Minggu, 22 Agustus 2021

Epis 6 Terpuruk di Lembah Duka


Aku tak menolak tapi kupagari hatiku agar tak berfikir lebih untuk seorang Radit. Ia banyak sekali fans setianya. Dia pasti sudah memiliki seorang kekasih.


Pada episode ini ada nama Kina, Sasi. Itu merupakan panggilan dari Sasi Kirana. Bapak ibunya memanggilnya Sasi. Sebagian temannya memanggil Kina, dan di udara ia lebih dikenal dengan nama Rena Antari.


Terpuruk di Lembah Duka

 

            Kami sering jalan bersama ketika berangkat atau pulang siaran selayaknya muda mudi yang berpacaran. Walau sebenarnya jarak rumah Mas Radit yang berada di kota dengan rumahku yang berada di kaki bukit sangat berjauhan, tapi entahlah semua itu bisa kami lewati bersama. Malam itu Mas Radit tidak bisa menjemputku. Dia sedang melakukan wawancara dengan seorang penari gandrung Blambangan untuk sebuah cerita yang akan ditulisnya. Malam Minggu itu aku pulang seperti biasa, sekitar pukul 22.10. Perjalanan menuju rumah memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Namun baru sekitar satu kilo meter dari studio, tiba-tiba sepeda motorku terasa berat dan oleng, aku segera ke pinggir dan berhenti. Benar, ban sepedaku kempis (bhs. Jawa: gembos). Aku bingung karena jalanan mulai sepi, kuambil ponsel dari tas untuk menelpon Mas Hendra atau Mbak Ratih. Tiba-tiba ada sepeda motor berhenti di depanku.

            “Kina…,” panggil seorang lelaki dari balik helm teropongnya. Aku terkejut, sulit mengenalinya dan ternyata Mas Afdal dan temannya. Lega hatiku setelah ia membuka kaca helmnya.

                “Kenapa?” ia turun dari sepeda motornya.

            “Tidak tahu Mas, tiba-tiba ban sepedaku kempis,” jawabku kebingungan. Mas Afdal mengamati ban sepedaku.

            “Oo.. kena paku, ni..,” seru Mas Afdal sambil menunjukkan sebuah paku yang menancap di ban sepedaku lalu mengambilnya.

            “Aduh!” seruku, sambil merogoh saku untuk mengambil ponsel mau menelpon Mas Hendra. Namun belum selesai aku mencari nomor Mas Hendra, Mas Afdal sudah berkata lagi.

            “Sudah, biar ditambalkan Ardi,” aku masih menimbang-nimbang namun Ardi sudah membawa sepedaku. Ya, Ardi adalah sahabat Mas Afdal yang sudah kukenal dengan baik. Akhirnya aku duduk di boncengan Mas Afdal menuju bengkel. Sambil menunggu Ardi, Mas Afdal mengajakku duduk di warung depan bengkel. Ardi pun datang, setelah menaruh sepeda di bengkel ia ke tempat kami minum teh. Lama juga menunggu tambal ban selesai. Dingin udara malam membuatku ingin ke toilet. Selesai dari toilet aku pun menghabiskan teh hangatku, dan beberapa saat kemudian aku merasakan kantuk yang sangat, dan kepalaku terasa pusing. Kusandarkan kepalaku di sandaran kursi.

***

Kurasakan aku berada di tempat yang asing. Hendak bangun namun kepalaku terasa berat. Aku berselimut, tapi ini bukan selimutku. Kupandang sekelilingku, ini bukan kamarku. Aku langsung duduk. Astaghfirullahal adzim! XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX. Butiran permata beningku mengalir deras. Aku telah ternoda. Mas Afdal? Ya mas Afdal yang melakukan semua ini. Aku hendak keluar, namun pintu terdorong dari luar.

“Mas Afdal?” geramku. Dia tertunduk tenang.

“Mengapa Mas lakukan semua ini?” tanyaku dengan kecewa.

“Tenang Kina, tenang,” harapnya padaku.

“Bagus sekali ya? Mas telah menghancurkan hidupku, dan aku harus tenang?” seruku lebih keras lagi sambil kulempar asbak kayu ke dadanya. Ia mengerang kesakitan.

“Ok. Aku khilaf, maaf. Aku akan bertanggung jawab!” aku semakin geram. Tangisku kian tak tertahan.

“Tanggung jawab? Setelah semua ini tanggung jawab? Otak busuk!” kata-kataku terhenti. Serasa habis logikaku dengan kehancuran ini. Aku lempar bantal dan guling ke layar komputer yang berada di meja. Layar itu jatuh. Sementara Afdal hanya memandangku dengan penyesalan.

“Mana hpku! Kontakku!” ia menurut, mengambil hp dan kontakku lalu menyerahkannya padaku. Aku berlari mencari pintu untuk ke luar.

“Di mana sepedaku!” gertakku lagi. Ia menunjukkan letak garasi.

Ketika aku sudah menghidupkan sepeda motor ia masih berseru.

Hati-hati! Aku minta maaf! Aku akan bertanggung jawab!” tak kuhiraukan ucapannya. Aku berlalu kencang dengan sepeda motorku.

Di sepanjang jalan butiran permata beningku terus saja tertumpah, tanpa bisa kubendung walau setetes. Aku benar-benar telah hancur. Terbayang wajah ibu bapakku, wajah tulus Mas Radit, wajah sendu ibunya, semakin perih hatiku, semakin deras air mataku. Aku menghentikan sepeda di taman desa dekat toilet, karena mataku tertutup air mata sampai-sampai tak tampak jalan. Kubasuh mukaku, namun tetap saja. Mataku sembab. Bagaimana caraku menutupi semua ini dari bapak dan ibu? Aku tak ingin mereka tahu. Kuputuskan, aku istirahat di rumah Nina saja, karena saat ini Nina tinggal sendirian. Ku SMS Nina bahwa aku menuju rumahnya, tak lama kemudian ia menjawab silakan, tapi aku masih siaran, kunci di tempat biasa.

Sesampai di rumah Nina aku langsung mandi dan meminjam bajunya. Aku mencoba menghilangkan sembab dengan mengompres mataku menggunakan air hangat, namun percuma air mataku tetap keluar. Aku mencoba menelpon ibu, kukatakan bahwa aku masih di rumah Nina. Alhamdulillah ibu tidak banyak pertanyaan. Mungkin karena beliau masih capek, karena baru sampai di rumah setelah satu Minggu di rumah kakak. Puji syukurku, travel malam dari Surabaya biasanya sampai rumah saat adzan Subuh, ini tadi ibu mengatakan pukul 06.15 WIB baru sampai karena macet yang disebabkan adanya kecelakaan. Berarti bapak dan ibu tidak tahu kalau aku semalam tidak pulang, ibu mengiranya aku siaran pagi, dari pukul 06.00 sampai dengan pukul 09.00. Aku berfikir lagi untuk rencanaku selanjutnya. Aku tidak boleh berlama-lama di sini. Aku harus segera pergi sebelum Nina pulang siaran. Sebisa mungkin aku harus mampu menutup aib ini dari siapa pun. Tekadku.

Jam dua belas kurang seperempat aku ke luar dari rumah Nina, kunci kutaruh di tempat biasa, dan SMS dia. Aku pulang. Sepanjang perjalanan dari rumah Nina perasaan ada yang mengikutiku, tidak jarang aku terkejut dan merasa takut. Dalam pandanganku orang itu adalah Afdal, namun setelah aku perhatikan ternyata bukan. Mungkin ini traumaku.

Sesampai di rumah helm tidak kulepas di garasi. Ibu menyambutku dengan tergopoh-gopoh. Setelah mencium tangan ibu aku pun berlalu untuk segera ke kamar.

“Kamu tadi lupa mematikan lampu?” aku kaget dengan pertanyaan ini, aku baru ingat kalau semua lampu luar masih menyala, karena kemarin siaran pukul 17.00 sampai dengan pukul 21.00 dilanjut acara Simfoni Malam.

“Iya Bu, tadi saya kesiangan,” jawabku singkat, beruntung ibu percaya.

 “Bapakmu masih tidur, sudah makan?” tanya ibu.

“Sudah, aku mau tidur dulu, Bu,” kataku sambil menutup pintu kamar. Kuhidupkan tape recorder di kamarku dengan suara agak keras agar yang kulakukan tidak terdengar bapak dan ibu. Kutumpahkan semua kekesalanku dalam air mata pilu.

***

Tiga hari aku tidak masuk kerja, rasanya aku belum siap bertemu dengan siapa pun. Alasan sakit yang kubuat tidak bisa lebih dari tiga hari ini. Aku ingin berhenti saja meski sebenarnya sangat berat bagiku meninggalkan acara yang selama ini kuidam-idamkan yakni Simfoni Malam, tapi bagaimana lagi fikiranku serasa tak mampu lagi, jangankan untuk siaran, untuk bertemu orang saja aku tidak berani. Apalagi bila mengingat Mas Radit, ibunya, kepalaku langsung pusing. Seperti sore itu, seingatku aku mandi namun tiba-tiba aku tersadar sudah berada di rumah sakit saat malam hari. Kulihat di sekitarku ada ibu, bapak. Terbayang di mataku, Mas Radit datang dengan juta kasih sayangnya dan berharap kesucianku, aku merasa takut sekali. Kepalaku pusing, mataku jadi gelap, dan setelah itu aku pun tidak tahu apa yang terjadi. Tersadar lagi ketika adzan Subuh berkumandang. Kupandang bapak dan ibuku yang tertidur lelap di sisi kanan kiriku, tenggorokanku terasa kering dan panas sekali, aku berusaha tidak membangunkan mereka. Pelan-pelan kuraih gelas aqua di meja, kuminum, dan ketika hendak mengembalikan ke meja malah terjatuh. Saat itu ibu terbangun, begitu pula bapak.

“Bagaimana Si?” tanya ibu menanyakan keadaanku.

“Kepalaku pusing!” kataku pada ibu.

“Iya, la tensimu kurang dari Sembilan puluh!” sahut bapak.

“Maagmu juga kambuh,” tambah ibu lagi. Aku mengiyakan saja. Di kedalaman hatiku, aku bersyukur dengan diagnose dokter, sehingga prahara kehancuranku tidak terendus bapak dan ibu. Lalu mereka mengajakku salat Subuh setelah aku bertayamum.

Selesai salat, bapak dan ibu duduk di samping kanan kiriku. Mereka berharap aku cepat sembuh, karena seminggu lagi kakakku akan pergi beribadah haji bersama istrinya, mereka harus menunggui cucu-cucunya dan menyiapkan segala sesuatunya. Hal ini kusambut dengan gembira, berarti beberapa saat lamanya aku bisa menghindar dari Mas Radit.

“Aku ikut, Bu!” kataku dengan manja.

“Pekerjaanmu bagaimana?” sahut bapak.

“Aku ingin berhenti dulu, aku ingin istirahat,” jawabku lagi.

“Apa tidak sayang, nanti mencari pekerjaan lagi sulit lo,” ibu menimpali. Aku menggeleng lemah. Aku benar-benar ingin istirahat beberapa saat, mengembalikan keberanianku untuk bertemu orang-orang.

“Ya tensimu harus normal dulu, baru bisa ke Surabaya,” putus ibu, bapak hanya mengangguk setuju, dan aku merasa lega dengan keputusan ibu ini.

Tepat di hari kelima aku diizinkan pulang oleh dokter, dua hari ibu membersihkan rumah dan malam harinya kami menuju ke Surabaya dengan sebuah mobil travel yang telah dipesankan kakak. Ada rasa pahit kurasakan di relung terdalam hatiku, aku harus meninggalkan desa yang sangat kucintai dengan membawa aib yang sangat besar. Hilang segala asa, cita, dan citra diriku. Nama yang kubangun dengan susah payah selama menjadi penyiar harus tercampak begitu saja. Bagaimana tidak. Bila para pendengar mengetahui aib yang kuterima pasti mereka akan mencampakkanku begitu saja. Mas Radit, kata ibu harus mengikuti diklat di Jakarta selama dua puluh hari. Aku masih ada waktu untuk menenangkan diri sebelum mengambil keputusan.

Setiap hari di rumah kakak diadakan pengajian anak-anak panti asuhan yang terletak tidak jauh dari rumahnya, begitu pula aku, aku selalu mengambil kesempatan untuk mendengarkan ceramah dari ustadz yang berbeda-beda setiap harinya. Di rumah kakak juga ada satu ruang sebagai perpustakaan keluarga yang tersedia banyak buku dan majalah Islami. Banyak hal pula yang kudapat dari membaca di perpustakaan ini. Sedikit demi sedikit kuretas rasa rendah diriku. Hidupku belum berakhir, aku harus terus berjuang meski dengan kondisi seperti ini. Banyak hal yang seharusnya bisa kuraih. Walau untuk kembali dengan mas Radit itu tidak mungkin. Targetku sekarang hanya satu, yakni membahagiakan bapak dan ibu.

Sujud syukurku pada Allah Swt. Bulan yang kutunggu-tunggu datang juga. Alhamdulillah aku xxxx berarti aku xxxxx xxxxx. Aku tak bisa membayangkan seandainya aku xxxxx. Beban mentalku akan bertambah lagi. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus xxxxxxx dengan Afdal bedebah itu.

***

Kurasakan aku berada di tempat yang asing. Hendak bangun namun kepalaku terasa berat. Aku berselimut, tapi ini bukan selimutku. Kupandang sekelilingku, ini bukan kamarku. Aku langsung duduk.


Kalimat yang menginspirasiku.

Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak percaya itu." -Ali bin Abi Thalib


Buku lainnya.




 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar