Senin, 30 Agustus 2021

Epis 7 Sesaat Tanpa Hadirmu



Sesaat Tanpa Hadirmu


Selama di bumi Blambangan banyak hal yang kuperoleh. Kota ini sangat unik, kaya dengan seni, budaya, sejarah, dan upacara-upacara ritual. Di bidang seni ada gandrung dengan penari cantiknya, kuntulan, batik gajah oleng, dan lain-lain. Budaya ditunjukkan dengan kiling, mocoan, paglak, dan geredoan. Upacara ritual ditunjukkan dengan adanya puter kayun, pethik laut, ider bumi, seblang, tumpeng sewu, dan lain-lain masih banyak lagi.

Adapun aneka kuliner tidak kalah nikmatnya tersaji di sepanjang jalan yang kulalui, ada rujak soto, nasi tempong, pecel rawon, dan ketika pagi hari tersaji sebuah menu yang sangat unik yakni sego cawok. Keempat jenis kuliner ini sudah pernah kunikmati. Rujak soto adalah paduan rujak petis yang disiram kuah soto babat atau soto ayam. Sebelum merasakan yang kubayangkan adalah rasa neg, namun ternyata sangat cocok di lidahku. Nasi tempong adalah nasi bertemankan sayuran dan sambal yang khas (pedas), dengan lauk dadar jagung yang orang Banyuwangi menyebutnya dengan istilah gimbal jagung, tempe, tahu dan ikan asin, sehingga setelah makan muka/wajah terutama bagian mulut serasa seperti habis ditempong atau ditampar. Dan pecel rawon adalah nasi dengan pecel yang disiram kuah rawon dengan lauk kering tempe dan daging sapi tentunya. Menu ini juga sangat kunikmati, karena belum pernah kudapatkan di tempat lain. Sungguh Banyuwangi sangat kaya rasa dan budaya yang memesona.

Tempat-tempat wisata yang sempat kukunjungi adalah yang berada di sekitar kota, seperti Pantai Boom, Taman Sri Tanjung, Pantai Watu Dodol, Pemandian Taman Suruh dan Wisata Oseng, serta Kawah Ijen. Pantai Boom terletak tidak jauh dari kota Banyuwangi, begitu juga dengan Taman Sri Tanjung terletak di depan Pendopo Kabupaten Banyuwangi. Taman ini nyaris tidak pernah sepi dari pengunjung karena letaknya di pusat kota, dan tersaji aneka kuliner yang sangat murah. Ada pisang godog, kacang godog, tahu petis, rujak buah, dan lain-lain tidak ketinggalan penjual mainan anak-anak. Ke arah utara ada pantai Watu Dodol, yang terletak persis di pinggir jalan, jadi bisa dinikmati tanpa harus jauh-jauh berjalan. Dari pantai ini tampak dengan jelas pulau Bali. Dan ketika jiwa ini didera rasa lelah kulepaskan dengan mandi di kolam dengan air yang sangat dingin, yakni di kolam renang Taman Suruh yang sering disebut sebagai kali kotak oleh orang Banyuwangi. Selain di Taman Suruh ini masih ada dua kolam renang lagi yakni Wisata Oseng (WO), dan kolam renang Mirah Fantasi yang dilengkapi dengan Taman Satwanya. Ke arah barat adalah menuju Kawah Ijen. Perjalanan menuju Kawah Ijen memerlukan stamina yang fit, namun setelah sampai di puncak rasa lelah itu tergantikan dengan pemandangan yang sangat luar biasa, yakni Blue Fire yang sangat eksotik.

Kembali ke tujuanku semula yakni menemui seorang penari gandrung untuk sebuah tulisan yang akan kuikutkan dalam lomba Pelangi Budaya Nusantara. Ketika aku datang, ia sedang melatih menari beberapa remaja putri di rumahnya. Seseorang menyuruhku masuk dan menunggu sampai tarian selesai. Ia melatih penari muda itu dengan cukup sabar namun tegas, kelihatan ada seorang penari yang mungkin masih baru bergabung sehingga seringkali kelihatan kaku pada beberapa gerakan, ia menegur tanpa menghentikan tariannya, dan tak berapa lama tampak penari itu sudah mampu menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Akhirnya tiba juga waktu istirahat mereka, saat jeda istirahat inilah sang penari menemuiku di ruang tamu yang juga merupakan tempat latihan para gadis tadi. Di wajahnya yang mulai terdapat guratan renta ia masih tampak cantik dan penuh semangat. Ternyata kisah hidupnya tak semanis tarian yang selalu dibawakannya, seperti halnya kehidupan kita, ia juga tidak lepas dari pernak-pernik yang beraneka warna yang membuatnya jatuh bangun demi melestarikan budaya Banyuwangi yang ia kuasai yakni tarian gandrung. Ada sorot mata jijik, bibir mencibir, kata-kata tak manusiawi, bahkan perlakuan tak menyenangkan kerap kali tertuju padanya, saat ia berada di puncak kesuksesan sebagai penari. Namun apapun yang terjadi ia akan terus dan terus menari, kalaupun ia sudah tak mampu ia akan menjadi pelatih menari seperti yang saat ini dilakukannya, ia sudah mulai mengader anak-anak dan para remaja yang berbakat menari. Setelah data yang kuperlukan cukup aku pun segera meminta diri dan berpamitan karena di luar sudah menunggu beberapa mahasiswa dari sebuah universitas di Surabaya dan seorang wartawan sebuah televisi swasta.

Setelah lebih kurang sepuluh hari di kota gandrung ini, aku pun pulang ke kotaku. Belum sempat menulis hasilnya sudah disusul tugas baru, aku harus berangkat ke Jakarta untuk mengikuti diklat selama dua puluh hari. Kucoba kontak Rena namun nomor ponselnya tidak aktif. Akhirnya aku hanya SMS bila aku ada tugas diklat ke Jakarta. Aneh, Rena tak membalas SMSku. Ada rasa sepi yang mengintip relung-relung kalbuku yang terus mengiris hatiku dan berujung pada kegalauanku. Namun setelah empat hari di sini (Jakarta), tugas-tugas diklat turut menyita perhatian dan energiku sehingga aku pun tak sempat lagi berpikir tentang sepinya hati.

Di sela-sela padatnya acara, aku sempat mengenal seorang perempuan seusia Rena, Ambar namanya. Dia seorang gadis yang ceria dan ramah. Mungkin hadirnya juga yang membuatku sejenak tak merasa sepi meski tanpa SMS Rena. Namun masih kubatasi tingkah dan gerakku terhadapnya, aku ingat betul bahwa Rena adalah pelabuhan cintaku yang pertama sekaligus yang terakhir, harapku. Aku bukan tipe cowok yang pandai mengatur strategi untuk bermain-main dalam sandiwara cinta. Bagiku Rena sudah cukup menghiasi istana hatiku, terlebih ibuku demikian menyayanginya seperti anak sendiri.

