Teruntuk kalian yang selalu menginspirasi
di setiap detak nafasku:
Adi Subagio (suamiku)
Kedua sanjungan kalbuku:
Romi Zainnasta Alfariza
Naufal Gamel Daniswara
Kedua orang tuaku yang senantiasa mengiringi
setiap langkahku dengan doa-doa tulusnya:
Bapak Fauzi dan Ibu Murtiasih
Adik-adikku,
Forum Bahasa dan Sastra 28
Kerabat dan sahabat yang selalu menjelajah
imajiku
“Tak mudah mengurai romantika dalam sebuah kisah. Membaca
novel Ranai Mara Rena, kita akan mengapung di atas roman yang terangkai dalam
tali-temali kalimat yang sederhana tapi memukau.”
Samsudin Adlawi___Penyair, Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi.
“Tidak hanya tentang cinta, novel
ini berisi perjalanan hidup seorang penyiar radio. Pahit-manis terasa dalam
cerita-ceritanya.”
Andaru
Intan__Penulis.
“Sebaik-baiknya novel adalah yang menyajikan peperangan dahsyat,
yaitu perang dalam rohani manusia. Dalam perang itu masa lalu dan masa depan
melebur menjadi masa kini. Banyak pelajaran, novel ini layak dibaca oleh mereka
yang tengah mencari asa.”
Mh. Qowim___Penulis Novel Hiroshima; Cinta Tanpa Batas, Mantan Editor Rubrik Sastra Jawa Pos Radar Banyuwangi.
Episode 2
Gadis di Kaki Bukit
Namaku Raditya Priyatama, aku selalu
hadir di beberapa acara yang telah dipercayakan padaku di radio tempatku
mengais rezeki. Kebetulan acara yang kuasuh adalah acara-acara yang banyak digandrungi remaja, sehingga fans remajaku
sangat banyak. Awal mula aku menjadi penyiar adalah adanya lomba menjadi
penyiar di radio ini, aku hanya berhasil mendapat juara dua sebenarnya, namun
entahlah mungkin karena aku sering datang ke studio dan mengisi acara-acara
yang disediakan untuk para fans berkreasi di setiap malam minggu sehingga aku
mendapat tawaran menjadi penyiar. Waktu itu aku masih kuliah di Fakultas Sastra
semester empat. Hitung-hitung menambah pengalaman maka kuterima saja tawaran
itu.
Menjadi penyiar ternyata sangat menyenangkan, wawasanku dengan sendirinya bertambah luas. Selama ini sepulang dari kuliah aku berdiam diri di rumah, atau keluar mengantar ibu berbelanja, karena memang hidupku hanya berdua dengan ibu. Kini, aku memiliki aktivitas baru yakni ke studio. Istilah cowok rumahan yang kusandang dari beberapa tetangga dan teman terdekatku perlahan menghilang, karena mereka sering melihatku ke luar rumah. Bahkan ketika ada rapat karang taruna atau remaja masjid seringkali berbenturan dengan jadwal kuliah atau siaranku, sehingga aku tidak bisa datang. Sekarang bila ada rapat mereka pasti ke rumah dulu untuk menyesuaikan dengan jadwalku. Jadi orang penting? Sedikit, jawabku ketika ibu menanyakan hal ini. Aku bersyukur karena teman-teman tidak memandangku sebelah mata, setidaknya aku juga merasa berguna tinggal di kota ini, kota kelahiran ayahku dan aku tentunya.
Ada beberapa perempuan yang sempat dekat dan
singgah beberapa saat di istana hatiku sejak menjadi penyiar, walau hanya
sebatas dalam hatiku dan belum tersampaikan. Bagaimana tidak, menjadi seorang
penyiar ternyata banyak godaan. Banyak fans yang datang ke studio, dan aku
harus selalu tampak baik di hadapan mereka, walaupun sebenarnya bukan kebaikan
yang berlebihan. Aku merasa memperlakukan mereka semua sama, namun tidak semua
orang bisa menerima perlakuanku ini. Ada yang merasa aku sangat memerhatikannya,
sehingga mereka berimajinasi macam-macam tentang diriku. Hal-hal seperti inilah
yang menumbuhkan kesan bahwa aku seorang play boy udara. Apalagi sekarang aku
mulai mengasuh acara-acara yang romantis, banyak sekali peminatnya. Tidak hanya
dari kalangan remaja atau mahasiswa saja. Namun akhir-akhir ini ada satu nama yang
selalu menggelitik imajiku untuk ingin tahu siapa pemilik syair puitis dengan
tulisan indah itu.
Hari Minggu, aku sengaja mencari alamat Rena Antari si pencuri perhatianku. Desa yang indah dengan jalan berkelok-kelok seperti ular memanjang di depanku. Aku sengaja tidak bertanya pada siapapun dalam pencarian ini, namun ternyata aku malah bertemu Hendra sang juara satu yang telah mengalahkanku dulu. Hendra mengajakku ke rumahnya di kaki bukit itu. Hendra ternyata lebih bercita-cita menjadi seorang Sarjana Pertanian ketimbang menjadi seorang penyiar sepertiku. Dia kuliah di Surabaya, sehingga tawaran menjadi penyiar pun tidak diambilnya. Di ujung jalan menuju rumah Hendra inilah tertulis nama jalan yang kucari, yakni jalan Kenari, berarti di sekitar rumah Hendra inilah rumah Rena Antari.
Sesampai di rumah Hendra yang
sederhana aku merasa kesejukan alamnya mengundangku untuk berlama-lama di sini.
Sedikit demi sedikit aku mencoba mengorek informasi tentang Rena Antari pada
Hendra, namun ia tidak mengenalnya. Setelah aku tunjukkan nomor rumahnya, ia
menyebutkan nama yang tidak kalah cantiknya dengan nama udaranya, Sasi Kirana.
“Ada yang istimewa nih,” selidiknya.
“Sampai dibela-belain ke kaki bukit
ini,” sambungnya lagi. Aku hanya tersenyum.
“Kebetulan aja, tadi dari rumah
teman,” jawabku sekenanya. Pada hal kalau Hendra bertanya nama dan alamatnya
aku pasti kebingungan.
Lebih lanjut, Hendra menceritakan Sasi Kirana
seorang gadis yang cantik dan baik, dua bersaudara, kakaknya sudah menikah dan
tinggal di Surabaya. Keluarganya sangat akrab dengan keluarga Hendra, kalau
saja tidak sedang ke Surabaya, pasti Hendra akan mengantarku ke rumah Rena.
Itu awal pencarianku terhadap Rena Antari, lebih
lanjut kugunakan sebuah nama untuk mengungkapkan rasa simpatiku padanya. Ia pun
membalas dengan cara yang sama. Saat itu kami sama-sama tidak tahu alias belum pernah bertemu. Dan akhirnya
berlalu begitu saja, tanpa ada ikatan atau pun jembatan yang menghubungkan aku
dengannya.***
Bersambung ke episode 3.
Buku lainnya





Tidak ada komentar:
Posting Komentar