Kamis, 07 Oktober 2021

Epis 10 Terpuruk di Balik Dendam

 

 Sekilas episode 9

Hingga tiba-tiba kudapati nama Arvel Anantara yang mengirim pesan untuk Rena Antari bahwa sore ini ditunggu kedatangannya di vila bugenvill Indah.


Terpuruk di Balik Dendam

Sesuai rencanaku semalam, sore ini sepulang dari radio aku menuju rumah Mas Radit. Hari ini adalah hari pertamaku membawa sepeda motor sendiri, aku tidak ingin melibatkan bapak dalam masalahku. Suasana sunyi ketika aku sampai di depan rumahnya yang sebenarnya sangat kurindukan. Kukumpulkan segala keberanianku untuk menghadapi Mas Radit. Kubunyikan bel, tak lama ada orang yang membuka pintu. Ternyata ibu.

“Nak Rena!” ibu kelihatan kaget sekali.

“Mas Radit ada, Bu?” tanyaku tanpa memberikan salam terlebih dulu.

“Ada, ayo masuk dulu,” ajak ibu. Kuulurkan tanganku sebagai hormatku pada ibu. Aku duduk di kursi dengan lemah. Lidahku serasa terkunci. Tak lama Mas Radit muncul dengan wajah kuyu baru bangun tidur. Aku hanya diam beberapa saat. Tak tahu harus memulai dari sudut mana untuk keputusanku yang tanpa alasan.

“Mengapa tidak memberi kabar, hp non-aktif!” tiba-tiba Mas Radit mengawali dengan menunjukkan kesalahanku. Aku hanya menunduk mencoba menguasai diri.

"Aku ingin kita putus!” bukan jawaban atas pertanyaan Mas Radit tapi keputusan yang tidak bisa ditawar lagi. Mas Radit tampak kaget dengan keputusan ini.

“Tidak! Apa salahku? Tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba minta putus!” tolaknya dengan nada marah. Aku hanya terdiam menahan butiran permata bening yang kian menggantung.

“Ayo katakan! Sekian lama tidak ada kabar tiba-tiba…!” kata-katanya semakin keras, hingga ibu keluar dan memanggilnya.

“Radit! Jangan keras-keras kenapa!” kata ibu mendekatiku. Butiran permataku tak terbendung lagi. Aku menangis tanpa bisa kutahan-tahan lagi.

“Ada apa Nak? Apa Radit sudah berbuat salah?” tanya ibu penuh bijaksana. Aku menggeleng.

“Tidak Ibu, Mas Radit tidak bersalah apapun, Rena yang salah, Rena tidak pantas hidup berdampingan dengan Mas Radit,” sanggahku dengan suara tangis semakin keras karena terbayang pula wajah Afdal bedebah itu. Aku menahan diri sekuat daya untuk menyimpan nama itu agar tidak keluar dari mulutku.

“Mana mungkin kalau tanpa sebab, kau memutuskan semua ini,” ujar Mas Radit seperti telah hilang simpatinya terhadapku. Ia benar-benar kecewa. Tangannya mencengkeram dengan kerasnya hingga wajahnya memerah. Aku takut sekali.

“Sudahlah Radit! Hargai Nak Rena, mungkin belum bisa mengatakannya sekarang, mungkin lain hari,” ibunya menengahi, takut anaknya tidak bisa menguasai diri.

“Baiknya Nak Rena pulang dulu, kami tunggu jawaban Nak Rena,” aku sedikit lega. Ibu bijaksana sekali. Aku pun berdiri. Kuraih tangannya, kucium pipinya.

“Maafkan saya Bu,” kataku mengakhiri pertemuan itu dengan bersimbah air mata. Ibu hanya mengangguk dan mengusap kepalaku. Langkahku berat sekali meninggalkan rumah itu. Maafkan aku ibu telah menghancurkan harapanmu dan anakmu. Harapku dari kedalaman hatiku.

Mungkin ini kehadiranku yang terakhir kali di vila Bougenvill, aku harus meretas segala asa yang selama ini menghiasi hari-hariku dengan indah. Aku harus menghapusnya, meski terasa berlawanan dengan inginku. Aku harus berlalu dan terus berlalu tanpa berusaha menoleh lagi. Karena dengan menoleh akan berarti mengukir luka lebih dalam lagi di hatiku. Aku harus tega, aku harus berani mengambil langkah ini untuk menutup sebuah aib yang telah terjadi di diriku.

Aktivitasku sebagai penyiar mulai menyita sebagian besar waktuku. Awalnya hanya untuk mengalihkan kekalutanku, tapi lama kelamaan aku keasyikan. Kadang ibu protes dengan keadaan ini. Ibu juga mulai menanyakan ke mana Mas Radit. Aku jawab saja sudah putus. Sementara akhir-akhir ini aku mulai sering melihat Afdal jalan dengan seorang perempuan. Terakhir kemarin ketika aku menjadi MC di pernikahan adiknya Mbak Mitha istrinya Mas Hendra. Timbul niatku untuk menghancurkannya. Sementara, suara Mas Radit tak bisa kudengar lagi dari radio, dengar kabar burung dia telah pindah ke kota Surabaya.

Sore itu, aku menjadi MC di acara pembukaan pameran yang diadakan Himpunan Pengusaha Muda di kota. Kembali aku melihat Afdal bedebah itu. Kali ini tidak terampuni, niatku akan menghancurkan hidupnya. Kusapa dia dengan ramah sebagai tuan dan nyonya melalui microfon ketika ia baru masuk di acara tersebut. Ia pun mencari sumber suaraku. Sejenak ia tampak terkejut melihatku, kutampakkan senyum ramahku. Seolah tanpa ada rasa sakit hati yang kurasakan. Segala cara kulakukan untuk dapat menarik perhatiannya, dan aku pun sukses mendapat nomor hpnya dari seseorang.

Pagi itu, sekitar jam delapan ada telepon masuk ke hp tanpa nama.

“Halo,” sapaku.

“Halo, benar dengan Kina?” tanya seseorang tapi aku seperti mengenalnya.

“Iya, dengan siapa ini?” tanyaku untuk memastikan.

“Aku Afdal,” jawabnya. Oow… seruku dalam hati. Tidak usah repot-repot mencari malah datang sendiri. Aku sekarang siap memangsamu. Pikirku.

“Oya? Masih ingat to dengan Kina,” jawabku dengan sedikit manja.

“Aku ingin ketemu,” katanya lagi. Kusambut dengan gembira di sisi otak nakalku, tapi tetap saja aku merasa jijik di ujung nuraniku.

“Ok kapan?” kataku, seperti merentang masalah.

You pulang jam berapa?” lanjutnya.

“Jam 18.00. di mana?” putusku. Aku merasa terlalu lama di telepon.

“Di Sumber Nikmat,” jawabnya.

“Ok.,” langsung kumatikan ponselku.

Aneh, aku sedemikian ingin bertemu dengannya, aku ingin benar-benar menghancurkannya. Seperti halnya kehancuran hidupku karenanya. Usai siaran dan sholat Maghrib di kantor aku langsung menuju tempat yang dijanjikan. Sesampai di sana ia sudah menungguku. Aku memesan jus alpukat dan nasi goreng spesial. Ia menanyakan kabarku dan ke mana pasca kejadian itu, ia mencari ke mana-mana tidak menemukanku. Demi kesuksesan misiku aku mencoba bersikap semanis mungkin. Demikian hingga pertemuan itu berlanjut dengan pertemuan-pertemuan berikutnya.

Pertemuan kali itu entah pertemuan ke berapa, aku sudah tak mengingatnya. Ketika asyik makan, Afdal pamit ke belakang. Hand phonenya berbunyi, tertulis nama Arni. Aku angkat saja.

“Halo!” sapaku.

“Halo! Siapa ini?” suaranya seperti terkejut.

“Aku Kina, pacar Mas Afdal!” jawabku dengan tegas.

“Heh! Siapa kau, mana Mas Afdal!” gertaknya.

“Mas Afdal sedang tidur!” jawabku lalu kumatikan hand phone itu. Di ujung nuraniku ada rasa kasihan terhadap gadis itu. Tapi itulah yang kurasakan dulu. Ini baru babak pendahuluan. Seru otak kotorku.

Beberapa hari ini Afdal tak menghubungiku, mungkin tahu kelancanganku telah mengangkat telepon gadisnya. Aku harus berbuat sesuatu. Aku telepon, aku meminta segera dinikahi, kalau tidak aku akan mengatakan pada gadis itu tentang semua yang pernah terjadi padaku. Dia sangat panik. Berharap supaya aku sabar untuk beberapa waktu. Ok. Kukasih waktu satu minggu untuk menyelesaikan masalahnya dengan gadis itu.

 Selama satu minggu aku diam. Menunggu. Dan betul, dia menepati janjinya datang ke rumah untuk bertemu bapak dan ibu dengan sebuah cincin permata sebagai tanda melamarku. Awalnya bapak menolak, datang tanpa memberitahu terlebih dahulu, tahu-tahu melamar, kayak orang membeli ikan di pasar saja. Namun aku berhasil merayu ibu untuk merestui sehingga ibu pun meyakinkan bapak supaya menerima Afdal tentunya dengan berbagai persyaratan dari bapak. Walaupun sebenarnya tujuan pernikahanku dengan Afdal hanyalah untuk menghilangkan status gadisku di KTP. Lain tidak.

 Akhirnya aku menikah dengan Afdal, meski aku tidak tahu apa yang akan kulakukan dengan pernikahan ini. Tepat di hari itu Mas Radit SMS “Inikah jawaban atas penantianku dan ibu selama ini?’ Trims. Radit dan Ibu. Subhanaullah, ternyata Mas Radit masih menunggu jawabanku. Meski tak kutahu keberadaannya. Di lain hari nomor itu aku telepon tidak aktif. Tanpa kusadari, aku telah sanggup menjadi seorang yang kejam bagi Mas Radit dan ibu. Aku telah mencampakkan mereka begitu saja tanpa setitik kejelasan alasan yang bisa menuntun mereka untuk ikhlas menerima keputusanku. Langkahku benar-benar egois, hanya demi kepentinganku sendiri.

Sebulan berlalu, tabiat Afdal mulai tampak. Tiap hari bapak selalu membicarakannya. Tidak jarang marah-marah dengan ibu. Nyinyir hatiku. Niatku akan segera meminta cerai, namun belum sempat terjadi, aku malah mendapat tamparan yang sangat dahsyat. Aku turut menjadi tersangka dalam kasus penggelapan uang yang dilakukannya karena dia mentransfer uang tersebut ke nomor rekeningku. Meski aku tidak tahu ia telah mentransfernya, namun fakta itu tidak dapat mengubah keputusan pengadilan, sehingga aku pun harus mendekam di penjara selama enam bulan. Begitu juga Afdal dia dihukum satu tahun penjara. Inilah pukulan terberat kedua orang tuaku. Aku, anaknya yang notabenenya seorang penyiar yang selama  ini mengasuh acara Islami harus mendekam di balik jeruji besi. Sungguh sebuah nista yang tak terampuni bagi mereka.

Hidup di balik jeruji besi adalah suatu hal yang benar-benar tak pernah terbersit dalam pikiranku. Tapi sudahlah aku harus terima semua ini. Meski terasa berat, terutama bila mengingat kedua orang tuaku, rasanya ingin mati saja agar tak selalu menambah beban mereka. Tapi inilah yang harus kujalani. Aku harus kuat. Kakak berniat mengganti masa tahananku dengan sejumlah rupiah, tapi aku tidak mau. Semua ini karena ulahku sendiri. Aku tak ingin melibatkan mereka lebih jauh lagi.Awal-awal berada di dalam lapas, aku hanya bertemankan sebuah buku dan ballpoint. Kutuliskan tentang perjalanan hidupku yang selama ini. Mas Hendra dan istrinya sangat sering menjengukku. Mereka tak risih harus bolak-balik ke lapas ini. Suatu saat Mas Hendra membaca tulisanku, dia terkesan dan ingin mengirimnya ke sebuah majalah sastra terbitan ibu kota. Aku senang sekali tapi apa mungkin ya, tulisan yang asal-asalan itu bisa dimuat di majalah itu. Kita harus berani mencoba dan tetap semangat ketika tulisan itu tidak dimuat, itu kata mas Hendra. Mas Hendra dan Mbak Ratih adalah tetanggaku, mereka sangat akrab dengan bapak dan ibu, juga kakakku.

Berada di lapas, banyak hal yang bisa kubaca dari berbagai macam karakter. Satu selku ada dua puluh orang dengan berbagai macam kenakalan remaja yang menggiring mereka hingga berada di balik jeruji besi ini. Ya rata-rata mereka usia remaja. Dengan berbekal sedikit pengetahuan dan pengalaman yang kumiliki aku mencoba berbagi dengan mereka. Awalnya ada temanku, Widya namanya, dia sangat ingin menjadi seorang penyiar. Tak jarang ia mendekatiku ketika aku tak lagi menulis. Dia cantik, bahkan paling cantik di antara kami. Dia juga berjilbab, aku sangat terkesima melihat wajahnya kala usai berwudhu, dia tampak anggun sekali. Mungkin jilbab ini yang membuat wajahnya bersih dan berseri. Aku jadi ingat ibuku, selama ini ibu selalu menyarankan supaya aku mengenakan jilbab seperti Mbak Dewi, kakak iparku, namun aku masih mengabaikannya.

Ada lagi yang sukanya membaca puisi-puisi dan cerpenku, namanya Karni, tiap kali ada yang terbaru selalu ingin dibacanya, tidak jarang ia juga memberiku masukan terhadap puisi atau cerpen yang telah dibacanya. Yang lainnya? Pihak lapas selalu menghadirkan ahli tata rias dan tata boga yang ternyata sahabat-sahabatku semasa di SMA. Yang lucu, sejak mendapat pelatihan tata rias, setiap hari Vera selalu memakai make up lengkap sehingga ia sering terlambat dalam mengikuti kegiatan. Warga lapas yang paling sering mendapat hukuman karena terlambat ya hanya Vera ini.

Sore itu, Mas Hendra dan istrinya kembali menjengukku untuk yang kesekian kalinya. Kukatakan demikian karena sudah tak terhitung jari tangan dan kakiku kedatangan Mas Hendra dan Mbak Ratih. Seperti biasa mereka selalu membawa kabar yang menyenangkan bagiku, selalu menjadi penyemangat hidupku. Mas Hendra yang masih keponakan pak Haji pemilik radio tempatku bekerja dulu mengatakan bila Pak haji masih mau menerimaku jika nanti aku mau bekerja di radio itu. Tapi bagiku, tempat itu terlalu mulia bila harus menerima orang sepertiku. Memendam aib karena ulah Afdal yang pertama aku mampu, tapi yang ini? Semua orang tahu tanpa aku memberitahu. Sepertinya aku ingin menjadi penulis fiksi saja, yang bebas mengembara ke mana-mana dalam alam bawah sadarku. Aku ingin menikmati setiap jengkal waktu bersama ibu dan bapak dalam damainya hatiku. Tanpa siapa pun selain mereka.

***

Mungkin ini kehadiranku yang terakhir kali di vila bougenvill, aku harus meretas segala asa yang selama ini menghiasi hari-hariku dengan indah. Aku harus menghapusnya, meski terasa berlawanan dengan inginku. Aku harus berlalu dan terus berlalu tanpa berusaha menoleh lagi.

Bersambung episode 11 Meretas Asa Di Atas Luka

episode lainnya bisa klik tanda panah kanan/kiri


Sabtu, 25 September 2021

Epis 9 Merajut Asa dalam Keterbatasan


Episode 8

Memang sempat kurasakan ada rona-rona lembut beraroma cinta dan kasih yang menghiasi wajah Mas Yosi saat kami bersama, namun hanya sebatas itu dan sejauh ini di antara kami tidak pernah terikrar apa pun. Mas Yosi sangat pandai menjaga hati dan sikap, dia sangat tertutup.


Merajut Asa dalam Keterbatasan

 

Kupendam di relung hatiku yang terdalam semua kejadian yang kualami, tak seorang pun boleh mengetahuinya. Aku harus tegar dan bangkit dari keterpurukan ini. Aku masih ada kesempatan menjadi penyiar lagi, aku bukan orang terbuang laksana sampah busuk. Kupilih dan kupilah jalan terbaik untuk masa depanku. Bapak dan ibu tidak boleh tahu. Tentang Mas Radit, ibunya, inilah yang terberat bagiku. Mereka sangat menyayangiku. Tapi bila mereka tahu kondisiku yang sebenarnya apa mereka masih mau? Atau justru membuangku laksana sampah? Duh Gusti, mengapa semua ini harus menimpaku? Ampuni hambaMu ini ya Allah. Kembali bendungan di kedua kelopakku tak mampu bertahan menahan segala perih yang melanda.

    Awal bulan, aku mulai bekerja lagi. Aku diantar bapak, walau sebenarnya aku tidak tega namun kondisiku benar-benar belum memungkinkan. Sesampai di kantor beberapa teman menyambutku dan mengucapkan selamat bergabung kembali. Keadaan ini membuatku merasa masih memiliki hidup, aku harus memperjuangkannya. Pekikku dalam hati. Nina datang dengan membawa jadwal siaran lalu menunjukkannya padaku. Kuamati jadwal tersebut dan berdegup jantungku ketika kudapati acara Simfoni Malam kembali padaku, kucoba bernego dengan Nina supaya acara itu diberikan orang lain saja dengan alasan kesehatan. Namun Nina tidak berani memutuskan harus koordinasi dulu dengan Pak haji, maklum radio tempatku bekerja milik perorangan sehingga segala hal harus sepengetahuan beliau. Tak lama kemudian Nina pun kembali dengan memberitahukan padaku bahwa acara itu tidak live tapi direkam di siang harinya saja. Alhamdulillah, seruku dalam hati.

Hari kedua siaran ada beberapa fans yang datang untuk menemuiku. Walau sebenarnya aku belum siap bertemu dengan orang banyak, tapi mau tidak mau harus kulalui. Aku harus mengawalinya lagi, seperti kala pertama menjadi penyiar. Aneh, aku mudah sekali tersinggung dan ingin menangis kala ada yang berbicara agak nyleneh terhadapku. Akhirnya aku berpura-pura sibuk di dalam, ke luar hanya beberapa saat saja. Acaraku selesai, aku bersiap-siap untuk pulang, namun Nico sang operator memanggilku, katanya ada telepon. Dadaku sudah berdetak lebih dari biasanya, kucoba tenangkan diri beberapa saat.

“Halo,” sapaku.

“Halo, aku Radit,” sapanya dengan suara datar, namun bagiku sangat menggelegar.

“Bisa ketemu?” sambungnya. Aku semakin bingung.

“Maaf, hari ini tidak bisa,” jawabku asal.

“Kapan?” kejarnya.

“Besok saja,” jawabku dengan malas. Keringat dingin mulai mengucur melalui  pori-pori dan membasahi sekujur tubuhku.

“Ok. Ini janji!” jawabnya lalu menutup telepon. Kutarik nafasku panjang-panjang. Untung bapak segera datang.

Sesampai di rumah kubanting tubuhku di pembaringan seakan ingin melepaskan segala persoalan di kasur ini. Kini, persoalan terbesarku adalah Mas Radit. Tiap kali memikirkannya kepalaku seperti berputar, mata berkunang-kunang. Logika mengajakku untuk kuat, namun ragaku tak mampu mengimbangi. Sudah terlalu lama aku mengabaikan Mas Radit, dari sakit lalu ke Surabaya tanpa mengabarinya. Hp sengaja tidak kuaktifkan hingga saat ini. Aku tidak lagi menggunakan medsos berupa apa pun. Aku ingin menutup diri dari apa pun dan siapa pun.

Tengah malam bapak dan ibu membangunkanku untuk salat malam. Kumohon petunjuknya agar aku menemukan jalan memutuskan hubungan dengan Mas Radit yang sebenarnya sangat kudamba, kucintai, dalam murninya hatiku. Namun aku tak boleh egois dengan cintaku, aku tak boleh mengorbankan ketulusan cintanya dengan kepalsuan di diriku. Sementara untuk bercerita dengan terus terang tak mungkin kulakukan. Ada banyak hal yang aku tak sanggup bila berterus terang. Akan ada banyak orang yang kecewa atau bahkan justru membuatku semakin terluka.

Siang itu aku datang ke studio agak terlambat, hujan turun dengan lebatnya tiba-tiba mengguyur desaku yang mulai gersang. Meski aku nekat berangkat dengan menggunakan mantel namun tetap saja terlambat, aku harus mengurangi kecepatan motorku dari biasanya. Terpaan angin dan air sangat mengaburkan penglihatanku, belum lagi ketika ada mobil atau truk yang melintas berlawanan denganku, aku harus ekstra berhati-hati karena genangan air di jalanan bukan tidak mungkin akan menyemprotku jika terlindas bannya. Sungguh suasana yang tidak bersahabat bagiku.

Sesampai di ruang siaran ada Mas Yosi yang ternyata menggantikanku beberapa saat sebelum aku datang. Aku langsung menuju ruang siaran, namun ketika hendak membuka pintu, mas Yosi memanggilku, aku pun berbalik.

“Kenalkan!” kata Mas Yosi padaku sambil menunjuk seorang gadis di sebelahnya untuk berkenalan denganku.

“Kina,” sebutku sambil kuulurkan tanganku. Mas Yosi mengulang namaku dengan perlahan, gadis itu mengangguk dan tersenyum manis sekali.

“Salma,” sebutnya dengan suara pelan sekali, aku paham karena melihat dari gerak bibirnya dan kami berjabat tangan beberapa saat.

“Salma, namanya, dia gadis tunarungu,” Mas Yosi mengulang nama gadis itu. Aku paham, dia seorang gadis tunarungu yang cantik.

“Salma Karami ya Mas?” tanyaku pada Mas Yosi, Mas Yosi paham Salma Karami adalah nama salah satu tokoh dalam Love Storynya Kahlil Gibran.

“Iya,” jawab Mas Yosi, sambil tersenyum.

“Dan ini? Kahlil Gibrannya,” jawab Mas Yosi sambil menunjuk dirinya sendiri, aku sedikit kaget namun segera tersenyum untuk menetralisir suasana getir yang seketika muncul di hatiku, dan mereka pun segera berlalu setelah aku meminta maaf karena keterlambatanku.

Betul kata Lani, kemarin ia bercerita tentang Mas Yosi yang telah bertunangan dengan seorang model dari kota yang dulu pernah diwawancarainya. Model itu seorang gadis tunarungu, ia sangat cantik, dan Mas Yosi sangat menyayanginya. Dari tatapan matanya, memang kelihatan sekali kalau Mas Yosi sangat menyayangi Salma. Salma seorang gadis yang terlahir ke dunia ini tanpa mengetahui siapa kedua orang tuanya, ia tumbuh dan besar hingga menjadi seorang model berkat pendidikan yang diperolehnya selama berada di panti asuhan. Dia banyak menyandang ketidakberuntungan, namun ia berhasil meraih mimpinya sebagaimana orang normal, tidak sepertiku yang bergelimang kehancuran.

Siang ini ada siaran langsung dari lapangan sepak bola di desaku, waktu luang ini kugunakan untuk membaca koran yang terdapat di ruang siaran. Mataku tertuju pada foto seorang gadis dengan memeluk piala, bukankah ini Salma yang baru saja kukenal? Dan benar, model ini adalah Salma, ternyata ia memiliki nama lengkap yang cantik sekali secantik orangnya, Salma Kanistha. Sembilan belas tahun yang lalu ibu Sakinah pemilik panti mendapati sebuah kardus di depan pintu pantinya. Setelah didekati dan dibuka bersama suaminya ternyata seorang bayi yang cantik, ibu panti pun mengasuhnya dan memberi nama bayi itu Salma Kanistha. Bayi Salma tumbuh sebagaimana bayi lain, namun ia jarang sekali menangis, dan ketika dipanggil jarang sekali memberikan respon, hingga menginjak usia satu tahun  Salma masih asik dengan dirinya sendiri. Ibu Sakinah dan suaminya membawa Salma ke dokter, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Salma ada gangguan pada pendengarannya, hingga usia tiga tahun penantian Ibu Sakinah terjawablah bahwa Salma Kanistha tidak akan pernah bisa berbicara alias tunarungu wicara. Gangguan tersebut menyebabkan tidak adanya bunyi atau suara yang diterima Salma sehingga ia tidak dapat menirukan suara yang merupakan proses awal seseorang berbicara. Dunianya sunyi dan senyap.

Ibu Sakinah pemilik panti memang tidak memiliki keturunan karena suatu penyakit maka indung telurnya harus diangkat. Kehadiran Salma otomatis mendapat tempat yang spesial di hati pasangan suami isteri ini, dengan kesabaran dan kasih sayang berlimpah mereka merawat Salma, dia disekolahkan di sebuah Sekolah Luar Biasa yang tidak jauh dari pantinya. Setiap hari bersama suaminya membawa puteri cantik itu ke sekolah tersebut. Di sekolah Salma termasuk dalam kategori anak yang pintar, dan sedikit demi sedikit mulai diketahui bakatnya, dia mulai senang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler seperti tata kecantikan, menjahit, melukis. Di sisa waktunya Ibu Sakinah masih memasukkan Salma pada sekolah modeling yang ada di kota itu juga.

    Kini, Salma tumbuh menjadi gadis yang sempurna dari segala sisi kehidupannya. Sekarang dia kuliah di sebuah universitas dengan mengambil program studi modeling. Sesuai berita di koran ini, ia baru saja mengikuti lomba modeling di tingkat nasional, dan ia berhasil mendapat juara dua. Sungguh sebuah prestasi yang membanggakan, seorang gadis tunarungu yang sukses  merajut asa dalam keterbatasannya. Aku jadi ingat diriku, mengapa hidupku tak seindah Salma? Salma banyak mengalami ketidakberuntungan namun Salma mampu meraih kehidupan yang layak bahkan melebihi manusia normal. Aku adalah manusia normal yang terpuruk oleh keadaan yang kejam, walaupun sebenarnya aku tumbuh dari keluarga yang harmonis. Salma telah menginspirasiku untuk berjuang melawan segala keterpurukanku, walau di ujung-ujung keberanianku masih diuji mampukah menghadapi seorang Mas Radit? Bila ingat ini, bongkahan batu hitam yang besar seperti menghimpit dadaku hingga kurasakan sesak di rongga-rongga pernafasanku.

Kembali aku membaca artikel Salma, selain menjadi seorang model ternyata dia juga menjadi perancang busana, termasuk busana yang dikenakan ketika lomba itu, dia merancangnya sendiri. Kutatap dalam-dalam foto Salma, baju itu demikian bagus, sangat berkelas, pas sekali dengan kulitnya yang kuning langsat. Masih ada lagi, Salma juga pandai melukis. Sungguh sebuah kesempurnaan yang dimiliki Salma, tiada henti aku mengaguminya. Belum selesai aku membacanya, Lani sudah muncul dengan dua gelas teh hangat.

“Mbak Kina mau teh?” tanyanya sambil menunjukkan teh yang dibawanya.

“Tumben kamu nawari teh,” komentarku, karena tidak biasanya ia membawakan teh ke ruang siar.

“Hari ini spesial Mbak,” jawabnya, sambil meletakkan nampan di meja depanku.

“Memang kamu alih profesi?” gurauku sambil membuka tutup gelas berisi teh, Lani malah tertawa.

        “Masak gitu mbak, Pak Taib tidak masuk, kabarnya anaknya masuk rumah sakit,” aku terkejut dengan kalimat ini, Pak Taib pesuruh di radio ini. Aku sangat mengenalnya dengan baik. Dia seusia bapakku, namun masih harus bekerja untuk menghidupi anggota keluarganya yang tidak sedikit. Tidak jarang gajiku yang tidak seberapa aku sisihkan sebagian kecil untuk beliau.

“Sakit apa? Di rumah sakit mana?” tanyaku ingin segera mengetahui.

“Demam berdarah, di puskesmas,” jawabnya sambil mengintip koran yang kubaca.

“Ada berita apa Mbak?” tanyanya.

“Ini, beritanya Salma tunangan Mas Yosi,” jawabku sambil menunjukkan foto Salma.

“Gak cemburu nih..,” Lani menggodaku. Aku menggeleng pelan, tiba-tiba ada keraguan yang menyelinap di rongga dadaku. Mungkinkah ini cemburu? Bukan pekikku dalam hati.

“Ya enggaklah,” netralisirku untuk menghindari Lani berpikir macam-macam.

“Bener nih,” jawab Lani memastikan jawabanku.

“Bener! Suer!” jawabku lagi, kutunjukkan ibu jariku.

“Mudah-mudahan Mas Yosi benar-benar menyayangi Salma ya Mbak, kalau tidak kan kasihan gadis itu,” sambungnya, menyangsikan ketulusan hati mas Yosi.
 

“Memang kenapa?” kejarku tentang prasangka buruknya.

“Ya, kan dulunya mas Yosi menyimpan hati untuk Mbak Kina, lalu dia patah hati melihat Mbak Kina dekat dengan Mas Radit, sebentar kemudian bertunangan dengan Salma, kan..,” jelasnya lagi.

“Sudahlah jangan berprasangka buruk dengan Mas Yosi, setahuku Mas Yosi benar-benar tulus terhadap Salma,” sergahku. Aku tidak ingin Lani terus berprasangka buruk.

“Ya Mbak Kina tidak tahu curahan hati Mas Yosi sih, betapa sakitnya hati Mas Yosi waktu itu, coba kalau Mbak Kina baca di laptopnya, pasti Mbak Kina mengiyakan prasangkaku ini,” ia masih membantah namun harus kutinggalkan ke ruang siar karena acara sepak bola sudah selesai. 

Aku mulai memandu acara musik siang itu, banyak pendengar yang mengirim sms untuk sekedar memesan lagu atau mengirim salam. Satu per satu kubacakan permintaan mereka. Hingga tiba-tiba kudapati nama Arvel Anantara yang mengirim pesan untuk Rena Antari bahwa sore ini ditunggu kedatangannya di vila Bugenvill Indah. Kalimat ini mengalir begitu saja dari mulutku, namun setelah itu langsung aku mengalihkan dengan beberapa lagu. Karena degup kencang di jantungku telah menyesakkan dada, dan suaraku pun hilang beberapa saat. Sebotol aqua yang berada di ruang siar telah berpindah ke perutku, namun getar di dadaku masih saja mendera.

Hingga tiba-tiba kudapati nama Arvel Anantara yang mengirim pesan untuk Rena Antari bahwa sore ini ditunggu kedatangannya di vila bugenvill Indah.

Lanjut episode 10 Terpuruk di Balik Dendam

Kataku.

Jangan memaksa untuk bertahan, bila keadaan tak menginginkanmu. Jangan biarkan hatimu terbelenggu. Keluar darinya dan menata kembali hidupmu. Itu lebih bijak.

Jumat, 10 September 2021

Epis 8 Cinta Tak Terkata

Epis 8 Cinta Tak Terkata 


Di sela-sela padatnya acara, aku sempat mengenal seorang perempuan seusia Rena, Ambar namanya. Dia seorang gadis yang ceria dan ramah. Mungkin hadirnya juga yang membuatku sejenak tak merasa sepi meski tanpa sms Rena. 

    Sekitar satu bulan lebih kami di rumah kakak. Kini saatnya kami harus kembali ke desa. Sebenarnya aku enggan untuk turut, namun melihat bapak dan ibu yang sudah tua akhirnya aku pulang juga. Sekitar Subuh kami sampai di rumah, Pak Jon yang menunggu rumah mungkin sedang nyenyak tidurnya sehingga tidak mendengar panggilan kami. Baru setelah sekitar setengah jam kami menunggu akhirnya pak Jon membukakan pintu. Pagi itu, usai sholat Subuh ibu langsung mengecek bunga-bunga di depan rumah, sedang bapak melihat-lihat kebun pisang di belakang rumah. Aku langsung merapikan kasurku untuk tidur, karena selama di perjalanan tidak sekejap pun mata ini terpejam. Jam delapan tepat aku terbangun, samar-samar kudengar ada tamu di depan. Kubangkit lalu mandi. Selesai mandi kusempatkan untuk solat Duha, mungkin karena sudah terbiasa melakukan selama di rumah kakak, sehingga belum lengkap rasanya bila tidak melakukannya sekai saja. Ibu mengetuk pintu kamarku dan masuk ketika aku baru selesai sholat.

“Ada Mas Yosi,” kata ibu, sambil duduk di kasur yang belum kurapikan.

“Ada apa ya Bu?” jawabku penasaran. Sebenarnya aku belum ingin bertemu dengan siapa pun.

“Katanya sih disuruh Pak haji,” jawab ibu lagi. Pak haji yang dimaksud ibu adalah Direktur Radio Suara Desaku tempat aku bekerja dulu.

“Ya baiknya segera ditemui, sudah menunggu dari tadi,” sambung ibu lagi. Aku ragu, takut jangan-jangan pak Haji mendengar tentang aibku. Gemetar seluruh badanku, keringat dingin keluar.

“Kamu kenapa?” tanya ibu saat mngetahui keadaanku.
            “Entahlah, kepalaku pusing,” jawabku berbohong. Kuambil air dalam botol sisa semalam dan kuminum. Kudiam beberapa saat. Setelah kondisi membaik aku mencoba ke
luar dari kamar.

“Assalammualaikum…,” sapaku pada Mas Yosi yang sedang berbicara dengan bapak.

“Waalaikumsalam…,” jawab Mas Yosi.

“Wah sudah sehat ni,” sambungnya, sambil kami bersalaman.

“Dingin sekali tanganmu, masih sakit?” tanya mas Yosi lagi. Aku hanya menggeleng dan tersenyum. Lalu duduk didampingi ibu.

“Begini bapak, ibu, dan Kina, saya ke sini di utus Pak haji untuk mengajak Kina siaran lagi kalau memang sudah sehat. Kemarin memang ada beberapa orang yang melamar, namun pak Haji sepertinya belum berkenan.” kata Mas Yosi menjelaskan kedatangannya. Hal ini membuatku sedikit lega.

“Kalau kami setuju-setuju saja Sasi kembali bekerja, tapi ya kembali lagi pada Sasi bagaimana.” kata Bapak sangat bijak. Sasi adalah nama panggilanku dari bapak dan ibu. Sedang teman-teman di sekolah memanggilku Kina, karena untuk memanggil Kirana mereka malas, katanya lebih simpel Kina.

“Iya Nak Yosi, bapak ibu terserah Sasi saja, kalau sudah sehat silakan, tapi kalau belum sehat ya bagaimana lagi?” jawab ibu.

“Barusan saja mau keluar dari kamar badannya gemetar, mengeluarkan keringat dingin,” tambah ibu lagi.

“Iya mas, saya senang masih dibutuhkan, tapi kalau boleh saya minta waktu beberapa hari lagi untuk bisa menjawabnya,” jawabku tidak berani langsung memberikan jawaban yang pasti.

“Oh iya tidak apa-apa, paling tidak kalau memang kamu bersedia kan masih bulan depan,” jawab mas Yosi lagi. Aku jadi lega aku masih punya waktu, setidaknya untuk menyiapkan hati dan jiwaku yang porak poranda. Akhirnya Mas Yosi pun pulang.

Awal aku bekerja dulu, Mas Yosilah yang selalu membantuku memperkenalkan beberapa peralatan di ruang siaran. Dia seorang kepala difisi penyiaran, jadi sudah terbiasa melatih pegawai/penyiar baru. Dulu, teman-teman sempat mengira bahwa aku berpacaran dengan mas Yosi karena kedekatan kami. Dan memang sempat kurasakan ada rona-rona lembut beraroma cinta dan kasih yang menghiasi wajah Mas Yosi saat kami bersama, namun hanya sebatas itu dan  sejauh ini di antara kami tidak pernah terikrar apa pun. Mas Yosi sangat pandai menjaga hati dan sikap, dia sangat tertutup.

Lani pernah bercerita, dia sempat melihat ada fotoku di laptopnya dalam bingkai yang cantik sekali. Tidak mungkin kalau tidak ada apa-apanya mengabadikan fotoku seperti itu. Dan dia juga sempat membuka puisi-puisi Mas Yosi di komputer penyiaran ketika suatu hari Mas Yosi

 tidak masuk kerja dia disuruh melihatkan jadwal acara-acara on air dalam minggu tersebut. Diam-diam dia sempatkan ngeprint puisi tersebut dan diberikannya padaku.

“Tatap matanya menerawang jauh, mengikuti sejauhmana merpati itu terbang, terus dan terus diikuti, dia ingin ketika merpati itu lelah, dialah yang akan mendekapnya, merapikan dan mengelus mesra bila sayap-sayapnya ada yang terluka atau patah. Dia terus menunggu merpati itu. Namun hingga hari ini,

Dia masih terdiam dan termangu dalam tatapan kosongnya.

Dia lemah, tak mampu untuk menyampaikan maksud di hatinya.

Dan kini, merpati itu tak kunjung lelah atau pun terjatuh dalam dekapannya. Merpati itu telah hinggap dengan manisnya di sebuah sangkar emas, Merpati itu tampak bahagia dan takkan pernah ke luar dari sangkar itu. Ia pun pasrah dan terkulai lemah dalam bayang impiannya. Tak mungkin lagi  ia berharap tuk mendekap merpati itu, Tak mungkin lagi menaburkan benih-benih keindahan itu, Selamat jalan merpatiku, pujaanku,

Selamat jalan cintaku yang terdiam dalam kelamnya ketidakberdayaan

Selamat jalan Sasi Kirana. Semoga bahagia bersama pujaan hatimu. Kukan mencoba hidup tanpa bayang-bayangmu lagi

Karna kutahu engkau tak mungkin kurengkuh dalam jambangan hatiku Yang selama ini kuhias indah hanya untukmu

Namun, belum selesai aku merapikannya

Engkau telah memiliki jambangan yang lebih indah dan lebih pantas untukmu. Hingga tak mungkin lagi kutawarkan jambanganku. ” Yosi Yudanta.

 

Aku tak menyangka Mas Yosi menyimpan perasaan itu terhadapku, memang aku sempat menangkap sinyal itu darinya, tapi sejauh ini dia tidak mengatakan apa pun terhadapku. Mungkin waktu itu dia masih ingin menyelami siapa diriku, dan di saat dia masih sibuk mengumpulkan data tentang diriku, Mas Radit dengan seribu pesonanya telah mengikatku dalam jalinan asmaranya yang kusambut dengan juta bahagia. Kuminta pada Lani untuk merahasiakan semua ini dari teman-teman, aku merasa tidak sampai hati bila Mas Yosi yang pendiam itu harus menerima ejekan dari teman-teman. Dan aku pun berlaku seperti tidak pernah mengetahui perasaan Mas Yosi.  

***

Jika seseorang demikian meluap amarahnya terhadap kesalahan kecil yang Anda lakukan. Coba introspeksi, mungkin dia sudah terlalu lelah dengan kesalahan-kesalahan (yang Anda anggap kecil) yang seringkali Anda lakukan. Jujurlah pada hati Anda. Jika iya segera akui. Bijaklah dalam bertindak, jangan malah membuat statemen yang justru mengundang sengketa. [Menebar Asa]


Senin, 30 Agustus 2021

Epis 7 Sesaat Tanpa Hadirmu



Sesaat Tanpa Hadirmu


Selama di bumi Blambangan banyak hal yang kuperoleh. Kota ini sangat unik, kaya dengan seni, budaya, sejarah, dan upacara-upacara ritual. Di bidang seni ada gandrung dengan penari cantiknya, kuntulan, batik gajah oleng, dan lain-lain. Budaya ditunjukkan dengan kiling, mocoan, paglak, dan geredoan. Upacara ritual ditunjukkan dengan adanya puter kayun, pethik laut, ider bumi, seblang, tumpeng sewu, dan lain-lain masih banyak lagi.

Adapun aneka kuliner tidak kalah nikmatnya tersaji di sepanjang jalan yang kulalui, ada rujak soto, nasi tempong, pecel rawon, dan ketika pagi hari tersaji sebuah menu yang sangat unik yakni sego cawok. Keempat jenis kuliner ini sudah pernah kunikmati. Rujak soto adalah paduan rujak petis yang disiram kuah soto babat atau soto ayam. Sebelum merasakan yang kubayangkan adalah rasa neg, namun ternyata sangat cocok di lidahku. Nasi tempong adalah nasi bertemankan sayuran dan sambal yang khas (pedas), dengan lauk dadar jagung yang orang Banyuwangi menyebutnya dengan istilah gimbal jagung, tempe, tahu dan ikan asin, sehingga setelah makan muka/wajah terutama bagian mulut serasa seperti habis ditempong atau ditampar. Dan pecel rawon adalah nasi dengan pecel yang disiram kuah rawon dengan lauk kering tempe dan daging sapi tentunya. Menu ini juga sangat kunikmati, karena belum pernah kudapatkan di tempat lain. Sungguh Banyuwangi sangat kaya rasa dan budaya yang memesona.

Tempat-tempat wisata yang sempat kukunjungi adalah yang berada di sekitar kota, seperti Pantai Boom, Taman Sri Tanjung, Pantai Watu Dodol, Pemandian Taman Suruh dan Wisata Oseng, serta Kawah Ijen. Pantai Boom terletak tidak jauh dari kota Banyuwangi, begitu juga dengan Taman Sri Tanjung terletak di depan Pendopo Kabupaten Banyuwangi. Taman ini nyaris tidak pernah sepi dari pengunjung karena letaknya di pusat kota, dan tersaji aneka kuliner yang sangat murah. Ada pisang godog, kacang godog, tahu petis, rujak buah, dan lain-lain tidak ketinggalan penjual mainan anak-anak. Ke arah utara ada pantai Watu Dodol, yang terletak persis di pinggir jalan, jadi bisa dinikmati tanpa harus jauh-jauh berjalan. Dari pantai ini tampak dengan jelas pulau Bali. Dan ketika jiwa ini didera rasa lelah kulepaskan dengan mandi di kolam dengan air yang sangat dingin, yakni di kolam renang Taman Suruh yang sering disebut sebagai kali kotak oleh orang Banyuwangi. Selain di Taman Suruh ini masih ada dua kolam renang lagi yakni Wisata Oseng (WO), dan kolam renang Mirah Fantasi yang dilengkapi dengan Taman Satwanya. Ke arah barat adalah menuju Kawah Ijen. Perjalanan menuju Kawah Ijen memerlukan stamina yang fit, namun setelah sampai di puncak rasa lelah itu tergantikan dengan pemandangan yang sangat luar biasa, yakni Blue Fire yang sangat eksotik.

Kembali ke tujuanku semula yakni menemui seorang penari gandrung untuk sebuah tulisan yang akan kuikutkan dalam lomba Pelangi Budaya Nusantara. Ketika aku datang, ia sedang melatih menari beberapa remaja putri di rumahnya. Seseorang menyuruhku masuk dan menunggu sampai tarian selesai. Ia melatih penari muda itu dengan cukup sabar namun tegas, kelihatan ada seorang penari yang mungkin masih baru bergabung sehingga seringkali kelihatan kaku pada beberapa gerakan, ia menegur tanpa menghentikan tariannya, dan tak berapa lama tampak penari itu sudah mampu menyesuaikan diri dengan teman-temannya. Akhirnya tiba juga waktu istirahat mereka, saat jeda istirahat inilah sang penari menemuiku di ruang tamu yang juga merupakan tempat latihan para gadis tadi. Di wajahnya yang mulai terdapat guratan renta ia masih tampak cantik dan penuh semangat. Ternyata kisah hidupnya tak semanis tarian yang selalu dibawakannya, seperti halnya kehidupan kita, ia juga tidak lepas dari pernak-pernik yang beraneka warna yang membuatnya jatuh bangun demi melestarikan budaya Banyuwangi yang ia kuasai yakni tarian gandrung. Ada sorot mata jijik, bibir mencibir, kata-kata tak manusiawi, bahkan perlakuan tak menyenangkan kerap kali tertuju padanya, saat ia berada di puncak kesuksesan sebagai penari. Namun apapun yang terjadi ia akan terus dan terus menari, kalaupun ia sudah tak mampu ia akan menjadi pelatih menari seperti yang saat ini dilakukannya, ia sudah mulai mengader anak-anak dan para remaja yang berbakat menari. Setelah data yang kuperlukan cukup aku pun segera meminta diri dan berpamitan karena di luar sudah menunggu beberapa mahasiswa dari sebuah universitas di Surabaya dan seorang wartawan sebuah televisi swasta.

Setelah lebih kurang sepuluh hari di kota gandrung ini, aku pun pulang ke kotaku. Belum sempat menulis hasilnya sudah disusul tugas baru, aku harus berangkat ke Jakarta untuk mengikuti diklat selama dua puluh hari. Kucoba kontak Rena namun nomor ponselnya tidak aktif. Akhirnya aku hanya SMS bila aku ada tugas diklat ke Jakarta. Aneh, Rena tak membalas SMSku. Ada rasa sepi yang mengintip relung-relung kalbuku yang terus mengiris hatiku dan berujung pada kegalauanku. Namun setelah empat hari di sini (Jakarta), tugas-tugas diklat turut menyita perhatian dan energiku sehingga aku pun tak sempat lagi berpikir tentang sepinya hati.

Di sela-sela padatnya acara, aku sempat mengenal seorang perempuan seusia Rena, Ambar namanya. Dia seorang gadis yang ceria dan ramah. Mungkin hadirnya juga yang membuatku sejenak tak merasa sepi meski tanpa SMS Rena. Namun masih kubatasi tingkah dan gerakku terhadapnya, aku ingat betul bahwa Rena adalah pelabuhan cintaku yang pertama sekaligus yang terakhir, harapku. Aku bukan tipe cowok yang pandai mengatur strategi untuk bermain-main dalam sandiwara cinta. Bagiku Rena sudah cukup menghiasi istana hatiku, terlebih ibuku demikian menyayanginya seperti anak sendiri.

Hingga suatu siang saat kami menuju kamar masing-masing untuk istirahat, Ambar berjalan di sebelahku, dia menyampaikan maksudnya untuk meminta pertolonganku menjelaskan beberapa materi yang belum dia pahami. Akhirnya usai sholat Dhuhur, masih ada waktu istirahat lebih kurang satu jam, waktu inilah yang kugunakan untuk menemui Ambar. Aku menuju restoran, tempat yang telah kami sepakati. Suasana masih sepi, sehingga kami bisa memilih tempat yang tidak terlalu banyak lalu lalang tamu hotel yang hendak makan, yakni di sudut restoran berdekatan dengan sebuah vas bunga besar yang bertaburkan bunga plastik yang dirangkai sedemikian rupa sehingga tampak cantik dan elegan.

Setelah memesan makanan ringan dan minuman, kami pun mulai membahas satu per satu materi yang belum dipahami Ambar. Ada beberapa hal yang ternyata aku juga tidak bisa menjawabnya, namun setelah kami diskusikan ternyata kami temukan jawabannya. Aku baru kali ini meluangkan waktu ke restoran selama tujuh hari diklat, ternyata banyak peserta diklat yang menggunakan waktu istirahatnya untuk sekedar duduk dan menikmati menu makanan ringan di sini. Selama ini waktu istirahatku benar-benar kugunakan untuk tidur di kamar, selebihnya melihat televisi sambil ngobrol dengan teman-teman se-blok yakni blok Anggrek.

Ambar telah kembali duduk di depanku setelah beberapa saat menerima telepon. Matanya tampak berkaca-kaca. Rupanya telepon barusan yang membuatnya bersedih. Aku paling tidak bisa melihat seorang perempuan meneteskan air mata di depanku. Dengan hati-hati aku pun bertanya.

“Ada apa?” tanyaku. Dia hanya menggeleng namun butiran ranainya terus mengalir membasahi pipinya yang memerah. Kuambilkan tisu yang berada di meja dan kuberikan. Ia mengusapnya, dengan suara berat ia menjawab pertanyaanku.

“Ada seseorang yang mengejarku ke sini,” jawabnya lirih.

“Memang ada yang Anda bawa dari dia, sampai-sampai mengejar ke sini?” jawabku mencoba mengalihkan suasana hatinya.

“Dia mantanku, dan sekarang berada di kota ini untuk memintaku kembali padanya,” jawabnya lagi tak menghiraukan kelakarku.

“Wow… ya jelas Anda dikejar, lha wong  Anda telah melarikan hatinya,” kelakarku lagi, kali ini ia tersenyum di antara guratan kesedihannya.

“Mas! Aku serius ni,” sergahnya, dengan rona merah yang memancar di wajahnya seperti ini ia tampak lebih manis. Pikiran kotor mulai menggoda akal sehatku.

“Iya iya gimana?” jawabku lagi.

“Aku mau minta tolong ni,” katanya dengan merajuk meminta persetujuanku. Aku hanya mengangguk berharap ia melanjutkan kata-katanya.

“Sebelumnya aku mohon maaf, aku berharap Mas mau berpura-pura menjadi … kekasihku, karena malam ini ia akan datang ke sini,” jawabnya dengan malu, wajahnya menunduk tak berani menatapku. Aku terkejut dengan permintaannya.

“Sebentar, sebentar, apa dulu permasalahannya?” jawabku dengan hati-hati, entah mengapa tiba-tiba aku merasa takut terjebak.

“Tapi janji ya Mas, kalau sudah tahu permasalahannya, Mas akan membantuku,” jawabnya memastikan permintaannya padaku. Walau masih ragu, aku mencoba mengangguk.

Akhirnya ia pun bercerita tentang hubungannya dengan seorang lelaki bernama Arsyad, mereka saling mencintai hingga usia pacaran menginjak tahun keempat mereka bertunangan, walau belum ada rencana melangkah ke jenjang pernikahan. Namun akhir-akhir ini Ambar merasa ada yang aneh ditangkap dari gelagat Arsyad, ia merasa Arsyad menyembunyikan sesuatu darinya. Diam-diam ia pun mencari tahu tentang aktivitas Arsyad yang mulai sering keluar kota dengan dalih ada pekerjaan. Ia berusaha mencari tahu ke teman-teman terdekatnya, mereka tahunya kalau Arsyad mendapat tugas ke luar kota dari bos, bahkan seringkali bersama bosnya selama berhari-hari. Mengenai pekerjaan apa yang dilakukan bersama bos mereka tidak ada yang tahu.

Lama ia bersembunyi di balik pencarian tentang jati diri si bos dan kekasihnya. Hingga suatu hari ketika ia sedang menjadi pembawa acara di pernikahan seorang anak pengusaha yang bertempat di sebuah hotel di kotanya, ia mendapati Arsyad bersama bosnya. Beruntung ia tidak sendirian menjadi pembawa acaranya, sehingga ia bisa mengawasi segala gerak yang dilakukan Arsyad bersama bosnya. Tampak di situ si bos akrab sekali dengan orang tua mempelai putri, Pak Hastomo, mungkin mereka memang teman dekat. Di akhir acara terlihat Si Bos mendapatkan kunci dari Pak Hastomo dan sepertinya dipersilakan beristirahat. Si Bos menggandeng Arsyad dengan terburu-buru.  Aneh dalam pikiran Ambar, seorang bos laki-laki menggandeng anak buah laki-laki, dan ia pun diam-diam mengikuti ke mana mereka berjalan.

Ada getar yang menelusup perih di kedalaman relung hatinya, mengapa Arsyad harus memasuki kamar bersama Si Bos. Mengapa harus menginap di hotel ini? Seru hatinya. Sejenak ia membolak-balikkan pikirannya. Ia berusaha mengelak tentang firasat yang selama ini dipendamnya sendiri. Namun, jika ia pergi meninggalkan hotel ini tanpa sebuah kejelasan berarti ia masih memerlukan waktu lebih lama lagi untuk mengungkap tabir di balik jati diri Arsyad. Ia pun berusaha sekuat daya membangun jiwa perempuannya untuk mengetuk pintu. Setelah ia mengetuk pintu beberapa kali tanpa jawaban, ia pun membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Ia tidak percaya mendapati keadaan di depan matanya.

“Mas Arsyad!” ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Sontak mereka yang sedang berusaha melepaskan jerat-jerat asmara terkejut mendapati kedatangannya.

            “Benar ini Kamu, Mas?” katanya lagi memastikan, tanpa menunggu jawaban ia pun berlalu dengan linangan air mata.

            Itulah keadaan terpahit dalam hidupnya, ia tidak pernah menyangka jika Arsyad seorang yang berkepribadian ganda. Ia kecewa, hatinya terluka. Pupus segala harap membina mahligai indah dalam jalinan perkawinan. Hampa ia rasakan menyelinap dan menyusuri relung-relung kalbunya yang selama ini ia harapkan akan menjadi indah. Putus adalah jalan terbaik menurutnya. Namun tidak bagi Arsyad, hingga saat ini dia masih menginginkan Ambar mau menerimanya kembali. Dia berjanji tidak akan mengulangi tabiatnya yang menurut Ambar sudah tidak mungkin lagi. Malam nanti aku yang harus berpura-pura menjadi pacar Ambar. Mungkinkah? Melihat kondisi Ambar aku merasa sangat iba. Aku tak kuasa menolaknya. Akhirnya aku pun menyetujui untuk melakukan hal itu, yakni berpura-pura menjadi pacarnya.

Benar, malam itu usai season terakhir, Ambar menerima telepon dan berjalan ke arahku. Sementara aku belum berniat beranjak dari tempat duduk yang telah menyangga pantatku sejak pukul tujuh malam tadi. Ada beberapa perkataan Ambar yang kudengar sebelum ia menutup ponselnya.

“Maaf Mas, bisa kita ke restoran sekarang?” katanya dengan hati-hati sekali mungkin takut aku tidak berkenan. Memang berat bagiku melakukan hal ini, namun aku sudah terlanjur berjanji. Akhirnya aku menutup laptop dan merapikan kertas-kertas yang berserakan di meja.

Kami pun melangkah meninggalkan ruang season untuk menuju restoran. Sesampai di sana, Ambar menghentikan langkahnya, tampak matanya melihat ke kanan kiri untuk mengetahui di mana Arsyad. Lalu ia berjalan ke sudut ruangan dengan langkah sedikit ragu. Aku paham sebenarnya ia menunggu langkahku untuk sejajar dengannya, akhirnya aku pun berjalan di sebelahnya.

“Kenalkan Mas, ini Mas Arsyad, yang pernah aku ceritakan!” kata Ambar padaku mengawali pertemuan kami. Lalu kuulurkan tanganku pada lelaki di depanku.

“Radit!” kataku setelah kami berjabat tangan. Lelaki ini dengan postur tubuh yang proporsional untuk seorang lelaki, namun wajahnya tampak sedikit mellow. Kelihatan sekali ia tidak suka dengan kedatanganku. Hingga beberapa saat suasana kaku, akhirnya aku pun berpamitan untuk ke kamar kecil sebentar.

Usai dari kamar kecil, aku kembali duduk. Tampak Ambar menitikkan air mata. Belum sempat aku bergabung dengan pembicaraan mereka ponselku sudah berdering. Ada telepon dari kantor. Aku pun meminta diri pada mereka. Selama menerima telepon kulihat dari jauh ada dua orang laki-laki mendekati tempat duduk mereka. Aku menjadi was-was dengan keberadaan Ambar di sana, namun setelah berbincang beberapa saat kedua lelaki itu membawa Arsyad ke luar dari restoran. Mataku terus mengikuti hendak ke mana mereka bertiga, dan ternyata di luar sudah menunggu seorang lelaki botak berperawakan tinggi kekar berkacak pinggang di dekat pintu mobil yang terbuka. Kedua lelaki yang membawa Arsyad mendorong tubuhnya ke dekat lelaki itu dan disambutnya dengan beberapa tamparan yang mendarat di  wajah Arsyad. Aneh, Arsyad tidak sedikit pun melawan, ia malah memohon maaf pada lelaki itu dengan kedua tangan di dada dan kepala menunduk. Aku benci sekali melihat keadaan ini. Akhirnya lelaki itu mendorong tubuh Arsyad ke dalam mobil lalu ia menyusul duduk di sebelah Arsyad. Mereka pun berlalu meninggalkan area parkir mobil setelah dua orang anak buahnya duduk di depan dan mengemudikan mobil tersebut.

Kututup telepon, aku kembali ke tempat Ambar, namun tak kudapati dia di sana. Ketika aku hendak pergi, mataku menatap sebuah benda di bawah tempat duduk Ambar, setelah kuambil ternyata sebuah dompet, pasti ini dompet Ambar, pikirku. Namun untuk lebih memastikan kubuka dompet tersebut, benar di situ ada foto Ambar. Aku pun menyimpannya di dalam tas. Aku kembali ke kamar, karena sangat lelah usai sholat Isya aku pun terkapar lemas tanpa menghiraukan beberapa teman yang masih asik berbincang riang di depan televisi. Hingga suara adzan Subuh yang membangunkanku. Aku pun segera beranjak ke kamar mandi untuk mengambil air wudu, namun bunyi SMS di hp mengajak tanganku untuk meraihnya terlebih dahulu. Ternyata Ambar yang SMS dan menanyakan apa aku melihat dompetnya di meja restoran semalam, aku pun menjawabnya dengan singkat.

Usai salat Subuh, kulihat SMS balasan dari Ambar, dia memintaku mengantar dompetnya di taman dekat kolam. Biasanya di tempat ini ramai peserta diklat melakukan olah raga pagi, namun hari ini hanya beberapa orang mungkin karena semalam materi diklat sangat menyita pikiran sehingga membuat mereka bermalas-malasan di tempat tidur. Kulihat dari balik kaca matanya, ada sembab yang menghiasi kantong matanya. Kuyakin hal ini karena kejadian semalam. Ketika kutanyakan, Ambar sudah lebih baik, dia sudah benar-benar mampu melepas Arsyad. Keadaan semalam sudah menunjukkan bahwa Arsyad bukanlah laki-laki yang baik baginya, selamanya dia akan berada di bawah kekuasaan bosnya. Ambar juga berterima kasih padaku sudah mau menjadi pacar pura-puranya di hadapan Arsyad, sehingga Arsyad pun sepertinya tidak akan mengharapnya lagi. Di samping ketidakberdayaan Arsyad terhadap si bos.

***


Kataku

Diam terinjak, berkata tak bermakna, berteriak semakin meraja. Bersabar saja, niscaya waktu kan menjawabnya, menunjukkannya. 


Buku lainnya.

Buku ini karya bersama guru SMA, SMK, PK Diklat Fiksi Nonfiksi Provinsi Jawa Timur 2017.









 

Minggu, 22 Agustus 2021

Epis 6 Terpuruk di Lembah Duka


Aku tak menolak tapi kupagari hatiku agar tak berfikir lebih untuk seorang Radit. Ia banyak sekali fans setianya. Dia pasti sudah memiliki seorang kekasih.


Pada episode ini ada nama Kina, Sasi. Itu merupakan panggilan dari Sasi Kirana. Bapak ibunya memanggilnya Sasi. Sebagian temannya memanggil Kina, dan di udara ia lebih dikenal dengan nama Rena Antari.


Terpuruk di Lembah Duka

 

            Kami sering jalan bersama ketika berangkat atau pulang siaran selayaknya muda mudi yang berpacaran. Walau sebenarnya jarak rumah Mas Radit yang berada di kota dengan rumahku yang berada di kaki bukit sangat berjauhan, tapi entahlah semua itu bisa kami lewati bersama. Malam itu Mas Radit tidak bisa menjemputku. Dia sedang melakukan wawancara dengan seorang penari gandrung Blambangan untuk sebuah cerita yang akan ditulisnya. Malam Minggu itu aku pulang seperti biasa, sekitar pukul 22.10. Perjalanan menuju rumah memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Namun baru sekitar satu kilo meter dari studio, tiba-tiba sepeda motorku terasa berat dan oleng, aku segera ke pinggir dan berhenti. Benar, ban sepedaku kempis (bhs. Jawa: gembos). Aku bingung karena jalanan mulai sepi, kuambil ponsel dari tas untuk menelpon Mas Hendra atau Mbak Ratih. Tiba-tiba ada sepeda motor berhenti di depanku.

            “Kina…,” panggil seorang lelaki dari balik helm teropongnya. Aku terkejut, sulit mengenalinya dan ternyata Mas Afdal dan temannya. Lega hatiku setelah ia membuka kaca helmnya.

                “Kenapa?” ia turun dari sepeda motornya.

            “Tidak tahu Mas, tiba-tiba ban sepedaku kempis,” jawabku kebingungan. Mas Afdal mengamati ban sepedaku.

            “Oo.. kena paku, ni..,” seru Mas Afdal sambil menunjukkan sebuah paku yang menancap di ban sepedaku lalu mengambilnya.

            “Aduh!” seruku, sambil merogoh saku untuk mengambil ponsel mau menelpon Mas Hendra. Namun belum selesai aku mencari nomor Mas Hendra, Mas Afdal sudah berkata lagi.

            “Sudah, biar ditambalkan Ardi,” aku masih menimbang-nimbang namun Ardi sudah membawa sepedaku. Ya, Ardi adalah sahabat Mas Afdal yang sudah kukenal dengan baik. Akhirnya aku duduk di boncengan Mas Afdal menuju bengkel. Sambil menunggu Ardi, Mas Afdal mengajakku duduk di warung depan bengkel. Ardi pun datang, setelah menaruh sepeda di bengkel ia ke tempat kami minum teh. Lama juga menunggu tambal ban selesai. Dingin udara malam membuatku ingin ke toilet. Selesai dari toilet aku pun menghabiskan teh hangatku, dan beberapa saat kemudian aku merasakan kantuk yang sangat, dan kepalaku terasa pusing. Kusandarkan kepalaku di sandaran kursi.

***

Kurasakan aku berada di tempat yang asing. Hendak bangun namun kepalaku terasa berat. Aku berselimut, tapi ini bukan selimutku. Kupandang sekelilingku, ini bukan kamarku. Aku langsung duduk. Astaghfirullahal adzim! XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX. Butiran permata beningku mengalir deras. Aku telah ternoda. Mas Afdal? Ya mas Afdal yang melakukan semua ini. Aku hendak keluar, namun pintu terdorong dari luar.

“Mas Afdal?” geramku. Dia tertunduk tenang.

“Mengapa Mas lakukan semua ini?” tanyaku dengan kecewa.

“Tenang Kina, tenang,” harapnya padaku.

“Bagus sekali ya? Mas telah menghancurkan hidupku, dan aku harus tenang?” seruku lebih keras lagi sambil kulempar asbak kayu ke dadanya. Ia mengerang kesakitan.

“Ok. Aku khilaf, maaf. Aku akan bertanggung jawab!” aku semakin geram. Tangisku kian tak tertahan.

“Tanggung jawab? Setelah semua ini tanggung jawab? Otak busuk!” kata-kataku terhenti. Serasa habis logikaku dengan kehancuran ini. Aku lempar bantal dan guling ke layar komputer yang berada di meja. Layar itu jatuh. Sementara Afdal hanya memandangku dengan penyesalan.

“Mana hpku! Kontakku!” ia menurut, mengambil hp dan kontakku lalu menyerahkannya padaku. Aku berlari mencari pintu untuk ke luar.

“Di mana sepedaku!” gertakku lagi. Ia menunjukkan letak garasi.

Ketika aku sudah menghidupkan sepeda motor ia masih berseru.

Hati-hati! Aku minta maaf! Aku akan bertanggung jawab!” tak kuhiraukan ucapannya. Aku berlalu kencang dengan sepeda motorku.

Di sepanjang jalan butiran permata beningku terus saja tertumpah, tanpa bisa kubendung walau setetes. Aku benar-benar telah hancur. Terbayang wajah ibu bapakku, wajah tulus Mas Radit, wajah sendu ibunya, semakin perih hatiku, semakin deras air mataku. Aku menghentikan sepeda di taman desa dekat toilet, karena mataku tertutup air mata sampai-sampai tak tampak jalan. Kubasuh mukaku, namun tetap saja. Mataku sembab. Bagaimana caraku menutupi semua ini dari bapak dan ibu? Aku tak ingin mereka tahu. Kuputuskan, aku istirahat di rumah Nina saja, karena saat ini Nina tinggal sendirian. Ku SMS Nina bahwa aku menuju rumahnya, tak lama kemudian ia menjawab silakan, tapi aku masih siaran, kunci di tempat biasa.

Sesampai di rumah Nina aku langsung mandi dan meminjam bajunya. Aku mencoba menghilangkan sembab dengan mengompres mataku menggunakan air hangat, namun percuma air mataku tetap keluar. Aku mencoba menelpon ibu, kukatakan bahwa aku masih di rumah Nina. Alhamdulillah ibu tidak banyak pertanyaan. Mungkin karena beliau masih capek, karena baru sampai di rumah setelah satu Minggu di rumah kakak. Puji syukurku, travel malam dari Surabaya biasanya sampai rumah saat adzan Subuh, ini tadi ibu mengatakan pukul 06.15 WIB baru sampai karena macet yang disebabkan adanya kecelakaan. Berarti bapak dan ibu tidak tahu kalau aku semalam tidak pulang, ibu mengiranya aku siaran pagi, dari pukul 06.00 sampai dengan pukul 09.00. Aku berfikir lagi untuk rencanaku selanjutnya. Aku tidak boleh berlama-lama di sini. Aku harus segera pergi sebelum Nina pulang siaran. Sebisa mungkin aku harus mampu menutup aib ini dari siapa pun. Tekadku.

Jam dua belas kurang seperempat aku ke luar dari rumah Nina, kunci kutaruh di tempat biasa, dan SMS dia. Aku pulang. Sepanjang perjalanan dari rumah Nina perasaan ada yang mengikutiku, tidak jarang aku terkejut dan merasa takut. Dalam pandanganku orang itu adalah Afdal, namun setelah aku perhatikan ternyata bukan. Mungkin ini traumaku.

Sesampai di rumah helm tidak kulepas di garasi. Ibu menyambutku dengan tergopoh-gopoh. Setelah mencium tangan ibu aku pun berlalu untuk segera ke kamar.

“Kamu tadi lupa mematikan lampu?” aku kaget dengan pertanyaan ini, aku baru ingat kalau semua lampu luar masih menyala, karena kemarin siaran pukul 17.00 sampai dengan pukul 21.00 dilanjut acara Simfoni Malam.

“Iya Bu, tadi saya kesiangan,” jawabku singkat, beruntung ibu percaya.

 “Bapakmu masih tidur, sudah makan?” tanya ibu.

“Sudah, aku mau tidur dulu, Bu,” kataku sambil menutup pintu kamar. Kuhidupkan tape recorder di kamarku dengan suara agak keras agar yang kulakukan tidak terdengar bapak dan ibu. Kutumpahkan semua kekesalanku dalam air mata pilu.

***

Tiga hari aku tidak masuk kerja, rasanya aku belum siap bertemu dengan siapa pun. Alasan sakit yang kubuat tidak bisa lebih dari tiga hari ini. Aku ingin berhenti saja meski sebenarnya sangat berat bagiku meninggalkan acara yang selama ini kuidam-idamkan yakni Simfoni Malam, tapi bagaimana lagi fikiranku serasa tak mampu lagi, jangankan untuk siaran, untuk bertemu orang saja aku tidak berani. Apalagi bila mengingat Mas Radit, ibunya, kepalaku langsung pusing. Seperti sore itu, seingatku aku mandi namun tiba-tiba aku tersadar sudah berada di rumah sakit saat malam hari. Kulihat di sekitarku ada ibu, bapak. Terbayang di mataku, Mas Radit datang dengan juta kasih sayangnya dan berharap kesucianku, aku merasa takut sekali. Kepalaku pusing, mataku jadi gelap, dan setelah itu aku pun tidak tahu apa yang terjadi. Tersadar lagi ketika adzan Subuh berkumandang. Kupandang bapak dan ibuku yang tertidur lelap di sisi kanan kiriku, tenggorokanku terasa kering dan panas sekali, aku berusaha tidak membangunkan mereka. Pelan-pelan kuraih gelas aqua di meja, kuminum, dan ketika hendak mengembalikan ke meja malah terjatuh. Saat itu ibu terbangun, begitu pula bapak.

“Bagaimana Si?” tanya ibu menanyakan keadaanku.

“Kepalaku pusing!” kataku pada ibu.

“Iya, la tensimu kurang dari Sembilan puluh!” sahut bapak.

“Maagmu juga kambuh,” tambah ibu lagi. Aku mengiyakan saja. Di kedalaman hatiku, aku bersyukur dengan diagnose dokter, sehingga prahara kehancuranku tidak terendus bapak dan ibu. Lalu mereka mengajakku salat Subuh setelah aku bertayamum.

Selesai salat, bapak dan ibu duduk di samping kanan kiriku. Mereka berharap aku cepat sembuh, karena seminggu lagi kakakku akan pergi beribadah haji bersama istrinya, mereka harus menunggui cucu-cucunya dan menyiapkan segala sesuatunya. Hal ini kusambut dengan gembira, berarti beberapa saat lamanya aku bisa menghindar dari Mas Radit.

“Aku ikut, Bu!” kataku dengan manja.

“Pekerjaanmu bagaimana?” sahut bapak.

“Aku ingin berhenti dulu, aku ingin istirahat,” jawabku lagi.

“Apa tidak sayang, nanti mencari pekerjaan lagi sulit lo,” ibu menimpali. Aku menggeleng lemah. Aku benar-benar ingin istirahat beberapa saat, mengembalikan keberanianku untuk bertemu orang-orang.

“Ya tensimu harus normal dulu, baru bisa ke Surabaya,” putus ibu, bapak hanya mengangguk setuju, dan aku merasa lega dengan keputusan ibu ini.

Tepat di hari kelima aku diizinkan pulang oleh dokter, dua hari ibu membersihkan rumah dan malam harinya kami menuju ke Surabaya dengan sebuah mobil travel yang telah dipesankan kakak. Ada rasa pahit kurasakan di relung terdalam hatiku, aku harus meninggalkan desa yang sangat kucintai dengan membawa aib yang sangat besar. Hilang segala asa, cita, dan citra diriku. Nama yang kubangun dengan susah payah selama menjadi penyiar harus tercampak begitu saja. Bagaimana tidak. Bila para pendengar mengetahui aib yang kuterima pasti mereka akan mencampakkanku begitu saja. Mas Radit, kata ibu harus mengikuti diklat di Jakarta selama dua puluh hari. Aku masih ada waktu untuk menenangkan diri sebelum mengambil keputusan.

Setiap hari di rumah kakak diadakan pengajian anak-anak panti asuhan yang terletak tidak jauh dari rumahnya, begitu pula aku, aku selalu mengambil kesempatan untuk mendengarkan ceramah dari ustadz yang berbeda-beda setiap harinya. Di rumah kakak juga ada satu ruang sebagai perpustakaan keluarga yang tersedia banyak buku dan majalah Islami. Banyak hal pula yang kudapat dari membaca di perpustakaan ini. Sedikit demi sedikit kuretas rasa rendah diriku. Hidupku belum berakhir, aku harus terus berjuang meski dengan kondisi seperti ini. Banyak hal yang seharusnya bisa kuraih. Walau untuk kembali dengan mas Radit itu tidak mungkin. Targetku sekarang hanya satu, yakni membahagiakan bapak dan ibu.

Sujud syukurku pada Allah Swt. Bulan yang kutunggu-tunggu datang juga. Alhamdulillah aku xxxx berarti aku xxxxx xxxxx. Aku tak bisa membayangkan seandainya aku xxxxx. Beban mentalku akan bertambah lagi. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus xxxxxxx dengan Afdal bedebah itu.

***

Kurasakan aku berada di tempat yang asing. Hendak bangun namun kepalaku terasa berat. Aku berselimut, tapi ini bukan selimutku. Kupandang sekelilingku, ini bukan kamarku. Aku langsung duduk.


Kalimat yang menginspirasiku.

Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapa pun, karena yang menyukaimu tidak butuh itu. Dan yang membencimu tidak percaya itu." -Ali bin Abi Thalib


Buku lainnya.