Hingga suatu siang saat kami menuju kamar masing-masing untuk istirahat, Ambar berjalan di sebelahku, dia menyampaikan maksudnya untuk meminta pertolonganku menjelaskan beberapa materi yang belum dia pahami. Akhirnya usai sholat Dhuhur, masih ada waktu istirahat lebih kurang satu jam, waktu inilah yang kugunakan untuk menemui Ambar. Aku menuju restoran, tempat yang telah kami sepakati. Suasana masih sepi, sehingga kami bisa memilih tempat yang tidak terlalu banyak lalu lalang tamu hotel yang hendak makan, yakni di sudut restoran berdekatan dengan sebuah vas bunga besar yang bertaburkan bunga plastik yang dirangkai sedemikian rupa sehingga tampak cantik dan elegan.

Setelah memesan makanan ringan dan minuman, kami pun mulai membahas satu per satu materi yang belum dipahami Ambar. Ada beberapa hal yang ternyata aku juga tidak bisa menjawabnya, namun setelah kami diskusikan ternyata kami temukan jawabannya. Aku baru kali ini meluangkan waktu ke restoran selama tujuh hari diklat, ternyata banyak peserta diklat yang menggunakan waktu istirahatnya untuk sekedar duduk dan menikmati menu makanan ringan di sini. Selama ini waktu istirahatku benar-benar kugunakan untuk tidur di kamar, selebihnya melihat televisi sambil ngobrol dengan teman-teman se-blok yakni blok Anggrek.

Ambar telah kembali duduk di depanku setelah beberapa saat menerima telepon. Matanya tampak berkaca-kaca. Rupanya telepon barusan yang membuatnya bersedih. Aku paling tidak bisa melihat seorang perempuan meneteskan air mata di depanku. Dengan hati-hati aku pun bertanya.

“Ada apa?” tanyaku. Dia hanya menggeleng namun butiran ranainya terus mengalir membasahi pipinya yang memerah. Kuambilkan tisu yang berada di meja dan kuberikan. Ia mengusapnya, dengan suara berat ia menjawab pertanyaanku.

“Ada seseorang yang mengejarku ke sini,” jawabnya lirih.

“Memang ada yang Anda bawa dari dia, sampai-sampai mengejar ke sini?” jawabku mencoba mengalihkan suasana hatinya.

“Dia mantanku, dan sekarang berada di kota ini untuk memintaku kembali padanya,” jawabnya lagi tak menghiraukan kelakarku.

“Wow… ya jelas Anda dikejar, lha wong  Anda telah melarikan hatinya,” kelakarku lagi, kali ini ia tersenyum di antara guratan kesedihannya.

“Mas! Aku serius ni,” sergahnya, dengan rona merah yang memancar di wajahnya seperti ini ia tampak lebih manis. Pikiran kotor mulai menggoda akal sehatku.

“Iya iya gimana?” jawabku lagi.

“Aku mau minta tolong ni,” katanya dengan merajuk meminta persetujuanku. Aku hanya mengangguk berharap ia melanjutkan kata-katanya.

“Sebelumnya aku mohon maaf, aku berharap Mas mau berpura-pura menjadi … kekasihku, karena malam ini ia akan datang ke sini,” jawabnya dengan malu, wajahnya menunduk tak berani menatapku. Aku terkejut dengan permintaannya.

“Sebentar, sebentar, apa dulu permasalahannya?” jawabku dengan hati-hati, entah mengapa tiba-tiba aku merasa takut terjebak.

“Tapi janji ya Mas, kalau sudah tahu permasalahannya, Mas akan membantuku,” jawabnya memastikan permintaannya padaku. Walau masih ragu, aku mencoba mengangguk.

Akhirnya ia pun bercerita tentang hubungannya dengan seorang lelaki bernama Arsyad, mereka saling mencintai hingga usia pacaran menginjak tahun keempat mereka bertunangan, walau belum ada rencana melangkah ke jenjang pernikahan. Namun akhir-akhir ini Ambar merasa ada yang aneh ditangkap dari gelagat Arsyad, ia merasa Arsyad menyembunyikan sesuatu darinya. Diam-diam ia pun mencari tahu tentang aktivitas Arsyad yang mulai sering keluar kota dengan dalih ada pekerjaan. Ia berusaha mencari tahu ke teman-teman terdekatnya, mereka tahunya kalau Arsyad mendapat tugas ke luar kota dari bos, bahkan seringkali bersama bosnya selama berhari-hari. Mengenai pekerjaan apa yang dilakukan bersama bos mereka tidak ada yang tahu.

Lama ia bersembunyi di balik pencarian tentang jati diri si bos dan kekasihnya. Hingga suatu hari ketika ia sedang menjadi pembawa acara di pernikahan seorang anak pengusaha yang bertempat di sebuah hotel di kotanya, ia mendapati Arsyad bersama bosnya. Beruntung ia tidak sendirian menjadi pembawa acaranya, sehingga ia bisa mengawasi segala gerak yang dilakukan Arsyad bersama bosnya. Tampak di situ si bos akrab sekali dengan orang tua mempelai putri, Pak Hastomo, mungkin mereka memang teman dekat. Di akhir acara terlihat Si Bos mendapatkan kunci dari Pak Hastomo dan sepertinya dipersilakan beristirahat. Si Bos menggandeng Arsyad dengan terburu-buru.  Aneh dalam pikiran Ambar, seorang bos laki-laki menggandeng anak buah laki-laki, dan ia pun diam-diam mengikuti ke mana mereka berjalan.

Ada getar yang menelusup perih di kedalaman relung hatinya, mengapa Arsyad harus memasuki kamar bersama Si Bos. Mengapa harus menginap di hotel ini? Seru hatinya. Sejenak ia membolak-balikkan pikirannya. Ia berusaha mengelak tentang firasat yang selama ini dipendamnya sendiri. Namun, jika ia pergi meninggalkan hotel ini tanpa sebuah kejelasan berarti ia masih memerlukan waktu lebih lama lagi untuk mengungkap tabir di balik jati diri Arsyad. Ia pun berusaha sekuat daya membangun jiwa perempuannya untuk mengetuk pintu. Setelah ia mengetuk pintu beberapa kali tanpa jawaban, ia pun membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Ia tidak percaya mendapati keadaan di depan matanya.

“Mas Arsyad!” ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sontak mereka yang sedang berusaha melepaskan jerat-jerat asmara terkejut mendapati kedatangannya.

            “Benar ini Kamu, Mas?” katanya lagi memastikan, tanpa menunggu jawaban ia pun berlalu dengan linangan air mata.

