Senin, 30 Agustus 2021

Epis 7 Sesaat Tanpa Hadirmu



Sesaat Tanpa Hadirmu


Selama di bumi Blambangan banyak hal yang kuperoleh. Kota ini sangat unik, kaya dengan seni, budaya, sejarah, dan upacara-upacara ritual. Di bidang seni ada gandrung dengan penari cantiknya, kuntulan, batik gajah oleng, dan lain-lain. Budaya ditunjukkan dengan kiling, mocoan, paglak, dan geredoan. Upacara ritual ditunjukkan dengan adanya puter kayun, pethik laut, ider bumi, seblang, tumpeng sewu, dan lain-lain masih banyak lagi.

Adapun aneka kuliner tidak kalah nikmatnya tersaji di sepanjang jalan yang kulalui, ada rujak soto, nasi tempong, pecel rawon, dan ketika pagi hari tersaji sebuah menu yang sangat unik yakni sego cawok. Keempat jenis kuliner ini sudah pernah kunikmati. Rujak soto adalah paduan rujak petis yang disiram kuah soto babat atau soto ayam. Sebelum merasakan yang kubayangkan adalah rasa neg, namun ternyata sangat cocok di lidahku. Nasi tempong adalah nasi bertemankan sayuran dan sambal yang khas (pedas), dengan lauk dadar jagung yang orang Banyuwangi menyebutnya dengan istilah gimbal jagung, tempe, tahu dan ikan asin, sehingga setelah makan muka/wajah terutama bagian mulut serasa seperti habis ditempong atau ditampar. Dan pecel rawon adalah nasi dengan pecel yang disiram kuah rawon dengan lauk kering tempe dan daging sapi tentunya. Menu ini juga sangat kunikmati, karena belum pernah kudapatkan di tempat lain. Sungguh Banyuwangi sangat kaya rasa dan budaya yang memesona.

Tempat-tempat wisata yang sempat kukunjungi adalah yang berada di sekitar kota, seperti Pantai Boom, Taman Sri Tanjung, Pantai Watu Dodol, Pemandian Taman Suruh dan Wisata Oseng, serta Kawah Ijen. Pantai Boom terletak tidak jauh dari kota Banyuwangi, begitu juga dengan Taman Sri Tanjung terletak di depan Pendopo Kabupaten Banyuwangi. Taman ini nyaris tidak pernah sepi dari pengunjung karena letaknya di pusat kota, dan tersaji aneka kuliner yang sangat murah. Ada pisang godog, kacang godog, tahu petis, rujak buah, dan lain-lain tidak ketinggalan penjual mainan anak-anak. Ke arah utara ada pantai Watu Dodol, yang terletak persis di pinggir jalan, jadi bisa dinikmati tanpa harus jauh-jauh berjalan. Dari pantai ini tampak dengan jelas pulau Bali. Dan ketika jiwa ini didera rasa lelah kulepaskan dengan mandi di kolam dengan air yang sangat dingin, yakni di kolam renang Taman Suruh yang sering disebut sebagai kali kotak oleh orang Banyuwangi. Selain di Taman Suruh ini masih ada dua kolam renang lagi yakni Wisata Oseng (WO), dan kolam renang Mirah Fantasi yang dilengkapi dengan Taman Satwanya. Ke arah barat adalah menuju Kawah Ijen. Perjalanan menuju Kawah Ijen memerlukan stamina yang fit, namun setelah sampai di puncak rasa lelah itu tergantikan dengan pemandangan yang sangat luar biasa, yakni Blue Fire yang sangat eksotik.

Kembali ke tujuanku semula yakni menemui seorang penari gandrung untuk sebuah tulisan yang akan kuikutkan dalam lomba Pelangi Budaya Nusantara. Ketika aku datang, ia sedang melatih menari beberapa remaja putri di rumahnya. Seseorang menyuruhku masuk dan menunggu sampai tarian selesai. Ia melatih penari muda itu dengan cukup sabar namun tegas, kelihatan ada seorang penari yang mungkin masih baru bergabung sehingga seringkali kelihatan kaku pada beberapa gerakan, ia menegur tanpa menghentikan tariannya, dan tak berapa lama tampak penari itu sudah mampu menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Akhirnya tiba juga waktu istirahat mereka, saat jeda istirahat inilah sang penari menemuiku di ruang tamu yang juga merupakan tempat latihan para gadis tadi. Di wajahnya yang mulai terdapat guratan renta ia masih tampak cantik dan penuh semangat. Ternyata kisah hidupnya tak semanis tarian yang selalu dibawakannya, seperti halnya kehidupan kita, ia juga tidak lepas dari pernak-pernik yang beraneka warna yang membuatnya jatuh bangun demi melestarikan budaya Banyuwangi yang ia kuasai yakni tarian gandrung. Ada sorot mata jijik, bibir mencibir, kata-kata tak manusiawi, bahkan perlakuan tak menyenangkan kerap kali tertuju padanya, saat ia berada di puncak kesuksesan sebagai penari. Namun apapun yang terjadi ia akan terus dan terus menari, kalaupun ia sudah tak mampu ia akan menjadi pelatih menari seperti yang saat ini dilakukannya, ia sudah mulai mengader anak-anak dan para remaja yang berbakat menari. Setelah data yang kuperlukan cukup aku pun segera meminta diri dan berpamitan karena di luar sudah menunggu beberapa mahasiswa dari sebuah universitas di Surabaya dan seorang wartawan sebuah televisi swasta.

Setelah lebih kurang sepuluh hari di kota gandrung ini, aku pun pulang ke kotaku. Belum sempat menulis hasilnya sudah disusul tugas baru, aku harus berangkat ke Jakarta untuk mengikuti diklat selama dua puluh hari. Kucoba kontak Rena namun nomor ponselnya tidak aktif. Akhirnya aku hanya SMS bila aku ada tugas diklat ke Jakarta. Aneh, Rena tak membalas SMSku. Ada rasa sepi yang mengintip relung-relung kalbuku yang terus mengiris hatiku dan berujung pada kegalauanku. Namun setelah empat hari di sini (Jakarta), tugas-tugas diklat turut menyita perhatian dan energiku sehingga aku pun tak sempat lagi berpikir tentang sepinya hati.

Di sela-sela padatnya acara, aku sempat mengenal seorang perempuan seusia Rena, Ambar namanya. Dia seorang gadis yang ceria dan ramah. Mungkin hadirnya juga yang membuatku sejenak tak merasa sepi meski tanpa SMS Rena. Namun masih kubatasi tingkah dan gerakku terhadapnya, aku ingat betul bahwa Rena adalah pelabuhan cintaku yang pertama sekaligus yang terakhir, harapku. Aku bukan tipe cowok yang pandai mengatur strategi untuk bermain-main dalam sandiwara cinta. Bagiku Rena sudah cukup menghiasi istana hatiku, terlebih ibuku demikian menyayanginya seperti anak sendiri.

Hingga suatu siang saat kami menuju kamar masing-masing untuk istirahat, Ambar berjalan di sebelahku, dia menyampaikan maksudnya untuk meminta pertolonganku menjelaskan beberapa materi yang belum dia pahami. Akhirnya usai sholat Dhuhur, masih ada waktu istirahat lebih kurang satu jam, waktu inilah yang kugunakan untuk menemui Ambar. Aku menuju restoran, tempat yang telah kami sepakati. Suasana masih sepi, sehingga kami bisa memilih tempat yang tidak terlalu banyak lalu lalang tamu hotel yang hendak makan, yakni di sudut restoran berdekatan dengan sebuah vas bunga besar yang bertaburkan bunga plastik yang dirangkai sedemikian rupa sehingga tampak cantik dan elegan.

Setelah memesan makanan ringan dan minuman, kami pun mulai membahas satu per satu materi yang belum dipahami Ambar. Ada beberapa hal yang ternyata aku juga tidak bisa menjawabnya, namun setelah kami diskusikan ternyata kami temukan jawabannya. Aku baru kali ini meluangkan waktu ke restoran selama tujuh hari diklat, ternyata banyak peserta diklat yang menggunakan waktu istirahatnya untuk sekedar duduk dan menikmati menu makanan ringan di sini. Selama ini waktu istirahatku benar-benar kugunakan untuk tidur di kamar, selebihnya melihat televisi sambil ngobrol dengan teman-teman se-blok yakni blok Anggrek.

Ambar telah kembali duduk di depanku setelah beberapa saat menerima telepon. Matanya tampak berkaca-kaca. Rupanya telepon barusan yang membuatnya bersedih. Aku paling tidak bisa melihat seorang perempuan meneteskan air mata di depanku. Dengan hati-hati aku pun bertanya.

“Ada apa?” tanyaku. Dia hanya menggeleng namun butiran ranainya terus mengalir membasahi pipinya yang memerah. Kuambilkan tisu yang berada di meja dan kuberikan. Ia mengusapnya, dengan suara berat ia menjawab pertanyaanku.

“Ada seseorang yang mengejarku ke sini,” jawabnya lirih.

“Memang ada yang Anda bawa dari dia, sampai-sampai mengejar ke sini?” jawabku mencoba mengalihkan suasana hatinya.

“Dia mantanku, dan sekarang berada di kota ini untuk memintaku kembali padanya,” jawabnya lagi tak menghiraukan kelakarku.

“Wow… ya jelas Anda dikejar, lha wong  Anda telah melarikan hatinya,” kelakarku lagi, kali ini ia tersenyum di antara guratan kesedihannya.

“Mas! Aku serius ni,” sergahnya, dengan rona merah yang memancar di wajahnya seperti ini ia tampak lebih manis. Pikiran kotor mulai menggoda akal sehatku.

“Iya iya gimana?” jawabku lagi.

“Aku mau minta tolong ni,” katanya dengan merajuk meminta persetujuanku. Aku hanya mengangguk berharap ia melanjutkan kata-katanya.

“Sebelumnya aku mohon maaf, aku berharap Mas mau berpura-pura menjadi … kekasihku, karena malam ini ia akan datang ke sini,” jawabnya dengan malu, wajahnya menunduk tak berani menatapku. Aku terkejut dengan permintaannya.

“Sebentar, sebentar, apa dulu permasalahannya?” jawabku dengan hati-hati, entah mengapa tiba-tiba aku merasa takut terjebak.

“Tapi janji ya Mas, kalau sudah tahu permasalahannya, Mas akan membantuku,” jawabnya memastikan permintaannya padaku. Walau masih ragu, aku mencoba mengangguk.

Akhirnya ia pun bercerita tentang hubungannya dengan seorang lelaki bernama Arsyad, mereka saling mencintai hingga usia pacaran menginjak tahun keempat mereka bertunangan, walau belum ada rencana melangkah ke jenjang pernikahan. Namun akhir-akhir ini Ambar merasa ada yang aneh ditangkap dari gelagat Arsyad, ia merasa Arsyad menyembunyikan sesuatu darinya. Diam-diam ia pun mencari tahu tentang aktivitas Arsyad yang mulai sering keluar kota dengan dalih ada pekerjaan. Ia berusaha mencari tahu ke teman-teman terdekatnya, mereka tahunya kalau Arsyad mendapat tugas ke luar kota dari bos, bahkan seringkali bersama bosnya selama berhari-hari. Mengenai pekerjaan apa yang dilakukan bersama bos mereka tidak ada yang tahu.

Lama ia bersembunyi di balik pencarian tentang jati diri si bos dan kekasihnya. Hingga suatu hari ketika ia sedang menjadi pembawa acara di pernikahan seorang anak pengusaha yang bertempat di sebuah hotel di kotanya, ia mendapati Arsyad bersama bosnya. Beruntung ia tidak sendirian menjadi pembawa acaranya, sehingga ia bisa mengawasi segala gerak yang dilakukan Arsyad bersama bosnya. Tampak di situ si bos akrab sekali dengan orang tua mempelai putri, Pak Hastomo, mungkin mereka memang teman dekat. Di akhir acara terlihat Si Bos mendapatkan kunci dari Pak Hastomo dan sepertinya dipersilakan beristirahat. Si Bos menggandeng Arsyad dengan terburu-buru.  Aneh dalam pikiran Ambar, seorang bos laki-laki menggandeng anak buah laki-laki, dan ia pun diam-diam mengikuti ke mana mereka berjalan.

Ada getar yang menelusup perih di kedalaman relung hatinya, mengapa Arsyad harus memasuki kamar bersama Si Bos. Mengapa harus menginap di hotel ini? Seru hatinya. Sejenak ia membolak-balikkan pikirannya. Ia berusaha mengelak tentang firasat yang selama ini dipendamnya sendiri. Namun, jika ia pergi meninggalkan hotel ini tanpa sebuah kejelasan berarti ia masih memerlukan waktu lebih lama lagi untuk mengungkap tabir di balik jati diri Arsyad. Ia pun berusaha sekuat daya membangun jiwa perempuannya untuk mengetuk pintu. Setelah ia mengetuk pintu beberapa kali tanpa jawaban, ia pun membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Ia tidak percaya mendapati keadaan di depan matanya.

“Mas Arsyad!” ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sontak mereka yang sedang berusaha melepaskan jerat-jerat asmara terkejut mendapati kedatangannya.

            “Benar ini Kamu, Mas?” katanya lagi memastikan, tanpa menunggu jawaban ia pun berlalu dengan linangan air mata.

            Itulah keadaan terpahit dalam hidupnya, ia tidak pernah menyangka jika Arsyad seorang yang berkepribadian ganda. Ia kecewa, hatinya terluka. Pupus segala harap membina mahligai indah dalam jalinan perkawinan. Hampa ia rasakan menyelinap dan menyusuri relung-relung kalbunya yang selama ini ia harapkan akan menjadi indah. Putus adalah jalan terbaik menurutnya. Namun tidak bagi Arsyad, hingga saat ini dia masih menginginkan Ambar mau menerimanya kembali. Dia berjanji tidak akan mengulangi tabiatnya yang menurut Ambar sudah tidak mungkin lagi. Malam nanti aku yang harus berpura-pura menjadi pacar Ambar. Mungkinkah? Melihat kondisi Ambar aku merasa sangat iba. Aku tak kuasa menolaknya. Akhirnya aku pun menyetujui untuk melakukan hal itu, yakni berpura-pura menjadi pacarnya.

Benar, malam itu usai season terakhir, Ambar menerima telepon dan berjalan ke arahku. Sementara aku belum berniat beranjak dari tempat duduk yang telah menyangga pantatku sejak pukul tujuh malam tadi. Ada beberapa perkataan Ambar yang kudengar sebelum ia menutup ponselnya.

“Maaf Mas, bisa kita ke restoran sekarang?” katanya dengan hati-hati sekali mungkin takut aku tidak berkenan. Memang berat bagiku melakukan hal ini, namun aku sudah terlanjur berjanji. Akhirnya aku menutup laptop dan merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja.

Kami pun melangkah meninggalkan ruang season untuk menuju restoran. Sesampai di sana, Ambar menghentikan langkahnya, tampak matanya melihat ke kanan kiri untuk mengetahui di mana Arsyad. Lalu ia berjalan ke sudut ruangan dengan langkah sedikit ragu. Aku paham sebenarnya ia menunggu langkahku untuk sejajar dengannya, akhirnya aku pun berjalan di sebelahnya.

“Kenalkan Mas, ini Mas Arsyad, yang pernah aku ceritakan!” kata Ambar padaku mengawali pertemuan kami. Lalu kuulurkan tanganku pada lelaki di depanku.

“Radit!” kataku setelah kami berjabat tangan. Lelaki ini dengan postur tubuh yang proporsional untuk seorang lelaki, namun wajahnya tampak sedikit mellow. Kelihatan sekali ia tidak suka dengan kedatanganku. Hingga beberapa saat suasana kaku, akhirnya aku pun berpamitan untuk ke kamar kecil sebentar.

Usai dari kamar kecil, aku kembali duduk. Tampak Ambar menitikkan air mata. Belum sempat aku bergabung dengan pembicaraan mereka ponselku sudah berdering. Ada telepon dari kantor. Aku pun meminta diri pada mereka. Selama menerima telepon kulihat dari jauh ada dua orang laki-laki mendekati tempat duduk mereka. Aku menjadi was-was dengan keberadaan Ambar di sana, namun setelah berbincang beberapa saat kedua lelaki itu membawa Arsyad ke luar dari restoran. Mataku terus mengikuti hendak ke mana mereka bertiga, dan ternyata di luar sudah menunggu seorang lelaki botak berperawakan tinggi kekar berkacak pinggang di dekat pintu mobil yang terbuka. Kedua lelaki yang membawa Arsyad mendorong tubuhnya ke dekat lelaki itu dan disambutnya dengan beberapa tamparan yang mendarat di  wajah Arsyad. Aneh, Arsyad tidak sedikit pun melawan, ia malah memohon maaf pada lelaki itu dengan kedua tangan di dada dan kepala menunduk. Aku benci sekali melihat keadaan ini. Akhirnya lelaki itu mendorong tubuh Arsyad ke dalam mobil lalu ia menyusul duduk di sebelah Arsyad. Mereka pun berlalu meninggalkan area parkir mobil setelah dua orang anak buahnya duduk di depan dan mengemudikan mobil tersebut.

Kututup telepon, aku kembali ke tempat Ambar, namun tak kudapati dia di sana. Ketika aku hendak pergi, mataku menatap sebuah benda di bawah tempat duduk Ambar, setelah kuambil ternyata sebuah dompet, pasti ini dompet Ambar, pikirku. Namun untuk lebih memastikan kubuka dompet tersebut, benar di situ ada foto Ambar. Aku pun menyimpannya di dalam tas. Aku kembali ke kamar, karena sangat lelah usai sholat Isya aku pun terkapar lemas tanpa menghiraukan beberapa teman yang masih asik berbincang riang di depan televisi. Hingga suara adzan Subuh yang membangunkanku. Aku pun segera beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudu, namun bunyi SMS di hp mengajak tanganku untuk meraihnya terlebih dahulu. Ternyata Ambar yang SMS dan menanyakan apa aku melihat dompetnya di meja restoran semalam, aku pun menjawabnya dengan singkat.

Usai salat Subuh, kulihat SMS balasan dari Ambar, dia memintaku mengantar dompetnya di taman dekat kolam. Biasanya di tempat ini ramai peserta diklat melakukan olah raga pagi, namun hari ini hanya beberapa orang mungkin karena semalam materi diklat sangat menyita pikiran sehingga membuat mereka bermalas-malasan di tempat tidur. Kulihat dari balik kaca matanya, ada sembab yang menghiasi kantong matanya. Kuyakin hal ini karena kejadian semalam. Ketika kutanyakan, Ambar sudah lebih baik, dia sudah benar-benar mampu melepas Arsyad. Keadaan semalam sudah menunjukkan bahwa Arsyad bukanlah laki-laki yang baik baginya, selamanya dia akan berada di bawah kekuasaan bosnya. Ambar juga berterima kasih padaku sudah mau menjadi pacar pura-puranya di hadapan Arsyad, sehingga Arsyad pun sepertinya tidak akan mengharapnya lagi. Di samping ketidakberdayaan Arsyad terhadap si bos.

***


Kataku

Diam terinjak, berkata tak bermakna, berteriak semakin meraja. Bersabar saja, niscaya waktu kan menjawabnya, menunjukkannya. 


Buku lainnya.

Buku ini karya bersama guru SMA, SMK, PK Diklat Fiksi Nonfiksi Provinsi Jawa Timur 2017.









 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar