Sesaat Tanpa Hadirmu
Selama di bumi Blambangan banyak hal yang kuperoleh.
Kota ini sangat unik, kaya dengan seni, budaya, sejarah, dan upacara-upacara
ritual. Di bidang seni ada gandrung
dengan penari cantiknya, kuntulan, batik
gajah oleng, dan lain-lain. Budaya ditunjukkan dengan kiling, mocoan, paglak, dan geredoan. Upacara ritual ditunjukkan
dengan adanya puter kayun, pethik laut,
ider bumi, seblang, tumpeng sewu, dan lain-lain masih banyak lagi.
Adapun aneka kuliner tidak kalah nikmatnya tersaji
di sepanjang jalan yang kulalui, ada rujak
soto, nasi tempong, pecel rawon, dan ketika pagi hari tersaji sebuah menu
yang sangat unik yakni sego cawok.
Keempat jenis kuliner ini sudah pernah kunikmati. Rujak soto adalah paduan rujak petis yang disiram kuah soto babat
atau soto ayam. Sebelum merasakan yang kubayangkan adalah rasa neg, namun ternyata sangat cocok di
lidahku. Nasi tempong adalah nasi
bertemankan sayuran dan sambal yang khas (pedas), dengan lauk dadar jagung yang
orang Banyuwangi menyebutnya dengan istilah gimbal
jagung, tempe, tahu dan ikan asin, sehingga setelah makan muka/wajah
terutama bagian mulut serasa seperti habis ditempong
atau ditampar. Dan pecel rawon adalah
nasi dengan pecel yang disiram kuah rawon dengan lauk kering tempe dan daging
sapi tentunya. Menu ini juga sangat kunikmati, karena belum pernah kudapatkan
di tempat lain. Sungguh Banyuwangi sangat kaya rasa dan budaya yang memesona.
Tempat-tempat wisata yang sempat kukunjungi adalah
yang berada di sekitar kota, seperti Pantai Boom, Taman Sri Tanjung, Pantai
Watu Dodol, Pemandian Taman Suruh dan Wisata Oseng, serta Kawah Ijen. Pantai
Boom terletak tidak jauh dari kota Banyuwangi, begitu juga dengan Taman Sri
Tanjung terletak di depan Pendopo Kabupaten Banyuwangi. Taman ini nyaris tidak
pernah sepi dari pengunjung karena letaknya di pusat kota, dan tersaji aneka
kuliner yang sangat murah. Ada pisang godog, kacang godog, tahu petis, rujak
buah, dan lain-lain tidak ketinggalan penjual mainan anak-anak. Ke arah utara
ada pantai Watu Dodol, yang terletak persis di pinggir jalan, jadi bisa
dinikmati tanpa harus jauh-jauh berjalan. Dari pantai ini tampak dengan jelas
pulau Bali. Dan ketika jiwa ini didera rasa lelah kulepaskan dengan mandi di
kolam dengan air yang sangat dingin, yakni di kolam renang Taman Suruh yang
sering disebut sebagai kali kotak
oleh orang Banyuwangi. Selain di Taman Suruh ini masih ada dua kolam renang
lagi yakni Wisata Oseng (WO), dan kolam renang Mirah Fantasi yang dilengkapi
dengan Taman Satwanya. Ke arah barat adalah menuju Kawah Ijen. Perjalanan
menuju Kawah Ijen memerlukan stamina yang fit, namun setelah sampai di puncak
rasa lelah itu tergantikan dengan pemandangan yang sangat luar biasa, yakni Blue Fire yang sangat eksotik.