            Itulah keadaan terpahit dalam hidupnya, ia tidak pernah menyangka jika Arsyad seorang yang berkepribadian ganda. Ia kecewa, hatinya terluka. Pupus segala harap membina mahligai indah dalam jalinan perkawinan. Hampa ia rasakan menyelinap dan menyusuri relung-relung kalbunya yang selama ini ia harapkan akan menjadi indah. Putus adalah jalan terbaik menurutnya. Namun tidak bagi Arsyad, hingga saat ini dia masih menginginkan Ambar mau menerimanya kembali. Dia berjanji tidak akan mengulangi tabiatnya yang menurut Ambar sudah tidak mungkin lagi. Malam nanti aku yang harus berpura-pura menjadi pacar Ambar. Mungkinkah? Melihat kondisi Ambar aku merasa sangat iba. Aku tak kuasa menolaknya. Akhirnya aku pun menyetujui untuk melakukan hal itu, yakni berpura-pura menjadi pacarnya.

Benar, malam itu usai season terakhir, Ambar menerima telepon dan berjalan ke arahku. Sementara aku belum berniat beranjak dari tempat duduk yang telah menyangga pantatku sejak pukul tujuh malam tadi. Ada beberapa perkataan Ambar yang kudengar sebelum ia menutup ponselnya.

“Maaf Mas, bisa kita ke restoran sekarang?” katanya dengan hati-hati sekali mungkin takut aku tidak berkenan. Memang berat bagiku melakukan hal ini, namun aku sudah terlanjur berjanji. Akhirnya aku menutup laptop dan merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja.

Kami pun melangkah meninggalkan ruang season untuk menuju restoran. Sesampai di sana, Ambar menghentikan langkahnya, tampak matanya melihat ke kanan kiri untuk mengetahui di mana Arsyad. Lalu ia berjalan ke sudut ruangan dengan langkah sedikit ragu. Aku paham sebenarnya ia menunggu langkahku untuk sejajar dengannya, akhirnya aku pun berjalan di sebelahnya.

“Kenalkan Mas, ini Mas Arsyad, yang pernah aku ceritakan!” kata Ambar padaku mengawali pertemuan kami. Lalu kuulurkan tanganku pada lelaki di depanku.

“Radit!” kataku setelah kami berjabat tangan. Lelaki ini dengan postur tubuh yang proporsional untuk seorang lelaki, namun wajahnya tampak sedikit mellow. Kelihatan sekali ia tidak suka dengan kedatanganku. Hingga beberapa saat suasana kaku, akhirnya aku pun berpamitan untuk ke kamar kecil sebentar.

Usai dari kamar kecil, aku kembali duduk. Tampak Ambar menitikkan air mata. Belum sempat aku bergabung dengan pembicaraan mereka ponselku sudah berdering. Ada telepon dari kantor. Aku pun meminta diri pada mereka. Selama menerima telepon kulihat dari jauh ada dua orang laki-laki mendekati tempat duduk mereka. Aku menjadi was-was dengan keberadaan Ambar di sana, namun setelah berbincang beberapa saat kedua lelaki itu membawa Arsyad ke luar dari restoran. Mataku terus mengikuti hendak ke mana mereka bertiga, dan ternyata di luar sudah menunggu seorang lelaki botak berperawakan tinggi kekar berkacak pinggang di dekat pintu mobil yang terbuka. Kedua lelaki yang membawa Arsyad mendorong tubuhnya ke dekat lelaki itu dan disambutnya dengan beberapa tamparan yang mendarat di  wajah Arsyad. Aneh, Arsyad tidak sedikit pun melawan, ia malah memohon maaf pada lelaki itu dengan kedua tangan di dada dan kepala menunduk. Aku benci sekali melihat keadaan ini. Akhirnya lelaki itu mendorong tubuh Arsyad ke dalam mobil lalu ia menyusul duduk di sebelah Arsyad. Mereka pun berlalu meninggalkan area parkir mobil setelah dua orang anak buahnya duduk di depan dan mengemudikan mobil tersebut.

Kututup telepon, aku kembali ke tempat Ambar, namun tak kudapati dia di sana. Ketika aku hendak pergi, mataku menatap sebuah benda di bawah tempat duduk Ambar, setelah kuambil ternyata sebuah dompet, pasti ini dompet Ambar, pikirku. Namun untuk lebih memastikan kubuka dompet tersebut, benar di situ ada foto Ambar. Aku pun menyimpannya di dalam tas. Aku kembali ke kamar, karena sangat lelah usai sholat Isya aku pun terkapar lemas tanpa menghiraukan beberapa teman yang masih asik berbincang riang di depan televisi. Hingga suara adzan Subuh yang membangunkanku. Aku pun segera beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudu, namun bunyi SMS di hp mengajak tanganku untuk meraihnya terlebih dahulu. Ternyata Ambar yang SMS dan menanyakan apa aku melihat dompetnya di meja restoran semalam, aku pun menjawabnya dengan singkat.

Usai salat Subuh, kulihat SMS balasan dari Ambar, dia memintaku mengantar dompetnya di taman dekat kolam. Biasanya di tempat ini ramai peserta diklat melakukan olah raga pagi, namun hari ini hanya beberapa orang mungkin karena semalam materi diklat sangat menyita pikiran sehingga membuat mereka bermalas-malasan di tempat tidur. Kulihat dari balik kaca matanya, ada sembab yang menghiasi kantong matanya. Kuyakin hal ini karena kejadian semalam. Ketika kutanyakan, Ambar sudah lebih baik, dia sudah benar-benar mampu melepas Arsyad. Keadaan semalam sudah menunjukkan bahwa Arsyad bukanlah laki-laki yang baik baginya, selamanya dia akan berada di bawah kekuasaan bosnya. Ambar juga berterima kasih padaku sudah mau menjadi pacar pura-puranya di hadapan Arsyad, sehingga Arsyad pun sepertinya tidak akan mengharapnya lagi. Di samping ketidakberdayaan Arsyad terhadap si bos.

***


Kataku

Diam terinjak, berkata tak bermakna, berteriak semakin meraja. Bersabar saja, niscaya waktu kan menjawabnya, menunjukkannya. 


Buku lainnya.

Buku ini karya bersama guru SMA, SMK, PK Diklat Fiksi Nonfiksi Provinsi Jawa Timur 2017.









 

Minggu, 22 Agustus 2021

Epis 6 Terpuruk di Lembah Duka


Aku tak menolak tapi kupagari hatiku agar tak berfikir lebih untuk seorang Radit. Ia banyak sekali fans setianya. Dia pasti sudah memiliki seorang kekasih.


Pada episode ini ada nama Kina, Sasi. Itu merupakan panggilan dari Sasi Kirana. Bapak ibunya memanggilnya Sasi. Sebagian temannya memanggil Kina, dan di udara ia lebih dikenal dengan nama Rena Antari.


Terpuruk di Lembah Duka

 

            Kami sering jalan bersama ketika berangkat atau pulang siaran selayaknya muda mudi yang berpacaran. Walau sebenarnya jarak rumah Mas Radit yang berada di kota dengan rumahku yang berada di kaki bukit sangat berjauhan, tapi entahlah semua itu bisa kami lewati bersama. Malam itu Mas Radit tidak bisa menjemputku. Dia sedang melakukan wawancara dengan seorang penari gandrung Blambangan untuk sebuah cerita yang akan ditulisnya. Malam Minggu itu aku pulang seperti biasa, sekitar pukul 22.10. Perjalanan menuju rumah memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Namun baru sekitar satu kilo meter dari studio, tiba-tiba sepeda motorku terasa berat dan oleng, aku segera ke pinggir dan berhenti. Benar, ban sepedaku kempis (bhs. Jawa: gembos). Aku bingung karena jalanan mulai sepi, kuambil ponsel dari tas untuk menelpon Mas Hendra atau Mbak Ratih. Tiba-tiba ada sepeda motor berhenti di depanku.

            “Kina…,” panggil seorang lelaki dari balik helm teropongnya. Aku terkejut, sulit mengenalinya dan ternyata Mas Afdal dan temannya. Lega hatiku setelah ia membuka kaca helmnya.

                “Kenapa?” ia turun dari sepeda motornya.

            “Tidak tahu Mas, tiba-tiba ban sepedaku kempis,” jawabku kebingungan. Mas Afdal mengamati ban sepedaku.

            “Oo.. kena paku, ni..,” seru Mas Afdal sambil menunjukkan sebuah paku yang menancap di ban sepedaku lalu mengambilnya.

            “Aduh!” seruku, sambil merogoh saku untuk mengambil ponsel mau menelpon Mas Hendra. Namun belum selesai aku mencari nomor Mas Hendra, Mas Afdal sudah berkata lagi.

            “Sudah, biar ditambalkan Ardi,” aku masih menimbang-nimbang namun Ardi sudah membawa sepedaku. Ya, Ardi adalah sahabat Mas Afdal yang sudah kukenal dengan baik. Akhirnya aku duduk di boncengan Mas Afdal menuju bengkel. Sambil menunggu Ardi, Mas Afdal mengajakku duduk di warung depan bengkel. Ardi pun datang, setelah menaruh sepeda di bengkel ia ke tempat kami minum teh. Lama juga menunggu tambal ban selesai. Dingin udara malam membuatku ingin ke toilet. Selesai dari toilet aku pun menghabiskan teh hangatku, dan beberapa saat kemudian aku merasakan kantuk yang sangat, dan kepalaku terasa pusing. Kusandarkan kepalaku di sandaran kursi.

***

Kurasakan aku berada di tempat yang asing. Hendak bangun namun kepalaku terasa berat. Aku berselimut, tapi ini bukan selimutku. Kupandang sekelilingku, ini bukan kamarku. Aku langsung duduk. Astaghfirullahal adzim! XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX. Butiran permata beningku mengalir deras. Aku telah ternoda. Mas Afdal? Ya mas Afdal yang melakukan semua ini. Aku hendak keluar, namun pintu terdorong dari luar.

“Mas Afdal?” geramku. Dia tertunduk tenang.

“Mengapa Mas lakukan semua ini?” tanyaku dengan kecewa.

“Tenang Kina, tenang,” harapnya padaku.

“Bagus sekali ya? Mas telah menghancurkan hidupku, dan aku harus tenang?” seruku lebih keras lagi sambil kulempar asbak kayu ke dadanya. Ia mengerang kesakitan.

“Ok. Aku khilaf, maaf. Aku akan bertanggung jawab!” aku semakin geram. Tangisku kian tak tertahan.

“Tanggung jawab? Setelah semua ini tanggung jawab? Otak busuk!” kata-kataku terhenti. Serasa habis logikaku dengan kehancuran ini. Aku lempar bantal dan guling ke layar komputer yang berada di meja. Layar itu jatuh. Sementara Afdal hanya memandangku dengan penyesalan.

“Mana hpku! Kontakku!” ia menurut, mengambil hp dan kontakku lalu menyerahkannya padaku. Aku berlari mencari pintu untuk ke luar.

“Di mana sepedaku!” gertakku lagi. Ia menunjukkan letak garasi.

Ketika aku sudah menghidupkan sepeda motor ia masih berseru.

Hati-hati! Aku minta maaf! Aku akan bertanggung jawab!” tak kuhiraukan ucapannya. Aku berlalu kencang dengan sepeda motorku.

Di sepanjang jalan butiran permata beningku terus saja tertumpah, tanpa bisa kubendung walau setetes. Aku benar-benar telah hancur. Terbayang wajah ibu bapakku, wajah tulus Mas Radit, wajah sendu ibunya, semakin perih hatiku, semakin deras air mataku. Aku menghentikan sepeda di taman desa dekat toilet, karena mataku tertutup air mata sampai-sampai tak tampak jalan. Kubasuh mukaku, namun tetap saja. Mataku sembab. Bagaimana caraku menutupi semua ini dari bapak dan ibu? Aku tak ingin mereka tahu. Kuputuskan, aku istirahat di rumah Nina saja, karena saat ini Nina tinggal sendirian. Ku SMS Nina bahwa aku menuju rumahnya, tak lama kemudian ia menjawab silakan, tapi aku masih siaran, kunci di tempat biasa.

Sesampai di rumah Nina aku langsung mandi dan meminjam bajunya. Aku mencoba menghilangkan sembab dengan mengompres mataku menggunakan air hangat, namun percuma air mataku tetap keluar. Aku mencoba menelpon ibu, kukatakan bahwa aku masih di rumah Nina. Alhamdulillah ibu tidak banyak pertanyaan. Mungkin karena beliau masih capek, karena baru sampai di rumah setelah satu Minggu di rumah kakak. Puji syukurku, travel malam dari Surabaya biasanya sampai rumah saat adzan Subuh, ini tadi ibu mengatakan pukul 06.15 WIB baru sampai karena macet yang disebabkan adanya kecelakaan. Berarti bapak dan ibu tidak tahu kalau aku semalam tidak pulang, ibu mengiranya aku siaran pagi, dari pukul 06.00 sampai dengan pukul 09.00. Aku berfikir lagi untuk rencanaku selanjutnya. Aku tidak boleh berlama-lama di sini. Aku harus segera pergi sebelum Nina pulang siaran. Sebisa mungkin aku harus mampu menutup aib ini dari siapa pun. Tekadku.

