Sabtu, 24 Juli 2021

Epis 2 Gadis di Kaki Bukit

 




Teruntuk kalian yang selalu menginspirasi

di setiap detak nafasku:

Adi Subagio (suamiku)

 

Kedua sanjungan kalbuku:

Romi Zainnasta Alfariza

Naufal Gamel Daniswara

 

Kedua orang tuaku yang senantiasa mengiringi

setiap langkahku dengan doa-doa tulusnya:

Bapak Fauzi dan Ibu Murtiasih

 

Adik-adikku,

Forum Bahasa dan Sastra 28

Kerabat dan sahabat yang selalu menjelajah imajiku 


Kata Mereka

“Tak mudah mengurai romantika dalam sebuah kisah. Membaca novel Ranai Mara Rena, kita akan mengapung di atas roman yang terangkai dalam tali-temali kalimat yang sederhana tapi memukau.”

Samsudin Adlawi___Penyair, Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi.

 

“Tidak hanya tentang cinta, novel ini berisi perjalanan hidup seorang penyiar radio. Pahit-manis terasa dalam cerita-ceritanya.”

Andaru Intan__Penulis.

 

“Sebaik-baiknya novel adalah yang menyajikan peperangan dahsyat, yaitu perang dalam rohani manusia. Dalam perang itu masa lalu dan masa depan melebur menjadi masa kini. Banyak pelajaran, novel ini layak dibaca oleh mereka yang tengah mencari asa.”

Mh. Qowim___Penulis Novel Hiroshima; Cinta Tanpa Batas, Mantan Editor Rubrik Sastra Jawa Pos Radar Banyuwangi.



Episode 2

Gadis di Kaki Bukit

 

            Namaku Raditya Priyatama, aku selalu hadir di beberapa acara yang telah dipercayakan padaku di radio tempatku mengais rezeki. Kebetulan acara yang kuasuh adalah acara-acara yang banyak digandrungi remaja, sehingga fans remajaku sangat banyak. Awal mula aku menjadi penyiar adalah adanya lomba menjadi penyiar di radio ini, aku hanya berhasil mendapat juara dua sebenarnya, namun entahlah mungkin karena aku sering datang ke studio dan mengisi acara-acara yang disediakan untuk para fans berkreasi di setiap malam minggu sehingga aku mendapat tawaran menjadi penyiar. Waktu itu aku masih kuliah di Fakultas Sastra semester empat. Hitung-hitung menambah pengalaman maka kuterima saja tawaran itu.

            Menjadi penyiar ternyata sangat menyenangkan, wawasanku dengan sendirinya bertambah luas. Selama ini sepulang dari kuliah aku berdiam diri di rumah, atau keluar mengantar ibu berbelanja, karena memang hidupku hanya berdua dengan ibu. Kini, aku memiliki aktivitas baru yakni ke studio. Istilah cowok rumahan yang kusandang dari beberapa tetangga dan teman terdekatku perlahan menghilang, karena mereka sering melihatku ke luar rumah. Bahkan ketika ada rapat karang taruna atau remaja masjid seringkali berbenturan dengan jadwal kuliah atau siaranku, sehingga aku tidak bisa datang. Sekarang bila ada rapat mereka pasti ke rumah dulu untuk menyesuaikan dengan jadwalku. Jadi orang penting? Sedikit, jawabku ketika ibu menanyakan hal ini. Aku bersyukur karena teman-teman tidak memandangku sebelah mata, setidaknya aku juga merasa berguna tinggal di kota ini, kota kelahiran ayahku dan aku tentunya.

             Ada beberapa perempuan yang sempat dekat dan singgah beberapa saat di istana hatiku sejak menjadi penyiar, walau hanya sebatas dalam hatiku dan belum tersampaikan. Bagaimana tidak, menjadi seorang penyiar ternyata banyak godaan. Banyak fans yang datang ke studio, dan aku harus selalu tampak baik di hadapan mereka, walaupun sebenarnya bukan kebaikan yang berlebihan. Aku merasa memperlakukan mereka semua sama, namun tidak semua orang bisa menerima perlakuanku ini. Ada yang merasa aku sangat memerhatikannya, sehingga mereka berimajinasi macam-macam tentang diriku. Hal-hal seperti inilah yang menumbuhkan kesan bahwa aku seorang play boy udara. Apalagi sekarang aku mulai mengasuh acara-acara yang romantis, banyak sekali peminatnya. Tidak hanya dari kalangan remaja atau mahasiswa saja. Namun akhir-akhir ini ada satu nama yang selalu menggelitik imajiku untuk ingin tahu siapa pemilik syair puitis dengan tulisan indah itu.

            Hari Minggu, aku sengaja mencari alamat Rena Antari si pencuri perhatianku. Desa yang indah dengan jalan berkelok-kelok seperti ular memanjang di depanku. Aku sengaja tidak bertanya pada siapapun dalam pencarian ini, namun ternyata aku malah bertemu Hendra sang juara satu yang telah mengalahkanku dulu. Hendra mengajakku ke rumahnya di kaki bukit itu. Hendra ternyata lebih bercita-cita menjadi seorang Sarjana Pertanian ketimbang menjadi seorang penyiar sepertiku. Dia kuliah di Surabaya, sehingga tawaran menjadi penyiar pun tidak diambilnya. Di ujung jalan menuju rumah Hendra inilah tertulis nama jalan yang kucari, yakni jalan Kenari, berarti di sekitar rumah Hendra inilah rumah Rena Antari.

            Sesampai di rumah Hendra yang sederhana aku merasa kesejukan alamnya mengundangku untuk berlama-lama di sini. Sedikit demi sedikit aku mencoba mengorek informasi tentang Rena Antari pada Hendra, namun ia tidak mengenalnya. Setelah aku tunjukkan nomor rumahnya, ia menyebutkan nama yang tidak kalah cantiknya dengan nama udaranya, Sasi Kirana.

            “Ada yang istimewa nih,” selidiknya.

            “Sampai dibela-belain ke kaki bukit ini,” sambungnya lagi. Aku hanya tersenyum.

            “Kebetulan aja, tadi dari rumah teman,” jawabku sekenanya. Pada hal kalau Hendra bertanya nama dan alamatnya aku pasti kebingungan.

Lebih lanjut, Hendra menceritakan Sasi Kirana seorang gadis yang cantik dan baik, dua bersaudara, kakaknya sudah menikah dan tinggal di Surabaya. Keluarganya sangat akrab dengan keluarga Hendra, kalau saja tidak sedang ke Surabaya, pasti Hendra akan mengantarku ke rumah Rena.

Itu awal pencarianku terhadap Rena Antari, lebih lanjut kugunakan sebuah nama untuk mengungkapkan rasa simpatiku padanya. Ia pun membalas dengan cara yang sama. Saat itu kami sama-sama tidak tahu alias belum pernah bertemu. Dan akhirnya berlalu begitu saja, tanpa ada ikatan atau pun jembatan yang menghubungkan aku dengannya.***

Bersambung ke episode 3. 

Buku lainnya






Motto, 

Mengalahlah sampai tak seorang pun bisa mengalahkanmu.
Merendahlah sampai tak seorang pun bisa merendahkanmu. (Gobind Vashdev)

Kataku,
Filosofi daun kencur, meski berada di bawah jika dibanding daun-daun lain, ia tetap bisa memberikan manfaat dari dalam tanah.
[🌷Menebar Asa🌷]



Tidak ada komentar:

Posting Komentar