Kembali ke tujuanku semula yakni menemui seorang
penari gandrung untuk sebuah tulisan yang akan kuikutkan dalam lomba Pelangi Budaya Nusantara. Ketika aku
datang, ia sedang melatih menari beberapa remaja putri di rumahnya. Seseorang
menyuruhku masuk dan menunggu sampai tarian selesai. Ia melatih penari muda itu
dengan cukup sabar namun tegas, kelihatan ada seorang penari yang mungkin masih
baru bergabung sehingga seringkali kelihatan kaku pada beberapa gerakan, ia
menegur tanpa menghentikan tariannya, dan tak berapa lama tampak penari itu
sudah mampu menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Akhirnya tiba juga waktu
istirahat mereka, saat jeda istirahat inilah sang penari menemuiku di ruang
tamu yang juga merupakan tempat latihan para gadis tadi. Di wajahnya yang mulai
terdapat guratan renta ia masih tampak cantik dan penuh semangat. Ternyata
kisah hidupnya tak semanis tarian yang selalu dibawakannya, seperti halnya
kehidupan kita, ia juga tidak lepas dari pernak-pernik yang beraneka warna yang
membuatnya jatuh bangun demi melestarikan budaya Banyuwangi yang ia kuasai
yakni tarian gandrung. Ada sorot mata
jijik, bibir mencibir, kata-kata tak manusiawi, bahkan perlakuan tak
menyenangkan kerap kali tertuju padanya, saat ia berada di puncak kesuksesan
sebagai penari. Namun apapun yang terjadi ia akan terus dan terus menari,
kalaupun ia sudah tak mampu ia akan menjadi pelatih menari seperti yang saat
ini dilakukannya, ia sudah mulai mengader anak-anak dan para remaja yang
berbakat menari. Setelah data yang kuperlukan cukup aku pun segera meminta diri
dan berpamitan karena di luar sudah menunggu beberapa mahasiswa dari sebuah
universitas di Surabaya dan seorang wartawan sebuah televisi swasta.
Setelah lebih kurang sepuluh hari di kota gandrung
ini, aku pun pulang ke kotaku. Belum sempat menulis hasilnya sudah disusul
tugas baru, aku harus berangkat ke Jakarta untuk mengikuti diklat selama dua
puluh hari. Kucoba kontak Rena namun nomor ponselnya tidak aktif. Akhirnya aku
hanya SMS bila aku ada tugas diklat ke Jakarta. Aneh, Rena tak membalas SMSku. Ada
rasa sepi yang mengintip relung-relung kalbuku yang terus mengiris hatiku dan
berujung pada kegalauanku. Namun setelah empat hari di sini (Jakarta), tugas-tugas diklat
turut menyita perhatian dan energiku sehingga aku pun tak sempat lagi berpikir
tentang sepinya hati.
Di sela-sela padatnya acara, aku sempat mengenal
seorang perempuan seusia Rena, Ambar namanya. Dia seorang gadis yang ceria dan
ramah. Mungkin hadirnya juga yang membuatku sejenak tak merasa sepi meski tanpa
SMS Rena. Namun masih kubatasi tingkah dan gerakku terhadapnya, aku ingat betul
bahwa Rena adalah pelabuhan cintaku yang pertama sekaligus yang terakhir,
harapku. Aku bukan tipe cowok yang pandai mengatur strategi untuk bermain-main
dalam sandiwara cinta. Bagiku Rena sudah cukup menghiasi istana hatiku,
terlebih ibuku demikian menyayanginya seperti anak sendiri.
Hingga suatu siang saat kami menuju kamar
masing-masing untuk istirahat, Ambar berjalan di sebelahku, dia menyampaikan
maksudnya untuk meminta pertolonganku menjelaskan beberapa materi yang belum
dia pahami. Akhirnya usai sholat Dhuhur, masih ada waktu istirahat lebih kurang
satu jam, waktu inilah yang kugunakan untuk menemui Ambar. Aku menuju restoran,
tempat yang telah kami sepakati. Suasana masih sepi, sehingga kami bisa memilih
tempat yang tidak terlalu banyak lalu lalang tamu hotel yang hendak makan,
yakni di sudut restoran berdekatan dengan sebuah vas bunga besar yang
bertaburkan bunga plastik yang dirangkai sedemikian rupa sehingga tampak cantik
dan elegan.
Setelah memesan makanan ringan dan minuman, kami pun
mulai membahas satu per satu materi yang belum dipahami Ambar. Ada beberapa hal
yang ternyata aku juga tidak bisa menjawabnya, namun setelah kami diskusikan
ternyata kami temukan jawabannya. Aku baru kali ini meluangkan waktu ke
restoran selama tujuh hari diklat, ternyata banyak peserta diklat yang
menggunakan waktu istirahatnya untuk sekedar duduk dan menikmati menu makanan
ringan di sini. Selama ini waktu istirahatku benar-benar kugunakan untuk tidur
di kamar, selebihnya melihat televisi sambil ngobrol dengan teman-teman se-blok
yakni blok Anggrek.
Ambar telah kembali duduk di depanku setelah
beberapa saat menerima telepon. Matanya tampak berkaca-kaca. Rupanya telepon
barusan yang membuatnya bersedih. Aku paling tidak bisa melihat seorang
perempuan meneteskan air mata di depanku. Dengan hati-hati aku pun bertanya.
“Ada apa?” tanyaku. Dia hanya menggeleng namun
butiran ranainya terus mengalir membasahi pipinya yang memerah. Kuambilkan tisu
yang berada di meja dan kuberikan. Ia mengusapnya, dengan suara berat ia menjawab
pertanyaanku.
“Ada seseorang yang mengejarku ke sini,” jawabnya
lirih.
“Memang ada yang Anda bawa dari dia, sampai-sampai
mengejar ke sini?” jawabku mencoba mengalihkan suasana hatinya.
“Dia mantanku, dan sekarang berada di kota ini untuk
memintaku kembali padanya,” jawabnya lagi tak menghiraukan kelakarku.
“Wow… ya jelas Anda dikejar, lha wong Anda telah
melarikan hatinya,” kelakarku lagi, kali ini ia tersenyum di antara guratan
kesedihannya.
“Mas! Aku serius ni,” sergahnya, dengan rona merah
yang memancar di wajahnya seperti ini ia tampak lebih manis. Pikiran kotor
mulai menggoda akal sehatku.
“Iya iya gimana?” jawabku lagi.
“Aku mau minta tolong ni,” katanya dengan merajuk
meminta persetujuanku. Aku hanya mengangguk berharap ia melanjutkan kata-katanya.
“Sebelumnya aku mohon maaf, aku berharap Mas mau
berpura-pura menjadi … kekasihku, karena malam ini ia akan datang ke sini,” jawabnya
dengan malu, wajahnya menunduk tak berani menatapku. Aku terkejut dengan
permintaannya.
“Sebentar, sebentar, apa dulu permasalahannya?” jawabku
dengan hati-hati, entah mengapa tiba-tiba aku merasa takut terjebak.
“Tapi janji ya Mas, kalau sudah tahu permasalahannya,
Mas akan membantuku,” jawabnya memastikan permintaannya padaku. Walau masih
ragu, aku mencoba mengangguk.
Akhirnya ia pun bercerita tentang hubungannya dengan
seorang lelaki bernama Arsyad, mereka saling mencintai hingga usia pacaran
menginjak tahun keempat mereka bertunangan, walau belum ada rencana melangkah
ke jenjang pernikahan. Namun akhir-akhir ini Ambar merasa ada yang aneh
ditangkap dari gelagat Arsyad, ia merasa Arsyad menyembunyikan sesuatu darinya.
Diam-diam ia pun mencari tahu tentang aktivitas Arsyad yang mulai sering keluar
kota dengan dalih ada pekerjaan. Ia berusaha mencari tahu ke teman-teman terdekatnya,
mereka tahunya kalau Arsyad mendapat tugas ke luar kota dari bos, bahkan
seringkali bersama bosnya selama berhari-hari. Mengenai pekerjaan apa yang
dilakukan bersama bos mereka tidak ada yang tahu.
Lama ia bersembunyi di balik pencarian tentang jati
diri si bos dan kekasihnya. Hingga suatu hari ketika ia sedang menjadi pembawa
acara di pernikahan seorang anak pengusaha yang bertempat di sebuah hotel di
kotanya, ia mendapati Arsyad bersama bosnya. Beruntung ia tidak sendirian
menjadi pembawa acaranya, sehingga ia bisa mengawasi segala gerak yang
dilakukan Arsyad bersama bosnya. Tampak di situ si bos akrab sekali dengan
orang tua mempelai putri, Pak Hastomo, mungkin mereka memang teman dekat. Di
akhir acara terlihat Si Bos mendapatkan kunci dari Pak Hastomo dan sepertinya dipersilakan
beristirahat. Si Bos menggandeng Arsyad dengan terburu-buru. Aneh dalam pikiran Ambar, seorang bos
laki-laki menggandeng anak buah laki-laki, dan ia pun diam-diam mengikuti ke
mana mereka berjalan.