Jam dua belas kurang seperempat aku ke luar dari rumah Nina, kunci kutaruh di tempat biasa, dan SMS dia. Aku pulang. Sepanjang perjalanan dari rumah Nina perasaan ada yang mengikutiku, tidak jarang aku terkejut dan merasa takut. Dalam pandanganku orang itu adalah Afdal, namun setelah aku perhatikan ternyata bukan. Mungkin ini traumaku.

Sesampai di rumah helm tidak kulepas di garasi. Ibu menyambutku dengan tergopoh-gopoh. Setelah mencium tangan ibu aku pun berlalu untuk segera ke kamar.

“Kamu tadi lupa mematikan lampu?” aku kaget dengan pertanyaan ini, aku baru ingat kalau semua lampu luar masih menyala, karena kemarin siaran pukul 17.00 sampai dengan pukul 21.00 dilanjut acara Simfoni Malam.

“Iya Bu, tadi saya kesiangan,” jawabku singkat, beruntung ibu percaya.

 “Bapakmu masih tidur, sudah makan?” tanya ibu.

“Sudah, aku mau tidur dulu, Bu,” kataku sambil menutup pintu kamar. Kuhidupkan tape recorder di kamarku dengan suara agak keras agar yang kulakukan tidak terdengar bapak dan ibu. Kutumpahkan semua kekesalanku dalam air mata pilu.

***

Tiga hari aku tidak masuk kerja, rasanya aku belum siap bertemu dengan siapa pun. Alasan sakit yang kubuat tidak bisa lebih dari tiga hari ini. Aku ingin berhenti saja meski sebenarnya sangat berat bagiku meninggalkan acara yang selama ini kuidam-idamkan yakni Simfoni Malam, tapi bagaimana lagi fikiranku serasa tak mampu lagi, jangankan untuk siaran, untuk bertemu orang saja aku tidak berani. Apalagi bila mengingat Mas Radit, ibunya, kepalaku langsung pusing. Seperti sore itu, seingatku aku mandi namun tiba-tiba aku tersadar sudah berada di rumah sakit saat malam hari. Kulihat di sekitarku ada ibu, bapak. Terbayang di mataku, Mas Radit datang dengan juta kasih sayangnya dan berharap kesucianku, aku merasa takut sekali. Kepalaku pusing, mataku jadi gelap, dan setelah itu aku pun tidak tahu apa yang terjadi. Tersadar lagi ketika adzan Subuh berkumandang. Kupandang bapak dan ibuku yang tertidur lelap di sisi kanan kiriku, tenggorokanku terasa kering dan panas sekali, aku berusaha tidak membangunkan mereka. Pelan-pelan kuraih gelas aqua di meja, kuminum, dan ketika hendak mengembalikan ke meja malah terjatuh. Saat itu ibu terbangun, begitu pula bapak.

“Bagaimana Si?” tanya ibu menanyakan keadaanku.

“Kepalaku pusing!” kataku pada ibu.

“Iya, la tensimu kurang dari Sembilan puluh!” sahut bapak.

“Maagmu juga kambuh,” tambah ibu lagi. Aku mengiyakan saja. Di kedalaman hatiku, aku bersyukur dengan diagnose dokter, sehingga prahara kehancuranku tidak terendus bapak dan ibu. Lalu mereka mengajakku salat Subuh setelah aku bertayamum.

Selesai salat, bapak dan ibu duduk di samping kanan kiriku. Mereka berharap aku cepat sembuh, karena seminggu lagi kakakku akan pergi beribadah haji bersama istrinya, mereka harus menunggui cucu-cucunya dan menyiapkan segala sesuatunya. Hal ini kusambut dengan gembira, berarti beberapa saat lamanya aku bisa menghindar dari Mas Radit.

“Aku ikut, Bu!” kataku dengan manja.

“Pekerjaanmu bagaimana?” sahut bapak.

“Aku ingin berhenti dulu, aku ingin istirahat,” jawabku lagi.

“Apa tidak sayang, nanti mencari pekerjaan lagi sulit lo,” ibu menimpali. Aku menggeleng lemah. Aku benar-benar ingin istirahat beberapa saat, mengembalikan keberanianku untuk bertemu orang-orang.

“Ya tensimu harus normal dulu, baru bisa ke Surabaya,” putus ibu, bapak hanya mengangguk setuju, dan aku merasa lega dengan keputusan ibu ini.

Tepat di hari kelima aku diizinkan pulang oleh dokter, dua hari ibu membersihkan rumah dan malam harinya kami menuju ke Surabaya dengan sebuah mobil travel yang telah dipesankan kakak. Ada rasa pahit kurasakan di relung terdalam hatiku, aku harus meninggalkan desa yang sangat kucintai dengan membawa aib yang sangat besar. Hilang segala asa, cita, dan citra diriku. Nama yang kubangun dengan susah payah selama menjadi penyiar harus tercampak begitu saja. Bagaimana tidak. Bila para pendengar mengetahui aib yang kuterima pasti mereka akan mencampakkanku begitu saja. Mas Radit, kata ibu harus mengikuti diklat di Jakarta selama dua puluh hari. Aku masih ada waktu untuk menenangkan diri sebelum mengambil keputusan.

Setiap hari di rumah kakak diadakan pengajian anak-anak panti asuhan yang terletak tidak jauh dari rumahnya, begitu pula aku, aku selalu mengambil kesempatan untuk mendengarkan ceramah dari ustadz yang berbeda-beda setiap harinya. Di rumah kakak juga ada satu ruang sebagai perpustakaan keluarga yang tersedia banyak buku dan majalah Islami. Banyak hal pula yang kudapat dari membaca di perpustakaan ini. Sedikit demi sedikit kuretas rasa rendah diriku. Hidupku belum berakhir, aku harus terus berjuang meski dengan kondisi seperti ini. Banyak hal yang seharusnya bisa kuraih. Walau untuk kembali dengan mas Radit itu tidak mungkin. Targetku sekarang hanya satu, yakni membahagiakan bapak dan ibu.

Sujud syukurku pada Allah Swt. Bulan yang kutunggu-tunggu datang juga. Alhamdulillah aku xxxx berarti aku xxxxx xxxxx. Aku tak bisa membayangkan seandainya aku xxxxx. Beban mentalku akan bertambah lagi. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus xxxxxxx dengan Afdal bedebah itu.

***

Kurasakan aku berada di tempat yang asing. Hendak bangun namun kepalaku terasa berat. Aku berselimut, tapi ini bukan selimutku. Kupandang sekelilingku, ini bukan kamarku. Aku langsung duduk.


Kalimat yang menginspirasiku.

Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak percaya itu." -Ali bin Abi Thalib


Buku lainnya.




 

Minggu, 15 Agustus 2021

Epis 5 Fans Setiaku


 
Terima kasih pada pembaca yang masih setia berliterasi di blog ini. Semoga tidak semakin hambar ya...

Di balik kesyahduan syair-syair puitisnya, ia juga mampu bermain peran. Sayang aku bukan seorang yang mampu dengan mudah mendekati seorang wanita, aku memerlukan waktu yang lama untuk mengenalnya atau sekedar mengajaknya mengobrol.


Episode 5 (Sasi Kirana)
Fans Setiaku

                Kembali pada aktivitasku, setiap hari aku memiliki jam kerja yang berbeda, kecuali untuk acara Simfoni Malam yang kuasuh selalu dimulai pukul 21.00 sampai dengan 22.00 setiap hari Sabtu. Tanpa diketahui siapa pun kini ada sosok lain yang menjadi fans setiaku, karena ia menggunakan nama udara. Nama Arvel Anantara sebenarnya nama yang tak asing bagiku. Dulu nama itu selalu mengirimkan syair-syair indahnya untukku, Rena Antari lewat suara lembut bersahaja Mas Radit. Dan tak jarang aku pun membalasnya dengan cara yang sama. Kini, nama itu muncul lagi, mungkinkah nama itu milik Mas Radit? Tanyaku dalam hati tanpa pernah berani untuk bertanya. Hingga pada suatu hari Minggu, Mas Radit mengajakku jalan. Aku tak menolak tapi kupagari hatiku agar tak berfikir lebih untuk seorang Radit. Ia banyak sekali fans setianya. Dia pasti sudah memiliki seorang kekasih. Kalau pun hari ini mengajakku jalan, mungkin hanya sebagai sesama penyiar saja. Tidak lebih. Tepisku dalam hati yang mulai dirayapi getaran aneh tentang Mas Radit. Aku tidak boleh berharap apa pun dari perjalanan ini.

            Jalanan ramai, banyak muda-mudi berpasangan hilir mudik menuju pantai. Kupikir mas Radit akan mengajakku ke pantai tapi ternyata tidak, Mas Radit membelokkan motornya ke kanan lurus menuju perumahan. Perumahan Bougenvill Village. Aku mulai was-was.

         “Sebenarnya kita mau ke mana?” tanyaku dengan nada khawatir.

            “Tenang aja, kita makan dulu, aku lapar,” jawabnya santai.

            “Makan di mana?” kejarku lagi.

            “Kepikiran banget, aku bukan penjahat yang mau menculik tuan putri lo...,” jawabnya lagi. Dan hatiku berdegup kencang ketika tiba-tiba Radit menghentikan motornya di sebuah rumah mungil nan asri, padu padan antara cat pagar kayu yang berwarna-warni dengan tanaman di taman sangat serasi.

            “Rumah siapa?” tanyaku penasaran.

            “Arvel Anantara,” jawabnya singkat dengan senyum menggoda.

            “Kok!” serasa ada yang menyekat di rongga tenggorokanku. Kata-kataku tak bisa ke luar dengan sempurna. Berarti Arvel Anantara selama ini Mas Radit? Tanyaku dalam hati.

            “Sudahlah,” sergahnya sambil menarik tanganku dan membawanya masuk ke rumah.

            “Silakan duduk Tuan Putri,” serunya sambil menunjukkan tempat duduk untukku. Ia pun berlalu ke dalam sambil berkata.

            “Sebentar ya?” aku masih terpana dengan nama yang disebutnya baru saja. Nama itu telah ada sejak aku menjadi fans setianya, benarkah mas Radit menyimpan rasa itu selama ini? Selama menjadi fansnya aku tidak pernah bertemu dengannya.

            Aku bingung dengan perlakuan Mas Radit, aku tak pernah sekali pun mendatangi rumah cowok, apalagi dibawa seperti ini. Aku merasa tidak nyaman dengan perlakuan yang seperti ini. Aku kecewa.

        “Oo.. ada tamu,” suara seorang perempuan dari dalam membuyarkan lamunanku. Aku berdiri menyambut jabat tangannya.

            “Kenalkan, ibunya Radit,” tambahnya lagi.

            “Saya Kirana,” jawabku ragu, ia tersenyum.

            “Radit sering bercerita tentang Nak Kirana,” kata ibunya lagi, membuatku penasaran. Radit muncul dengan nampan berisi teh dan sepiring kue.

            “Maaf, tidak punya bibik,” guraunya sambil menaruh nampan di meja, ibunya hendak memindahkan teh ke dekatku.

            “Biar saya saja Bu,” kataku sambil berdiri dan mengambil teh tersebut kusajikan untuk ibu, Radit dan untukku. Aku merasa tidak enak dengan situasi ini.

            “Di sini santai saja Nak, ibu hanya berdua dengan Radit, bapaknya meninggal sejak Radit berumur lima tahun,” ibunya mengawali percakapan kami lagi. Mungkin melihat aku gugup, merasa tidak nyaman sekali, dan akhirnya aku hanya mampu mengangguk untuk menutupinya.

            “Nak Kirana berapa bersaudara?” tanyanya.

            “Berdua, dengan kakak laki-laki,” jawabku.

            “Oo.. kakaknya apa sudah menikah?” balasnya.

“Sudah, sekarang tinggal di Surabaya,” jawabku, mau melanjutkan Mas Radit sudah muncul lagi. Aku pun akhirnya bisa mengimbangi pembicaraan ibu.

            “Wah.. ibu, kalau ada tamu, diajak ngobrol terus. Maklum biasanya sendirian. Ayo makan dulu. Aku sudah siapkan lo…,” ajak Mas Radit.

            “Iya Nak ayo makan dulu, hari ini ibu masak istimewa, opor ayam sama lontong kesukaan Radit,” aku hanya menurut tak tahu bagaimana jika mau menolaknya.

            Penataan perabot di ruang tengah dan ruang makan tidak berlebihan, namun kelihatan sekali kalau terawat setiap hari. Pasti sentuhan lembut jemari tangan ibu yang merawatnya. Mereka tampak akur sekali, saling menyayangi. Aku semakin mengagumi keluarga ini. Aku ingin turut dalam kemesraan mereka.

            Di tengah-tengah suasana makan ibu banyak bercerita tentang Radit dan masa lalunya. Kadang ada rasa cemburu, kagum, dan kadang juga ingin menjadi bagian dari mereka. Namun, aku bukan siapa-siapa, mungkin saja banyak gadis-gadis yang dibawa untuk dikenalkan pada ibunya.

            Selesai makan siang ibunya pamit untuk salat Duhur dan beristirahat. Aku dan Mas Radit duduk di taman belakang yang ternyata juga sarat dengan tanaman. Ada tanaman bunga, obat-obatan, dan sayuran. Ibu betul-betul seorang yang rajin, seperti bapakku dalam hal bertanam. Mas Radit menceritakan tentang bagaimana mencari tahu tentang ihwalku dari mas Hendra temannya sewaktu sama-sama mengikuti lomba menjadi penyiar di radio tempatnya bekerja sekarang, yang rumahnya tak jauh dari rumahku. Itu dilakukannya sebelum aku menjadi penyiar, sehingga dia tahu betul tentang masa-masa SMAku. Kini, ia merasa tiada keraguan lagi untuk membawaku pada ibunya dan meminangku menjadi istrinya. Namun bagiku semua itu terlalu terburu-buru, aku hanya mengenal Mas Radit seorang penyiar dengan suara sangat menyentuh hatiku, lebih dari itu aku belum tahu apa-apa. Meski jujur aku tertarik padanya, namun untuk melangkah ke jenjang rumah tangga, aku meminta waktu dan mas Radit mengiyakan, begitu pula ibunya.

            Selama penantiannya Mas Radit sering mengunjungiku, sebaliknya aku juga sering menjenguk ibunya. Aku merasa mungkin ini yang terbaik bagiku, sehingga aku pun meminta persetujuan kedua orang tuaku. Hasilnya mereka dengan senang hati merestui. Aku bahagia, perjalananku mendapat restu ke dua belah pihak tanpa harus bersusah payah seperti selama ini, bapak dan ibu melarangku untuk berpacaran termasuk ketika aku berpacaran dengan Mas Afdal. Perjalanan cinta kami lalui dengan indahnya, aku yang masih sangat muda berpacaran dengan Mas Radit yang terbilang sudah dewasa, dia mampu menuntunku dalam banyak hal. Dalam kepenyiaran dia selalu menambah ilmuku dengan beragam pengetahuan yang dimilikinya. Dari sisi kehidupan ternyata pengetahuan agama dan sosial kemasyarakatannya juga sangat baik. Pandai sekali dia mencuri perhatian kedua orang tuaku, seminggu saja Mas Radit tidak ke rumah pasti ditanyakan. Hal ini semakin membuatku enggan untuk menerima permintaan kakak supaya aku melanjutkan kuliah. Aku telah terpaut dan terlena dengan keagungan cinta kami. Masa-masa ini sangat indah kulewati sebagaimana remaja lain. Tak ingin lagi memikirkan yang lain, selain bekerja dan mengisi hari dengan sahdunya kebersamaan.*** Bersambung ke episode 6 ....

Aku tak menolak tapi kupagari hatiku agar tak berfikir lebih untuk seorang Radit. Ia banyak sekali fans setianya. Dia pasti sudah memiliki seorang kekasih.


Kataku

Jangan risau ketika perjuangan tidak sesuai harapan. Ingat, kita hanya sebagai pelaku, bukan penentu.


Buku lain


Buku ini karya bersama 10 besar sayembara penulisan karya ilmiah bahasa  dan sastra Badan Bahasa Kemdikbud Jakarta 2016


Sabtu, 07 Agustus 2021

Epis 4 Rena Antari, Gadis Impianku

Aku hilang keseimbangan antara logika dan rasaku. Sosok Radit ternyata persis seperti dalam imajiku. Tinggi, hitam manis, cara berpakainnya sangat rapi, dan satu lagi yang kuperhatikan tidak banyak basa-basi.


Rena Antari, Gadis Impianku 


            Sasi Kirana, aku terkejut mendengar nama itu disebut seorang gadis cantik dan mungil di hadapanku apalagi tangannya dalam jabatku. Reflek tangan itu kugenggam erat, seakan tak ingin kulepas lagi. Ingin kuperjelas segala tentangnya, namun cowok di belakangnya kelihatan tidak suka dengan caraku memandangnya. Segera kulepaskan jabat tanganku, dan aku mendapati nama cowok di belakangnya adalah Yosi. Mungkinkah kekasihnya? Sebuah tanya yang tak mungkin kudapat jawabnya saat ini juga. Masih lekat di ingatanku bahwa Sasi Kirana adalah nama asli Rena Antari, ini yang dikatakan Hendra dulu.

            Suasana aula semakin ramai, diam-diam kuperhatikan segala gerak dan ucap Rena Antari dari jauh, dia gadis impianku sejak dua tahun lalu. Tanpa disengaja kami bertemu jua di acara halal bi halal dan Pentas Kreasi Radio se Kabupaten. Rupanya dia telah menjadi seorang penyiar, aku benar-benar terpana dengan penampilannya pada opera tadi. Dia seorang gadis yang multi talenta menurutku. Di balik kesyahduan syair-syair puitisnya, ia juga mampu bermain peran. Sayang aku bukan seorang yang mampu dengan mudah mendekati seorang wanita, aku memerlukan waktu yang lama untuk mengenalnya atau sekedar mengajaknya mengobrol. Kucoba menemuinya di balik panggung, namun rombongannya sudah memanggil untuk segera. Aku berharap suatu hari bisa menemuinya.

            Sasi Kirana, sebuah nama yang unik menurutku, Sasi dalam bahasa Jawa berarti bulan, dan Kirana berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti sinarnya cantik dan molek. Perpaduan dua bahasa yang sangat pas. Bila ditanya mengapa aku sangat ingin menggapainya bukan semata karena cantik dan anggunnya tapi syair-syair yang pernah ditulisnya dulu memang sudah mampu mencuri perhatian dan hatiku. Setiap diksi yang digunakan sangat mewakili keagungan sebuah puisi yang ditulisnya. Ini yang tidak semua penulis bisa memilikinya.

            Sesampai di rumah, aku masih sibuk memutar otakku untuk mencari cara yang tepat mendekati Rena. Kuputar gelombang radio tempatnya bekerja, suara tidak terlalu jelas mungkin karena terlalu jauh dengan rumahku, namun aku sempat mendapat nomor teleponnya. Dari nomor ini aku berhasil mendapatkan jadwal siarnya. Sekarang aku memiliki pekerjaan baru, sepulang kuliah jika tidak siaran aku selalu mendengarkan suara lembut Rena. Aku demikian terbius oleh suaranya yang lembut, dan aku juga telah menjadi fans setianya. Kukirim syair-syair terbaikku untuknya, untuk Rena.***

Di balik kesyahduan syair-syair puitisnya, ia juga mampu bermain peran. Sayang aku bukan seorang yang mampu dengan mudah mendekati seorang wanita, aku memerlukan waktu yang lama untuk mengenalnya atau sekedar mengajaknya mengobrol.

Bersambung ke episode 5 Fans Setiaku

Kataku. 

"Jangan menggadaikan kesedihan pada siapa pun, terus berdiri dan berjuang. Dengan demikian kau tidak akan berpikir untuk menebusnya suatu hari."  (🌼Menebar Asa🌼).

Buku lainnya ...



Minggu, 01 Agustus 2021

Epis 3 Terpukau

 




 

Sahabat masih ingat dengan episode sebelumnya? Jika sudah lupa bisa berliterasi ulang di episode 1 dan 2. Caranya dengan klik tanda panah di sudut kanan bawah 🤔🤔

Episode 3 

 Terpukau

                Hari itu aku datang di acara Pertemuan Komunitas Penyiar (PKP) yang bertempat di sebuah rumah makan di tepi pantai. Semilirnya angin silih berganti dengan suara debur ombak membuat suasana terasa romantis. Aku datang bersama teman-teman sekerja yakni dari Radio Suara Desaku kecuali mas Dika dan Andre yang sedang bertugas. Setelah melakukan registrasi kami pun memasuki ruangan sambil berkenalan satu sama lain sebelum acara dimulai. Tiba-tiba jantungku seperti berhenti berdetak ketika ada yang menyebut namanya “Radit” saat berjabat tangan denganku. Aku hilang keseimbangan antara logika dan rasaku. Sosok Radit ternyata persis seperti dalam imajiku. Tinggi, hitam manis, cara berpakainnya sangat rapi, dan satu lagi yang kuperhatikan tidak banyak basa-basi. “Sasi Kirana” jawabku sambil berusaha melepaskan jabat tangannya seketika karena kurasakan ada yang menekan di ujung jari jemariku, dan aku berusaha menghilangkan kesan terpukau pesonanya karena Mas Yosi menegur kami.

            Sepanjang acara, perhatianku sedikit pun tak terlepas dari Radit. Saat mengambil makan dan minum aku ingin sedikit mengenalnya, namun tidak sedikit wanita yang mendekatinya untuk berkenalan. Hingga pada puncak acara yakni pertunjukan seni hasil kreasi dari masing-masing radio. Betul dugaanku, Radit selalu menjadi pusat perhatian. Dia sebagai pemeran utama dalam sandiwara yang ditampilkan. Semua bersorak ketika Radit muncul di pentas. Kecil hatiku dengan keadaan ini. Impianku lebih dekat dengan Radit tidak semudah yang kubayangkan. Fans wanitanya sangat banyak.

            Tiba giliran kelompok Radio Suara Desaku yang menyajikan sebuah opera tentang perjalanan seorang wartawan yang tidak mau disuap. Aku sempat grogi dan kehilangan beberapa kata ketika tanpa sengaja kilatan bola mataku beradu pandang dengan Radit. Tapi syukurlah aku segera tersadar dan mampu menguasai diri hingga pertunjukan opera selesai. Sorak sorai penonton menyertai berakhirnya semua pertunjukan. Aku ganti kostum dan merapikan diri lalu beranjak ke luar. Namun tanpa kutahu tiba-tiba sebuah tangan yang sarat kelembutan terulur di hadapanku menunggu jabat tanganku.

            “Ow…,” kagetku sambil mengulurkan tangan.

            “Selamat, Anda tampil dengan bagus sekali,” ucapnya teriring senyum yang membuatku salah tingkah. Belum sempat aku menjawab ia sudah meneruskan kalimatnya.

            “Bukankah Anda, Rena Antari?” ia menyebutkan nama udaraku dulu, saat aku menjadi fans setianya.

            “Iya,” jawabku spontan. Aku senang tapi ia tahu dari mana ya? perasaan kami belum pernah bertemu. Sebuah Tanya yang tak sampai ke luar dari mulutku. Karena kurasakan kelu di ranting-ranting lidah dan bibirku.

            “Pantesan… tak pernah ada kabarnya, sudah menjadi penyiar rupanya, musik tembang malamku jadi kesepian lo tanpa syair-syair Anda,” sindirnya lagi. Tatapan matanya sangat menggoda bagiku. Tak tahu bagi dia, sengaja menggodaku atau memang seperti itu. Ah aku hanya bisa tersenyum tanpa berani berharap lebih.

            “Saya baru belajar, Mas,” jawabku lagi. Namun kami harus segera berpisah karena  Nina sudah memanggilku dari tadi. Ternyata betul teman-temanku sudah siap di mobil untuk pulang.

            “Dari mana saja sih, lama banget,” suara Santi yang mulai kegerahan setelah beberapa lama di dalam mobil.

            “Sett!!, Mbak Kina dapat cowok cakep,” jawab Nina sekenanya, hal ini membuat mata Mas Yosi melirik kesal kepadaku. Aku hanya diam, kuisyaratkan supaya Nina diam namun dia malah bertanya padaku.

            “Siapa namanya Mbak? Kenalin dong,” aku tidak tahu lagi bagaimana menghentikan gurauan mereka yang bernada mengejekku. Sementara mobil perlahan meninggalkan semilirnya udara pantai yang membawa juta bahagia bagiku.

            “Aku tahu, dia itu namanya Radit,” jawab Santi, membuat suasana semakin menyesakkan rongga-rongga pernafasanku, karena kelihatan sekali bayang-bayang muram di wajah mas Yosi yang duduk di samping sopir dan aku duduk di belakang sopir.

            “Yang mana sih?” tanya Lani yang sedari tadi diam. Membuat seisi mobil berdengung kecuali aku dan Mas Yosi yang terdiam dalam alam pikiran kami masing-masing.

            “Baru bangun Lan?” kata Nina, suasana di dalam mobil masih ramai canda tawa teman-temanku.

            “Yang memerankan tokoh Arga tadi lo,” jawab Nina lagi, kulirik Lani berusaha mengingatnya.

            “Kamu sih, tadi disuruh panggil mbak Kina gak mau, coba kalau mau pasti dah kenalan sama tuh cowok,” jawab Nina asal.

            “Memang kamu tadi kenalan?” jawab Lani, Nina mengangguk.

            “Betul mbak?” tanya Lani padaku, aku hanya tersenyum dan ketika aku menggeleng semua ramai mencibir pada Nina.

            “Huuuuuuuuuuu,” sorak semua.

            “Dasar!” kata Lani.

            Sepanjang jalan kami bersenda gurau seakan tiada sekat di antara kami, ya di tempat kerja kami tidak saling membentangkan istilah aku senior dan kamu yunior, namun tetap saling membina rasa saling menghargai. Ini yang membuatku sangat senang bekerja di radio ini.*** 


Aku hilang keseimbangan antara logika dan rasaku. Sosok Radit ternyata persis seperti dalam imajiku. Tinggi, hitam manis, cara berpakainnya sangat rapi, dan satu lagi yang kuperhatikan tidak banyak basa-basi.


Bersambung ke episode 4 Rena Antari, Gadis Impianku


Kataku.

Jangan berharap mengerti perjuangan hidup pada seorang yang tidak pernah memperjuangkan hidupnya. {🌷Menebar Asa🌷}


Buku lain