Aku
tak menolak tapi kupagari hatiku agar tak berfikir lebih untuk seorang Radit.
Ia banyak sekali fans setianya. Dia pasti sudah memiliki seorang kekasih.
Pada episode ini ada nama Kina, Sasi. Itu merupakan panggilan dari Sasi Kirana. Bapak ibunya memanggilnya Sasi. Sebagian temannya memanggil Kina, dan di udara ia lebih dikenal dengan nama Rena Antari.
Terpuruk di Lembah Duka
Kami sering jalan bersama ketika
berangkat atau pulang siaran selayaknya muda mudi yang berpacaran. Walau
sebenarnya jarak rumah Mas Radit yang berada di kota dengan rumahku yang berada
di kaki bukit sangat berjauhan, tapi entahlah semua itu bisa kami lewati
bersama. Malam
itu Mas Radit tidak bisa menjemputku. Dia sedang melakukan wawancara dengan seorang
penari gandrung Blambangan untuk sebuah cerita yang akan ditulisnya. Malam
Minggu itu aku pulang seperti biasa, sekitar pukul 22.10. Perjalanan menuju rumah
memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Namun baru sekitar satu kilo meter dari
studio, tiba-tiba sepeda motorku terasa berat dan oleng, aku segera ke pinggir
dan berhenti. Benar, ban sepedaku kempis (bhs. Jawa: gembos). Aku bingung karena jalanan
mulai sepi, kuambil ponsel dari tas untuk menelpon Mas Hendra atau Mbak Ratih.
Tiba-tiba ada sepeda motor berhenti di depanku.
“Kina…,” panggil seorang lelaki dari
balik helm teropongnya. Aku terkejut, sulit mengenalinya dan ternyata Mas Afdal
dan temannya. Lega hatiku setelah ia membuka kaca helmnya.
“Kenapa?” ia turun dari sepeda
motornya.
“Tidak tahu Mas, tiba-tiba ban
sepedaku kempis,” jawabku kebingungan. Mas Afdal mengamati ban sepedaku.
“Oo.. kena paku, ni..,” seru Mas
Afdal sambil menunjukkan sebuah paku yang menancap di ban sepedaku lalu
mengambilnya.
“Aduh!” seruku, sambil merogoh saku
untuk mengambil ponsel mau menelpon Mas Hendra. Namun belum selesai aku mencari
nomor Mas Hendra, Mas Afdal sudah berkata lagi.
“Sudah, biar ditambalkan Ardi,” aku
masih menimbang-nimbang namun Ardi sudah membawa sepedaku. Ya, Ardi adalah sahabat Mas
Afdal yang sudah kukenal dengan baik. Akhirnya aku duduk di boncengan Mas Afdal
menuju bengkel. Sambil menunggu Ardi, Mas Afdal mengajakku duduk di warung
depan bengkel. Ardi pun datang, setelah menaruh sepeda di bengkel ia ke tempat
kami minum teh. Lama juga menunggu tambal ban selesai. Dingin udara malam
membuatku ingin ke toilet. Selesai dari toilet aku pun menghabiskan teh
hangatku, dan beberapa saat kemudian aku merasakan kantuk yang sangat, dan
kepalaku terasa pusing. Kusandarkan kepalaku di sandaran kursi.
***
Kurasakan aku berada di tempat yang asing. Hendak
bangun namun kepalaku terasa berat. Aku berselimut, tapi ini bukan selimutku.
Kupandang sekelilingku, ini bukan kamarku. Aku langsung duduk. Astaghfirullahal
adzim! XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX. Butiran permata
beningku mengalir deras. Aku telah ternoda. Mas Afdal? Ya mas Afdal yang
melakukan semua ini. Aku hendak keluar, namun pintu terdorong dari luar.
“Mas Afdal?” geramku. Dia tertunduk tenang.
“Mengapa Mas lakukan semua ini?” tanyaku dengan
kecewa.
“Tenang Kina, tenang,” harapnya padaku.
“Bagus sekali ya? Mas telah menghancurkan hidupku,
dan aku harus tenang?” seruku lebih keras lagi sambil kulempar asbak kayu ke
dadanya. Ia mengerang kesakitan.
“Ok. Aku khilaf, maaf. Aku akan bertanggung jawab!”
aku semakin geram. Tangisku kian tak tertahan.
“Tanggung jawab? Setelah semua ini tanggung jawab?
Otak busuk!” kata-kataku terhenti. Serasa habis logikaku dengan kehancuran ini.
Aku lempar bantal dan guling ke layar komputer yang berada di meja. Layar itu
jatuh. Sementara Afdal hanya memandangku dengan penyesalan.
“Mana hpku! Kontakku!” ia menurut, mengambil hp dan
kontakku lalu menyerahkannya padaku. Aku berlari mencari pintu untuk ke luar.
“Di mana sepedaku!” gertakku lagi. Ia menunjukkan
letak garasi.
Ketika aku sudah menghidupkan sepeda motor ia masih
berseru.
“Hati-hati! Aku
minta maaf!
Aku akan bertanggung jawab!”
tak kuhiraukan ucapannya. Aku berlalu kencang dengan sepeda motorku.
Di sepanjang jalan butiran permata beningku terus
saja tertumpah, tanpa bisa kubendung walau setetes. Aku benar-benar telah
hancur. Terbayang wajah ibu bapakku, wajah tulus Mas Radit, wajah sendu ibunya,
semakin perih hatiku, semakin deras air mataku. Aku menghentikan sepeda di
taman desa dekat toilet, karena mataku tertutup air mata sampai-sampai tak
tampak jalan. Kubasuh mukaku, namun tetap saja. Mataku sembab. Bagaimana caraku
menutupi semua ini dari bapak dan ibu? Aku tak ingin mereka tahu. Kuputuskan,
aku istirahat di rumah Nina saja, karena saat ini Nina tinggal sendirian. Ku
SMS Nina bahwa aku menuju rumahnya, tak lama kemudian ia menjawab silakan, tapi
aku masih siaran, kunci di tempat biasa.
Sesampai di rumah Nina aku langsung mandi dan
meminjam bajunya. Aku mencoba menghilangkan sembab dengan mengompres mataku
menggunakan air hangat, namun percuma air mataku tetap keluar. Aku mencoba
menelpon ibu, kukatakan bahwa aku masih di rumah Nina. Alhamdulillah ibu tidak
banyak pertanyaan. Mungkin karena beliau masih capek, karena baru sampai di rumah
setelah satu Minggu di rumah kakak. Puji syukurku, travel malam dari Surabaya
biasanya sampai rumah saat adzan Subuh, ini tadi ibu mengatakan pukul 06.15
WIB baru sampai karena macet yang disebabkan adanya kecelakaan. Berarti bapak
dan ibu tidak tahu kalau aku semalam tidak pulang, ibu mengiranya aku siaran
pagi, dari pukul 06.00 sampai dengan pukul 09.00. Aku berfikir lagi untuk
rencanaku selanjutnya. Aku tidak boleh berlama-lama di sini. Aku harus segera pergi
sebelum Nina pulang siaran. Sebisa mungkin aku harus mampu menutup aib ini dari
siapa pun. Tekadku.
Jam dua belas kurang seperempat aku ke luar dari
rumah Nina, kunci kutaruh di tempat biasa, dan SMS dia. Aku pulang. Sepanjang
perjalanan dari rumah Nina perasaan ada yang mengikutiku, tidak jarang aku
terkejut dan merasa takut. Dalam pandanganku orang itu adalah Afdal, namun
setelah aku perhatikan ternyata bukan. Mungkin ini traumaku.
Sesampai di rumah helm tidak kulepas di garasi. Ibu
menyambutku dengan tergopoh-gopoh. Setelah mencium tangan ibu aku pun berlalu
untuk segera ke kamar.
“Kamu tadi lupa mematikan lampu?” aku kaget dengan
pertanyaan ini, aku baru ingat kalau semua lampu luar masih menyala, karena
kemarin siaran pukul 17.00 sampai dengan pukul 21.00 dilanjut acara Simfoni Malam.
“Iya Bu, tadi saya kesiangan,” jawabku singkat,
beruntung ibu percaya.
“Bapakmu
masih tidur, sudah makan?” tanya ibu.
“Sudah, aku mau tidur dulu, Bu,” kataku sambil
menutup pintu kamar. Kuhidupkan tape recorder di kamarku dengan suara agak
keras agar yang kulakukan tidak terdengar bapak dan ibu. Kutumpahkan semua
kekesalanku dalam air mata pilu.
***
Tiga hari aku tidak masuk kerja, rasanya aku belum
siap bertemu dengan siapa pun. Alasan sakit yang kubuat tidak bisa lebih dari
tiga hari ini. Aku ingin berhenti saja meski sebenarnya sangat berat bagiku
meninggalkan acara yang selama ini kuidam-idamkan yakni Simfoni Malam, tapi bagaimana lagi fikiranku serasa tak mampu lagi,
jangankan untuk siaran, untuk bertemu orang saja aku tidak berani. Apalagi bila
mengingat Mas Radit, ibunya, kepalaku langsung pusing. Seperti sore itu,
seingatku aku mandi namun tiba-tiba aku tersadar sudah berada di rumah sakit
saat malam hari. Kulihat di sekitarku ada ibu, bapak. Terbayang di mataku, Mas
Radit datang dengan juta kasih sayangnya dan berharap kesucianku, aku merasa
takut sekali. Kepalaku pusing, mataku jadi gelap, dan setelah itu aku pun tidak
tahu apa yang terjadi. Tersadar lagi ketika adzan Subuh berkumandang.
