jawab saja sudah putus. Sementara akhir-akhir ini aku mulai sering melihat Afdal jalan dengan seorang perempuan. Terakhir kemarin ketika aku menjadi MC di pernikahan adiknya Mbak Mitha istrinya Mas Hendra. Timbul niatku untuk menghancurkannya. Sementara, suara Mas Radit tak bisa kudengar lagi dari radio, dengar kabar burung dia telah pindah ke kota Surabaya.

Sore itu, aku menjadi MC di acara pembukaan pameran yang diadakan Himpunan Pengusaha Muda di kota. Kembali aku melihat Afdal bedebah itu. Kali ini tidak terampuni, niatku akan menghancurkan hidupnya. Kusapa dia dengan ramah sebagai tuan dan nyonya melalui microfon ketika ia baru masuk di acara tersebut. Ia pun mencari sumber suaraku. Sejenak ia tampak terkejut melihatku, kutampakkan senyum ramahku. Seolah tanpa ada rasa sakit hati yang kurasakan. Segala cara kulakukan untuk dapat menarik perhatiannya, dan aku pun sukses mendapat nomor hpnya dari seseorang.

Pagi itu, sekitar jam delapan ada telepon masuk ke hp tanpa nama.

“Halo,” sapaku.

“Halo, benar dengan Kina?” tanya seseorang tapi aku seperti mengenalnya.

“Iya, dengan siapa ini?” tanyaku untuk memastikan.

“Aku Afdal,” jawabnya. Oow… seruku dalam hati. Tidak usah repot-repot mencari malah datang sendiri. Aku sekarang siap memangsamu. Pikirku.

“Oya? Masih ingat to dengan Kina,” jawabku dengan sedikit manja.

“Aku ingin ketemu,” katanya lagi. Kusambut dengan gembira di sisi otak nakalku, tapi tetap saja aku merasa jijik di ujung nuraniku.

“Ok kapan?” kataku, seperti merentang masalah.

You pulang jam berapa?” lanjutnya.

“Jam 18.00. di mana?” putusku. Aku merasa terlalu lama di telepon.

“Di Sumber Nikmat,” jawabnya.

“Ok.,” langsung kumatikan ponselku.

Aneh, aku sedemikian ingin bertemu dengannya, aku ingin benar-benar menghancurkannya. Seperti halnya kehancuran hidupku karenanya. Usai siaran dan sholat Maghrib di kantor aku langsung menuju tempat yang dijanjikan. Sesampai di sana ia sudah menungguku. Aku memesan jus alpukat dan nasi goreng spesial. Ia menanyakan kabarku dan ke mana pasca kejadian itu, ia mencari ke mana-mana tidak menemukanku. Demi kesuksesan misiku aku mencoba bersikap semanis mungkin. Demikian hingga pertemuan itu berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya.

Pertemuan kali itu entah pertemuan ke berapa, aku sudah tak mengingatnya. Ketika asyik makan, Afdal pamit ke belakang. Hand phonenya berbunyi, tertulis nama Arni. Aku angkat saja.

“Halo!” sapaku.

“Halo! Siapa ini?” suaranya seperti terkejut.

“Aku Kina, pacar Mas Afdal!” jawabku dengan tegas.

“Heh! Siapa kau, mana Mas Afdal!” gertaknya.

“Mas Afdal sedang tidur!” jawabku lalu kumatikan hand phone itu. Di ujung nuraniku ada rasa kasihan terhadap gadis itu. Tapi itulah yang kurasakan dulu. Ini baru babak pendahuluan. Seru otak kotorku.

Beberapa hari ini Afdal tak menghubungiku, mungkin tahu kelancanganku telah mengangkat telepon gadisnya. Aku harus berbuat sesuatu. Aku telepon, aku meminta segera dinikahi, kalau tidak aku akan mengatakan pada gadis itu tentang semua yang pernah terjadi padaku. Dia sangat panik. Berharap supaya aku sabar untuk beberapa waktu. Ok. Kukasih waktu satu minggu untuk menyelesaikan masalahnya dengan gadis itu.

 Selama satu minggu aku diam. Menunggu. Dan betul, dia menepati janjinya datang ke rumah untuk bertemu bapak dan ibu dengan sebuah cincin permata sebagai tanda melamarku. Awalnya bapak menolak, datang tanpa memberitahu terlebih dahulu, tahu-tahu melamar, kayak orang membeli ikan di pasar saja. Namun aku berhasil merayu ibu untuk merestui sehingga ibu pun meyakinkan bapak supaya menerima Afdal tentunya dengan berbagai persyaratan dari bapak. Walaupun sebenarnya tujuan pernikahanku dengan Afdal hanyalah untuk menghilangkan status gadisku di KTP. Lain tidak.

 Akhirnya aku menikah dengan Afdal, meski aku tidak tahu apa yang akan kulakukan dengan pernikahan ini. Tepat di hari itu Mas Radit SMS “Inikah jawaban atas penantianku dan ibu selama ini?’ Trims. Radit dan Ibu. Subhanaullah, ternyata Mas Radit masih menunggu jawabanku. Meski tak kutahu keberadaannya. Di lain hari nomor itu aku telepon tidak aktif. Tanpa kusadari, aku telah sanggup menjadi seorang yang kejam bagi Mas Radit dan ibu. Aku telah mencampakkan mereka begitu saja tanpa setitik kejelasan alasan yang bisa menuntun mereka untuk ikhlas menerima keputusanku. Langkahku benar-benar egois, hanya demi kepentinganku sendiri.

Sebulan berlalu, tabiat Afdal mulai tampak. Tiap hari bapak selalu membicarakannya. Tidak jarang marah-marah dengan ibu. Nyinyir hatiku. Niatku akan segera meminta cerai, namun belum sempat terjadi, aku malah mendapat tamparan yang sangat dahsyat. Aku turut menjadi tersangka dalam kasus penggelapan uang yang dilakukannya karena dia mentransfer uang tersebut ke nomor rekeningku. Meski aku tidak tahu ia telah mentransfernya, namun fakta itu tidak dapat mengubah keputusan pengadilan, sehingga aku pun harus mendekam di penjara selama enam bulan. Begitu juga Afdal dia dihukum satu tahun penjara. Inilah pukulan terberat kedua orang tuaku. Aku, anaknya yang notabenenya seorang penyiar yang selama  ini mengasuh acara Islami harus mendekam di balik jeruji besi. Sungguh sebuah nista yang tak terampuni bagi mereka.

Hidup di balik jeruji besi adalah suatu hal yang benar-benar tak pernah terbersit dalam pikiranku. Tapi sudahlah aku harus terima semua ini. Meski terasa berat, terutama bila mengingat kedua orang tuaku, rasanya ingin mati saja agar tak selalu menambah beban mereka. Tapi inilah yang harus kujalani. Aku harus kuat. Kakak berniat mengganti masa tahananku dengan sejumlah rupiah, tapi aku tidak mau. Semua ini karena ulahku sendiri. Aku tak ingin melibatkan mereka lebih jauh lagi.Awal-awal berada di dalam lapas, aku hanya bertemankan sebuah buku dan ballpoint. Kutuliskan tentang perjalanan hidupku yang selama ini. Mas Hendra dan istrinya sangat sering menjengukku. Mereka tak risih harus bolak-balik ke lapas ini. Suatu saat Mas Hendra membaca tulisanku, dia terkesan dan ingin mengirimnya ke sebuah majalah sastra terbitan ibu kota. Aku senang sekali tapi apa mungkin ya, tulisan yang asal-asalan itu bisa dimuat di majalah itu. Kita harus berani mencoba dan tetap semangat ketika tulisan itu tidak dimuat, itu kata mas Hendra. Mas Hendra dan Mbak Ratih adalah tetanggaku, mereka sangat akrab dengan bapak dan ibu, juga kakakku.

Berada di lapas, banyak hal yang bisa kubaca dari berbagai macam karakter. Satu selku ada dua puluh orang dengan berbagai macam kenakalan remaja yang menggiring mereka hingga berada di balik jeruji besi ini. Ya rata-rata mereka usia remaja. Dengan berbekal sedikit pengetahuan dan pengalaman yang kumiliki aku mencoba berbagi dengan mereka. Awalnya ada temanku, Widya namanya, dia sangat ingin menjadi seorang penyiar. Tak jarang ia mendekatiku ketika aku tak lagi menulis. Dia cantik, bahkan paling cantik di antara kami. Dia juga berjilbab, aku sangat terkesima melihat wajahnya kala usai berwudhu, dia tampak anggun sekali. Mungkin jilbab ini yang membuat wajahnya bersih dan berseri. Aku jadi ingat ibuku, selama ini ibu selalu menyarankan supaya aku mengenakan jilbab seperti Mbak Dewi, kakak iparku, namun aku masih mengabaikannya.

Ada lagi yang sukanya membaca puisi-puisi dan cerpenku, namanya Karni, tiap kali ada yang terbaru selalu ingin dibacanya, tidak jarang ia juga memberiku masukan terhadap puisi atau cerpen yang telah dibacanya. Yang lainnya? Pihak lapas selalu menghadirkan ahli tata rias dan tata boga yang ternyata sahabat-sahabatku semasa di SMA. Yang lucu, sejak mendapat pelatihan tata rias, setiap hari Vera selalu memakai make up lengkap sehingga ia sering terlambat dalam mengikuti kegiatan. Warga lapas yang paling sering mendapat hukuman karena terlambat ya hanya Vera ini.

Sore itu, Mas Hendra dan istrinya kembali menjengukku untuk yang kesekian kalinya. Kukatakan demikian karena sudah tak terhitung jari tangan dan kakiku kedatangan Mas Hendra dan Mbak Ratih. Seperti biasa mereka selalu membawa kabar yang menyenangkan bagiku, selalu menjadi penyemangat hidupku. Mas Hendra yang masih keponakan pak Haji pemilik radio tempatku bekerja dulu mengatakan bila Pak haji masih mau menerimaku jika nanti aku mau bekerja di radio itu. Tapi bagiku, tempat itu terlalu mulia bila harus menerima orang sepertiku. Memendam aib karena ulah Afdal yang pertama aku mampu, tapi yang ini? Semua orang tahu tanpa aku memberitahu. Sepertinya aku ingin menjadi penulis fiksi saja, yang bebas mengembara ke mana-mana dalam alam bawah sadarku. Aku ingin menikmati setiap jengkal waktu bersama ibu dan bapak dalam damainya hatiku. Tanpa siapa pun selain mereka.

***

Mungkin ini kehadiranku yang terakhir kali di vila bougenvill, aku harus meretas segala asa yang selama ini menghiasi hari-hariku dengan indah. Aku harus menghapusnya, meski terasa berlawanan dengan inginku. Aku harus berlalu dan terus berlalu tanpa berusaha menoleh lagi.

Bersambung episode 11 Meretas Asa Di Atas Luka

episode lainnya bisa klik tanda panah kanan/kiri


Tidak ada komentar:

Posting Komentar