Ada getar yang menelusup perih di kedalaman relung
hatinya, mengapa Arsyad harus memasuki kamar bersama Si Bos. Mengapa harus
menginap di hotel ini? Seru hatinya. Sejenak ia membolak-balikkan pikirannya.
Ia berusaha mengelak tentang firasat yang selama ini dipendamnya sendiri. Namun,
jika ia pergi meninggalkan hotel ini tanpa sebuah kejelasan berarti ia masih
memerlukan waktu lebih lama lagi untuk mengungkap tabir di balik jati diri
Arsyad. Ia pun berusaha sekuat daya membangun jiwa perempuannya untuk mengetuk
pintu. Setelah ia mengetuk pintu beberapa kali tanpa jawaban, ia pun membuka
pintu yang ternyata tidak terkunci. Ia tidak percaya mendapati keadaan di depan
matanya.
“Mas Arsyad!” ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Sontak mereka yang sedang berusaha melepaskan jerat-jerat asmara terkejut
mendapati kedatangannya.
“Benar ini Kamu, Mas?” katanya lagi
memastikan, tanpa menunggu jawaban ia pun berlalu dengan linangan air mata.
Itulah keadaan terpahit dalam
hidupnya, ia tidak pernah menyangka jika Arsyad seorang yang berkepribadian
ganda. Ia kecewa, hatinya terluka. Pupus segala harap membina mahligai indah
dalam jalinan perkawinan. Hampa ia rasakan menyelinap dan menyusuri
relung-relung kalbunya yang selama ini ia harapkan akan menjadi indah. Putus
adalah jalan terbaik menurutnya. Namun tidak bagi Arsyad, hingga saat ini dia
masih menginginkan Ambar mau menerimanya kembali. Dia berjanji tidak akan
mengulangi tabiatnya yang menurut Ambar sudah tidak mungkin lagi. Malam nanti aku yang
harus berpura-pura menjadi pacar Ambar. Mungkinkah? Melihat kondisi Ambar aku
merasa sangat iba. Aku tak kuasa menolaknya. Akhirnya aku pun menyetujui untuk
melakukan hal itu, yakni berpura-pura menjadi pacarnya.
Benar, malam itu usai
season terakhir, Ambar menerima telepon dan berjalan ke arahku. Sementara aku
belum berniat beranjak dari tempat duduk yang telah menyangga pantatku sejak
pukul tujuh malam tadi. Ada beberapa perkataan Ambar yang kudengar sebelum ia
menutup ponselnya.
“Maaf Mas, bisa kita ke restoran sekarang?” katanya
dengan hati-hati sekali mungkin takut aku tidak berkenan. Memang berat bagiku
melakukan hal ini, namun aku sudah terlanjur berjanji. Akhirnya aku menutup
laptop dan merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja.
Kami pun melangkah meninggalkan ruang season untuk menuju restoran. Sesampai
di sana, Ambar menghentikan langkahnya, tampak matanya melihat ke kanan kiri
untuk mengetahui di mana Arsyad. Lalu ia berjalan ke sudut ruangan dengan
langkah sedikit ragu. Aku paham sebenarnya ia menunggu langkahku untuk sejajar
dengannya, akhirnya aku pun berjalan di sebelahnya.
“Kenalkan Mas, ini Mas Arsyad, yang pernah aku
ceritakan!” kata Ambar padaku mengawali pertemuan kami. Lalu kuulurkan tanganku
pada lelaki di depanku.
“Radit!” kataku setelah kami berjabat tangan. Lelaki
ini dengan postur tubuh yang proporsional untuk seorang lelaki, namun wajahnya
tampak sedikit mellow. Kelihatan
sekali ia tidak suka dengan kedatanganku. Hingga beberapa saat suasana kaku,
akhirnya aku pun berpamitan untuk ke kamar kecil sebentar.
Usai dari kamar kecil, aku kembali duduk. Tampak
Ambar menitikkan air mata. Belum sempat aku bergabung dengan pembicaraan mereka
ponselku sudah berdering. Ada telepon dari kantor. Aku pun meminta diri pada
mereka. Selama menerima telepon kulihat dari jauh ada dua orang laki-laki
mendekati tempat duduk mereka. Aku menjadi was-was dengan keberadaan Ambar di
sana, namun setelah berbincang beberapa saat kedua lelaki itu membawa Arsyad ke
luar dari restoran. Mataku terus mengikuti hendak ke mana mereka bertiga, dan ternyata
di luar sudah menunggu seorang lelaki botak berperawakan tinggi kekar berkacak
pinggang di dekat pintu mobil yang terbuka. Kedua lelaki yang membawa Arsyad
mendorong tubuhnya ke dekat lelaki itu dan disambutnya dengan beberapa tamparan
yang mendarat di wajah Arsyad. Aneh,
Arsyad tidak sedikit pun melawan, ia malah
memohon maaf pada lelaki itu dengan kedua tangan di dada dan kepala
menunduk. Aku benci sekali melihat keadaan ini. Akhirnya lelaki itu mendorong
tubuh Arsyad ke dalam mobil lalu ia menyusul duduk di sebelah Arsyad. Mereka pun berlalu meninggalkan
area parkir mobil setelah dua orang anak buahnya duduk di depan dan
mengemudikan mobil tersebut.
Kututup telepon, aku kembali ke tempat Ambar, namun
tak kudapati dia di sana. Ketika aku hendak pergi, mataku menatap sebuah benda
di bawah tempat duduk Ambar, setelah kuambil ternyata sebuah dompet, pasti ini
dompet Ambar, pikirku. Namun untuk lebih memastikan kubuka dompet tersebut,
benar di situ ada foto Ambar. Aku pun menyimpannya di dalam tas. Aku kembali ke
kamar, karena sangat lelah usai sholat Isya aku pun terkapar lemas tanpa
menghiraukan beberapa teman yang masih asik berbincang riang di depan televisi.
Hingga suara adzan Subuh yang membangunkanku. Aku pun segera beranjak ke kamar
mandi untuk mengambil air wudu, namun bunyi SMS di hp mengajak tanganku untuk
meraihnya terlebih dahulu. Ternyata Ambar yang SMS dan menanyakan apa aku
melihat dompetnya di meja restoran semalam, aku pun menjawabnya dengan singkat.
Usai salat Subuh, kulihat SMS balasan dari Ambar,
dia memintaku mengantar dompetnya di taman dekat kolam. Biasanya di tempat ini
ramai peserta diklat melakukan olah raga pagi, namun hari ini hanya beberapa
orang mungkin karena semalam materi diklat sangat menyita pikiran sehingga
membuat mereka bermalas-malasan di tempat tidur. Kulihat dari balik kaca
matanya, ada sembab yang menghiasi kantong matanya. Kuyakin hal ini karena
kejadian semalam. Ketika
kutanyakan, Ambar sudah lebih baik, dia sudah benar-benar mampu melepas Arsyad.
Keadaan semalam sudah menunjukkan bahwa Arsyad bukanlah laki-laki yang baik
baginya, selamanya dia akan berada di bawah kekuasaan bosnya. Ambar juga
berterima kasih padaku sudah mau menjadi pacar pura-puranya di hadapan Arsyad,
sehingga Arsyad pun sepertinya tidak akan mengharapnya lagi. Di samping
ketidakberdayaan Arsyad terhadap si bos.
***
Kataku
Diam terinjak, berkata tak bermakna, berteriak semakin meraja. Bersabar saja, niscaya waktu kan menjawabnya, menunjukkannya.
Buku lainnya.
Buku ini karya bersama guru SMA, SMK, PK Diklat Fiksi Nonfiksi Provinsi Jawa Timur 2017.









