Sabtu, 17 Juli 2021

Epis 1 Menjadi Penyiar

 


Bagi sahabat yang belum memiliki novel Ranai Rena bisa membaca via blog ini ya☺☺

Kata Persembahanku

Teruntuk kalian yang selalu menginspirasi
di setiap detak napasku:
Suamiku, Adi Subagio.
Kedua sanjungan kalbuku:
Romi Zainnasta Alfariza dan Naufal Gamel Daniswara
Kedua orang tuaku yang senantiasa mengiringi
setiap langkahku
dengan doa-doa tulusnya:
Bapak Fauzi dan Ibu Murtiasih
Adik-adikku, kerabat dan sahabat
yang selalu menjelajah imajinasiku.

Episode I
Menjadi Penyiar

Menyusuri jalan tak beraspal berkelok laksana lenggang
lenggok tarian gadis Bali berpadu dengan area persawahan yang hijau membentang serta hawa dingin pegunungan yang menerpa kulit membuatku selalu bersemangat menapaki hari-hari sebagai seorang pelajar. Waktu SD aku pergi dan pulang dari sekolah dengan berjalan kaki karena
memang tidak terlalu jauh dengan rumah, dan ketika SMP
sekolahku lumayan jauh walau masih satu kecamatan. Bapak
membelikan sepeda mini, dan ketika SMA ini masih kunikmati
perjalanan ke sekolah dengan sepeda mini yang telah
menjadi barang kesayanganku, meski sudah usang namun
sepeda miniku tetap tidak terbuang dan setiap hari siap melenggang
bersama senyumanku yang selalu mengukir pagi-pagi
yang indah menuju sekolah.
Usia SMA menggiringku pada masa-masa terindah sebagaimana
remaja yang lain. Bapak dan ibu lebih cenderung memanjakanku,
maklum aku anak bungsu, perempuan, dan tinggal
hanya bertiga dengan mereka. Kakak lelakiku yang usianya
terpaut sepuluh tahun di atasku sudah menikah dan tinggal
di luar kota bersama keluarganya. Kalaupun bapak
pernah menentang ketika aku berpacaran dengan mas Afdal,
kuanggap itu sebagai hal yang wajar karena memang waktu
itu aku masih kelas tiga SMP. Mereka takut aku melupakan
belajarku, sedang mas Afdal adalah lelaki dewasa yang hanya
terpaut beberapa tahun di bawah usia kakakku. Beruntung aku
bisa melewati masa-masa itu. Seandainya saja mas Afdal
tidak terburu-buru melamarku, mungkin bapak tidak akan
menentang hubungan kami, karena mas Afdal meminta pada
bapak bahwa ia ingin bertunangan maka bapak menolak hubungan
kami. Bapak menganggap keinginan mas Afdal ini
masih terlalu jauh untukku. Waktu itu bapak, ibu, dan kakak
menginginkan aku meneruskan kuliah setamat SMA.
Radio adalah temanku melepas segala penat yang mendera
setelah beraktivitas seharian di sekolah. Aku tidak terbiasa
pulang terlambat dari sekolah, karena agendaku sepulang dari
sekolah adalah mendengarkan acara musik yang ada di radio
kesayanganku. Begitu pula saat-saat luangku, selalu radio yang
berada di dekatku. Waktu itu, hp dengan berbagai fasilitasnya
belum menjamur seperti sekarang dan radio menjadi satu-satunya
hal yang sangat membantu kami dalam menambah pertemanan. Tidak jarang radio kesayanganku juga mengadakan acara temu fans sehingga kami bisa berkenalan satu
sama lain di acara tersebut, termasuk dengan para penyiarnya,
walau sampai hari ini aku belum pernah mengikuti acara tersebut
karena jarak yang terlalu jauh dari rumahku.
Menjadi penyiar dengan mengasuh acara tembang kenangan
merupakan impianku sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Waktu itu aku demikian terpesona dengan suara lembut dan merdu sang penyiar pujaanku, Raditya Priyatama, sungguh
sebuah nama yang unik menurutku. Perpaduan dua bahasa
yang menarik. Raditya berasal dari bahasa Kawi yang berarti
matahari, Priyatama berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kekasih yang utama. Sering kukirimkan syair-syair puitisku di acara tembang kenangan yang diasuhnya. Acara itu dimulai pukul sepuluh hingga sebelas malam dengan diiringi alunan lembutnya Demis Roussos yang bertajuk Rain
and Tears. Sungguh sebuah acara yang sangat romantis. Aku
tak pernah bertegur sapa secara langsung, namun aku merasa
sangat dekat dengannya. Sekali saja tak kukirimkan syairku
pasti ia mengabsenku. Hatiku telah terpaut suara lembut dalam
balutan sapa ramahnya di udara walau tanpa pernah mengetahui
siapa pemiliknya.
Setelah lulus SMA, kuberanikan diri melamar menjadi penyiar
di sebuah radio komunitas yang ada di desaku. Radio ini
baru berdiri beberapa bulan sebelum aku lulus SMA. Alhamdulillah aku diterima. Walau masih terbata-bata, dengan berbekal semangat dan konsep yang sangat rinci, pada akhirnya
aku mendapatkan kepercayaan untuk mengasuh acara yang
kuidam-idamkan yakni tembang kenangan yang bertajuk
Simfoni Malam dan on air mulai pukul 21.00 sampai dengan
22.00 setiap malam Minggu. Perlahan namun pasti, radio
tempatku bekerja mulai dikenal masyarakat. Tidak hanya
menjangkau desaku saja, tetapi beberapa desa di sekitarnya.
Mulai banyak remaja
yang datang, dari hanya bermain, ingin bertemu dengan sang penyiar sampai ada kalanya kami
mengajaknya siaran. •

Bersambung ke bagian berikutnya Gadis di Kaki Bukit.

Jangan risau ketika dunia tak berpihak padamu. Kau hanya pelaku, bukan penentu. Bersabarlah sekejap waktu, kelak kan terbuka semua di depanmu. Karena sang penentu maha tahu, takkan salah menetapkanmu sebagai pelaku. [๐ŸŒทMenebar Asa๐ŸŒท]

Jangan lupa komentar  berupa kritik dan sarannya. Terima kasih. ๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


13 komentar:

  1. Alhamdulillah...msh sempat2nya sahabatku membuat karya novel,Semoga Alloh selalu memberikan kesehatan dan rejeki yg barokah...Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sahabatku, sudah hadir di sini.

      Hapus
    2. Terima kasih juga atas doanya. Semoga njenengan juga demikian.

      Hapus
  2. luar biasa ...
    penuh inspiratif
    semoga karya semakin oke...
    terima kasih sahabatku...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bapak Haji Ervan Santoso atas suport dan doanya.

      Hapus
  3. G sabar menunggu karya berikut nya๐Ÿ’™๐Ÿ’™๐Ÿ’™

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, matur nuwun. Bunda berkenan hadir di sini. Episode 2 akan segera hadir.Sabar nggih. ๐Ÿ™

      Hapus
  4. Telah ku baca berulang2, pikiranku melayang jauh -/+ 27 tahun silam
    Baru kali aku diberikan kesempatan baca karya yg kukenal "Iyem"
    Hmmm, luar biasa perjalanan hidup terangkai untaian kata yg kubaca nyaman, hanya takdir dari atas sana !
    Terus dan terus berkarya insya Allah aku suka dan senang baca di saat senggang. Tks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapa ini ya? Kok masih ingat "Iyem", sebut nama dunk... Please... Ya, Ranai Rena akan tayang di blok setiap hari Minggu.

      Hapus
  5. Alhamdulillah.... mantab..
    Semoga terus bisa berkarya...

    Setelah baca ini...
    Dadi ingat masa smp sma ....
    Selalu dengarkan radio kesayangan...

    Mugi" diparingi sehat selalu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, terima kasih suport dan doanya. Selamat mengingat masa-masa SMP SMA.

      Hapus
  6. Sukses sll bu. Sangat menginspirasi disetiap tulisan ibu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Matur nuwun. Ucapan yang sama buat Bu Diah sekeluarga, sehat dan sukses.

      Hapus