Kupandang bapak dan ibuku yang tertidur lelap di sisi kanan kiriku,
tenggorokanku terasa kering dan panas sekali, aku berusaha tidak membangunkan
mereka. Pelan-pelan kuraih gelas aqua di meja, kuminum, dan ketika hendak
mengembalikan ke meja malah terjatuh.
Saat itu ibu terbangun, begitu pula bapak.
“Bagaimana Si?” tanya ibu menanyakan keadaanku.
“Kepalaku pusing!” kataku pada ibu.
“Iya, la tensimu kurang dari Sembilan puluh!” sahut
bapak.
“Maagmu juga kambuh,” tambah ibu lagi. Aku
mengiyakan saja. Di kedalaman hatiku, aku bersyukur dengan diagnose dokter,
sehingga prahara kehancuranku tidak terendus bapak dan ibu. Lalu mereka
mengajakku salat Subuh setelah aku bertayamum.
Selesai salat, bapak dan ibu duduk di samping kanan
kiriku. Mereka berharap aku cepat sembuh, karena seminggu lagi kakakku akan
pergi beribadah haji bersama istrinya, mereka harus menunggui cucu-cucunya dan
menyiapkan segala sesuatunya. Hal ini kusambut dengan gembira, berarti beberapa
saat lamanya aku bisa menghindar dari Mas Radit.
“Aku ikut, Bu!” kataku dengan manja.
“Pekerjaanmu bagaimana?” sahut bapak.
“Aku ingin berhenti dulu, aku ingin istirahat,” jawabku
lagi.
“Apa tidak sayang, nanti mencari pekerjaan lagi
sulit lo,” ibu menimpali. Aku menggeleng lemah. Aku benar-benar ingin istirahat
beberapa saat, mengembalikan keberanianku untuk bertemu orang-orang.
“Ya tensimu harus normal dulu, baru bisa ke
Surabaya,” putus ibu, bapak hanya mengangguk setuju, dan aku merasa lega dengan
keputusan ibu ini.
Tepat di hari kelima aku diizinkan pulang oleh
dokter, dua hari ibu membersihkan rumah dan malam harinya kami menuju ke
Surabaya dengan sebuah mobil travel yang telah dipesankan kakak. Ada rasa pahit
kurasakan di relung terdalam hatiku, aku harus meninggalkan desa yang sangat
kucintai dengan membawa aib yang sangat besar. Hilang segala asa, cita, dan
citra diriku. Nama yang kubangun dengan susah payah selama menjadi penyiar
harus tercampak begitu saja. Bagaimana tidak. Bila para pendengar mengetahui
aib yang kuterima pasti mereka akan mencampakkanku begitu saja. Mas Radit, kata
ibu harus mengikuti diklat di Jakarta selama dua puluh hari. Aku masih ada
waktu untuk menenangkan diri sebelum mengambil keputusan.
Setiap hari di rumah kakak diadakan pengajian anak-anak
panti asuhan yang terletak tidak jauh dari rumahnya, begitu pula aku, aku
selalu mengambil kesempatan untuk mendengarkan ceramah dari ustadz yang
berbeda-beda setiap harinya. Di rumah kakak juga ada satu ruang sebagai
perpustakaan keluarga yang tersedia banyak buku dan majalah Islami. Banyak hal
pula yang kudapat dari membaca di perpustakaan
ini. Sedikit demi sedikit kuretas rasa rendah diriku.
Hidupku belum berakhir, aku harus terus berjuang meski dengan kondisi seperti
ini. Banyak hal yang seharusnya bisa kuraih. Walau untuk kembali dengan mas
Radit itu tidak mungkin. Targetku sekarang hanya satu, yakni membahagiakan
bapak dan ibu.
Sujud syukurku pada Allah Swt. Bulan yang
kutunggu-tunggu datang juga. Alhamdulillah aku xxxx berarti aku xxxxx xxxxx. Aku tak bisa membayangkan seandainya aku xxxxx. Beban mentalku akan bertambah
lagi. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus xxxxxxx dengan Afdal bedebah
itu.
***
Kurasakan
aku berada di tempat yang asing. Hendak bangun namun kepalaku terasa berat. Aku
berselimut, tapi ini bukan selimutku. Kupandang sekelilingku, ini bukan
kamarku. Aku langsung duduk.
Kalimat yang menginspirasiku.
Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak percaya itu." -Ali bin Abi Thalib
Buku lainnya.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar