Hingga
tiba-tiba kudapati nama Arvel Anantara yang mengirim pesan untuk Rena Antari
bahwa sore ini ditunggu kedatangannya di vila bugenvill Indah.
Terpuruk di Balik Dendam
Sesuai rencanaku semalam, sore ini sepulang dari
radio aku menuju rumah Mas Radit. Hari ini adalah hari pertamaku membawa sepeda motor sendiri, aku tidak ingin melibatkan bapak dalam masalahku. Suasana sunyi ketika
aku sampai di depan rumahnya yang sebenarnya sangat kurindukan. Kukumpulkan
segala keberanianku untuk menghadapi Mas Radit. Kubunyikan bel, tak lama ada
orang yang membuka pintu. Ternyata ibu.
“Nak Rena!” ibu kelihatan kaget sekali.
“Mas Radit ada, Bu?” tanyaku tanpa memberikan salam
terlebih dulu.
“Ada, ayo masuk dulu,” ajak ibu. Kuulurkan tanganku
sebagai hormatku pada ibu. Aku duduk di kursi dengan lemah. Lidahku serasa
terkunci. Tak lama Mas
Radit muncul dengan wajah kuyu baru bangun tidur. Aku hanya diam beberapa saat.
Tak tahu harus memulai dari sudut mana untuk keputusanku yang tanpa alasan.
“Mengapa tidak memberi kabar, hp non-aktif!” tiba-tiba
Mas Radit mengawali dengan menunjukkan kesalahanku. Aku hanya menunduk mencoba
menguasai diri.
"Aku ingin kita putus!” bukan jawaban atas
pertanyaan Mas Radit tapi keputusan yang tidak bisa ditawar lagi. Mas Radit
tampak kaget dengan keputusan ini.
“Tidak! Apa salahku? Tidak ada angin tidak ada hujan
tiba-tiba minta putus!” tolaknya dengan nada marah. Aku hanya terdiam menahan
butiran permata bening yang kian menggantung.
“Ayo katakan! Sekian lama tidak ada kabar
tiba-tiba…!” kata-katanya semakin keras, hingga ibu keluar dan memanggilnya.
“Radit! Jangan keras-keras kenapa!” kata ibu
mendekatiku. Butiran permataku tak terbendung lagi. Aku menangis tanpa bisa
kutahan-tahan lagi.
“Ada apa Nak? Apa Radit sudah berbuat salah?” tanya
ibu penuh bijaksana. Aku menggeleng.
“Tidak Ibu, Mas Radit tidak bersalah apapun, Rena
yang salah, Rena tidak pantas hidup berdampingan dengan Mas Radit,” sanggahku
dengan suara tangis semakin keras karena terbayang pula wajah Afdal bedebah
itu. Aku menahan diri sekuat daya untuk menyimpan nama itu agar tidak keluar
dari mulutku.
“Mana mungkin kalau tanpa sebab, kau memutuskan
semua ini,” ujar Mas Radit seperti telah hilang simpatinya terhadapku. Ia
benar-benar kecewa. Tangannya mencengkeram dengan kerasnya hingga wajahnya
memerah. Aku takut sekali.
“Sudahlah Radit! Hargai Nak Rena, mungkin belum bisa
mengatakannya sekarang, mungkin lain hari,” ibunya menengahi, takut anaknya
tidak bisa menguasai diri.
“Baiknya Nak Rena pulang dulu, kami tunggu jawaban
Nak Rena,” aku sedikit lega. Ibu bijaksana sekali. Aku pun berdiri. Kuraih
tangannya, kucium pipinya.
“Maafkan saya Bu,” kataku mengakhiri pertemuan itu
dengan bersimbah air mata. Ibu hanya mengangguk dan mengusap kepalaku.
Langkahku berat sekali meninggalkan rumah itu. Maafkan aku ibu telah
menghancurkan harapanmu dan anakmu. Harapku dari kedalaman hatiku.
Mungkin ini kehadiranku yang terakhir kali di vila Bougenvill,
aku harus meretas segala asa yang selama ini menghiasi hari-hariku dengan
indah. Aku harus menghapusnya, meski terasa berlawanan dengan inginku. Aku
harus berlalu dan terus berlalu tanpa berusaha menoleh lagi. Karena dengan
menoleh akan berarti mengukir luka lebih dalam lagi di hatiku. Aku harus tega,
aku harus berani mengambil langkah ini untuk menutup sebuah aib yang telah
terjadi di diriku.
Aktivitasku sebagai penyiar mulai menyita sebagian
besar waktuku. Awalnya hanya untuk mengalihkan kekalutanku, tapi lama kelamaan
aku keasyikan. Kadang ibu protes dengan keadaan ini. Ibu juga mulai
menanyakan ke mana Mas Radit. Aku jawab saja sudah putus. Sementara akhir-akhir
ini aku mulai sering melihat Afdal jalan dengan seorang perempuan. Terakhir
kemarin ketika aku menjadi MC di pernikahan adiknya Mbak Mitha istrinya Mas
Hendra. Timbul niatku untuk menghancurkannya. Sementara, suara Mas Radit tak
bisa kudengar lagi dari radio, dengar kabar burung dia telah pindah ke kota
Surabaya.
Sore itu, aku menjadi MC di acara pembukaan pameran
yang diadakan Himpunan Pengusaha Muda di kota. Kembali aku melihat Afdal
bedebah itu. Kali ini tidak terampuni, niatku akan menghancurkan hidupnya.
Kusapa dia dengan ramah sebagai tuan dan nyonya melalui microfon ketika ia baru
masuk di acara tersebut. Ia pun mencari sumber suaraku. Sejenak ia tampak
terkejut melihatku, kutampakkan senyum ramahku. Seolah tanpa ada rasa sakit
hati yang kurasakan. Segala cara kulakukan untuk dapat menarik perhatiannya,
dan aku pun sukses mendapat nomor hpnya dari seseorang.
Pagi itu, sekitar jam delapan ada telepon masuk ke
hp tanpa nama.
“Halo,” sapaku.
“Halo, benar dengan Kina?” tanya seseorang tapi aku
seperti mengenalnya.
“Iya, dengan siapa ini?” tanyaku untuk memastikan.
“Aku Afdal,” jawabnya. Oow… seruku dalam hati. Tidak
usah repot-repot mencari malah datang sendiri. Aku sekarang siap memangsamu.
Pikirku.
“Oya? Masih ingat to dengan Kina,” jawabku dengan
sedikit manja.
“Aku ingin ketemu,” katanya lagi. Kusambut dengan
gembira di sisi otak nakalku, tapi tetap saja aku merasa jijik di ujung
nuraniku.
“Ok kapan?” kataku, seperti merentang masalah.
“You
pulang jam berapa?” lanjutnya.
“Jam 18.00. di mana?” putusku. Aku merasa terlalu
lama di telepon.
“Di Sumber Nikmat,” jawabnya.
“Ok.,” langsung kumatikan ponselku.
Aneh, aku sedemikian ingin bertemu dengannya, aku
ingin benar-benar menghancurkannya. Seperti halnya kehancuran hidupku
karenanya. Usai siaran dan sholat Maghrib di kantor aku langsung menuju tempat
yang dijanjikan. Sesampai di sana ia sudah menungguku. Aku memesan jus alpukat
dan nasi goreng spesial. Ia menanyakan kabarku dan ke mana pasca kejadian itu,
ia mencari ke mana-mana tidak menemukanku. Demi kesuksesan misiku aku mencoba
bersikap semanis mungkin. Demikian hingga pertemuan itu berlanjut dengan
pertemuan-pertemuan berikutnya.
Pertemuan kali itu entah pertemuan ke berapa, aku
sudah tak mengingatnya. Ketika asyik makan, Afdal pamit ke belakang. Hand
phonenya berbunyi, tertulis nama Arni. Aku angkat saja.
“Halo!” sapaku.
“Halo! Siapa ini?” suaranya seperti terkejut.
“Aku Kina, pacar Mas Afdal!” jawabku dengan tegas.
“Heh! Siapa kau, mana Mas Afdal!” gertaknya.
“Mas Afdal sedang tidur!” jawabku lalu kumatikan hand phone itu. Di ujung nuraniku ada
rasa kasihan terhadap gadis itu. Tapi itulah yang kurasakan dulu. Ini baru
babak pendahuluan. Seru otak kotorku.
Beberapa hari ini Afdal tak menghubungiku, mungkin
tahu kelancanganku telah mengangkat telepon gadisnya. Aku harus berbuat
sesuatu. Aku telepon, aku meminta segera dinikahi, kalau tidak aku akan
mengatakan pada gadis itu tentang semua yang pernah terjadi padaku. Dia sangat
panik. Berharap supaya aku sabar untuk beberapa waktu. Ok. Kukasih waktu satu
minggu untuk menyelesaikan masalahnya dengan gadis itu.
Selama satu
minggu aku diam. Menunggu. Dan betul, dia menepati janjinya datang ke rumah untuk
bertemu bapak dan ibu dengan sebuah cincin permata sebagai tanda melamarku.
Awalnya bapak menolak, datang tanpa memberitahu terlebih dahulu, tahu-tahu
melamar, kayak orang membeli ikan di pasar saja. Namun aku berhasil merayu ibu
untuk merestui sehingga ibu pun meyakinkan bapak supaya menerima Afdal tentunya
dengan berbagai persyaratan dari bapak. Walaupun sebenarnya tujuan pernikahanku
dengan Afdal hanyalah untuk menghilangkan status gadisku di KTP. Lain tidak.
Akhirnya aku menikah dengan Afdal, meski aku tidak tahu apa yang akan kulakukan dengan pernikahan ini. Tepat di hari itu Mas Radit SMS “Inikah jawaban atas penantianku dan ibu selama ini?’ Trims. Radit dan Ibu. Subhanaullah, ternyata Mas Radit masih menunggu jawabanku. Meski tak kutahu keberadaannya. Di lain hari nomor itu aku telepon tidak aktif. Tanpa kusadari, aku telah sanggup menjadi seorang yang kejam bagi Mas Radit dan ibu. Aku telah mencampakkan mereka begitu saja tanpa setitik kejelasan alasan yang bisa menuntun mereka untuk ikhlas menerima keputusanku. Langkahku benar-benar egois, hanya demi kepentinganku sendiri.
Sebulan berlalu, tabiat Afdal mulai tampak. Tiap
hari bapak selalu membicarakannya. Tidak jarang marah-marah dengan ibu. Nyinyir
hatiku. Niatku akan segera meminta cerai, namun belum sempat terjadi, aku malah mendapat tamparan yang sangat
dahsyat. Aku turut menjadi tersangka dalam kasus penggelapan uang yang
dilakukannya karena dia mentransfer uang tersebut ke nomor rekeningku. Meski
aku tidak tahu ia telah mentransfernya,
namun fakta itu tidak dapat mengubah keputusan pengadilan, sehingga aku pun
harus mendekam di penjara selama enam bulan. Begitu juga Afdal dia dihukum satu
tahun penjara. Inilah pukulan terberat kedua orang tuaku. Aku, anaknya yang notabenenya seorang penyiar yang selama ini
mengasuh acara Islami harus mendekam di
balik jeruji besi. Sungguh sebuah nista yang tak terampuni bagi mereka.
Hidup di balik jeruji besi adalah suatu hal yang benar-benar tak pernah terbersit dalam pikiranku. Tapi sudahlah aku harus terima semua ini. Meski terasa berat, terutama bila mengingat kedua orang tuaku, rasanya ingin mati saja agar tak selalu menambah beban mereka. Tapi inilah yang harus kujalani. Aku harus kuat. Kakak berniat mengganti masa tahananku dengan sejumlah rupiah, tapi aku tidak mau. Semua ini karena ulahku sendiri. Aku tak ingin melibatkan mereka lebih jauh lagi.Awal-awal berada di dalam lapas, aku hanya bertemankan sebuah buku dan ballpoint. Kutuliskan tentang perjalanan hidupku yang selama ini. Mas Hendra dan istrinya sangat sering menjengukku. Mereka tak risih harus bolak-balik ke lapas ini. Suatu saat Mas Hendra membaca tulisanku, dia terkesan dan ingin mengirimnya ke sebuah majalah sastra terbitan ibu kota. Aku senang sekali tapi apa mungkin ya, tulisan yang asal-asalan itu bisa dimuat di majalah itu. Kita harus berani mencoba dan tetap semangat ketika tulisan itu tidak dimuat, itu kata mas Hendra. Mas Hendra dan Mbak Ratih adalah tetanggaku, mereka sangat akrab dengan bapak dan ibu, juga kakakku.
Berada di lapas, banyak hal yang bisa kubaca dari
berbagai macam karakter. Satu selku ada dua puluh orang dengan berbagai macam
kenakalan remaja yang menggiring mereka hingga berada di balik jeruji besi ini.
Ya rata-rata mereka usia remaja. Dengan berbekal sedikit pengetahuan dan
pengalaman yang kumiliki aku mencoba berbagi dengan mereka. Awalnya ada
temanku, Widya namanya, dia sangat ingin menjadi seorang penyiar. Tak jarang ia
mendekatiku ketika aku tak lagi menulis. Dia cantik, bahkan paling cantik di antara
kami. Dia juga berjilbab, aku sangat terkesima melihat wajahnya kala usai
berwudhu, dia tampak anggun sekali. Mungkin jilbab ini yang membuat wajahnya
bersih dan berseri. Aku jadi ingat ibuku, selama ini ibu selalu menyarankan
supaya aku mengenakan jilbab seperti Mbak Dewi, kakak iparku, namun aku masih
mengabaikannya.
Ada lagi yang sukanya membaca puisi-puisi dan cerpenku, namanya Karni, tiap kali ada yang terbaru selalu ingin dibacanya, tidak jarang ia juga memberiku masukan terhadap puisi atau cerpen yang telah dibacanya. Yang lainnya? Pihak lapas selalu menghadirkan ahli tata rias dan tata boga yang ternyata sahabat-sahabatku semasa di SMA. Yang lucu, sejak mendapat pelatihan tata rias, setiap hari Vera selalu memakai make up lengkap sehingga ia sering terlambat dalam mengikuti kegiatan. Warga lapas yang paling sering mendapat hukuman karena terlambat ya hanya Vera ini.
Sore itu, Mas Hendra dan istrinya kembali
menjengukku untuk yang kesekian kalinya. Kukatakan demikian karena sudah tak
terhitung jari tangan dan kakiku kedatangan Mas Hendra dan Mbak Ratih. Seperti
biasa mereka selalu membawa kabar yang menyenangkan bagiku, selalu menjadi
penyemangat hidupku. Mas Hendra yang masih keponakan pak Haji pemilik radio
tempatku bekerja dulu mengatakan bila Pak haji masih mau menerimaku jika nanti
aku mau bekerja di radio itu. Tapi bagiku, tempat itu terlalu mulia bila harus
menerima orang sepertiku. Memendam aib karena ulah Afdal yang pertama aku mampu,
tapi yang ini? Semua orang tahu tanpa aku memberitahu. Sepertinya aku ingin
menjadi penulis fiksi saja, yang bebas mengembara ke mana-mana dalam alam bawah
sadarku. Aku ingin menikmati setiap jengkal waktu bersama ibu dan bapak dalam
damainya hatiku. Tanpa siapa pun selain mereka.
***
Mungkin
ini kehadiranku yang terakhir kali di vila bougenvill, aku harus meretas segala
asa yang selama ini menghiasi hari-hariku dengan indah. Aku harus menghapusnya,
meski terasa berlawanan dengan inginku. Aku harus berlalu dan terus berlalu
tanpa berusaha menoleh lagi.
Bersambung episode 11 Meretas Asa Di Atas
Luka
episode lainnya bisa klik tanda panah kanan/kiri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar