Di
balik kesyahduan syair-syair puitisnya, ia juga mampu bermain peran. Sayang aku
bukan seorang yang mampu dengan mudah mendekati seorang wanita, aku memerlukan
waktu yang lama untuk mengenalnya atau sekedar mengajaknya mengobrol.
Kembali
pada aktivitasku, setiap hari aku memiliki jam kerja yang berbeda, kecuali untuk
acara Simfoni Malam yang kuasuh
selalu dimulai pukul 21.00 sampai dengan 22.00 setiap hari Sabtu. Tanpa
diketahui siapa pun kini ada sosok lain yang menjadi fans setiaku, karena ia
menggunakan nama udara. Nama Arvel Anantara sebenarnya nama yang tak asing
bagiku. Dulu nama itu selalu mengirimkan syair-syair indahnya untukku, Rena
Antari lewat suara lembut bersahaja Mas Radit. Dan tak jarang aku pun
membalasnya dengan cara yang sama. Kini, nama itu muncul lagi, mungkinkah nama
itu milik Mas Radit? Tanyaku dalam hati tanpa pernah berani untuk bertanya.
Hingga pada suatu hari Minggu, Mas Radit mengajakku jalan. Aku tak menolak tapi
kupagari hatiku agar tak berfikir lebih untuk seorang Radit. Ia banyak sekali
fans setianya. Dia pasti sudah memiliki seorang kekasih. Kalau pun hari ini
mengajakku jalan, mungkin hanya sebagai sesama penyiar saja. Tidak lebih.
Tepisku dalam hati yang mulai dirayapi getaran aneh tentang Mas Radit. Aku
tidak boleh berharap apa pun dari perjalanan ini.
Jalanan ramai, banyak muda-mudi
berpasangan hilir mudik menuju pantai. Kupikir mas Radit akan mengajakku ke
pantai tapi ternyata tidak, Mas Radit membelokkan motornya ke kanan lurus
menuju perumahan. Perumahan Bougenvill Village. Aku mulai was-was.
“Sebenarnya kita mau ke mana?” tanyaku
dengan nada khawatir.
“Tenang aja, kita makan dulu, aku
lapar,” jawabnya santai.
“Makan
di mana?” kejarku lagi.
“Kepikiran banget, aku bukan
penjahat yang mau menculik tuan putri lo...,” jawabnya lagi. Dan hatiku berdegup
kencang ketika tiba-tiba Radit menghentikan motornya di sebuah rumah mungil nan
asri, padu padan antara cat pagar kayu yang berwarna-warni dengan tanaman di
taman sangat serasi.
“Rumah siapa?” tanyaku penasaran.
“Arvel Anantara,” jawabnya singkat
dengan senyum menggoda.
“Kok!” serasa ada yang menyekat di
rongga tenggorokanku. Kata-kataku tak bisa ke luar dengan sempurna.
Berarti Arvel Anantara selama ini Mas
Radit? Tanyaku dalam hati.
“Sudahlah,” sergahnya sambil menarik
tanganku dan membawanya masuk ke rumah.
“Silakan duduk Tuan Putri,” serunya
sambil menunjukkan tempat duduk untukku. Ia pun berlalu ke dalam sambil berkata.
“Sebentar ya?” aku masih terpana
dengan nama yang disebutnya baru saja. Nama itu telah ada sejak aku menjadi
fans setianya, benarkah mas Radit menyimpan rasa itu selama ini? Selama menjadi
fansnya aku tidak pernah bertemu dengannya.
Aku bingung dengan perlakuan Mas Radit,
aku tak pernah sekali pun mendatangi rumah cowok, apalagi dibawa seperti ini.
Aku merasa tidak nyaman dengan perlakuan yang seperti ini. Aku kecewa.
“Oo..
ada tamu,” suara seorang perempuan dari dalam membuyarkan lamunanku. Aku
berdiri menyambut jabat tangannya.
“Kenalkan, ibunya Radit,” tambahnya
lagi.
“Saya Kirana,” jawabku ragu, ia
tersenyum.
“Radit sering bercerita tentang Nak
Kirana,” kata ibunya lagi, membuatku penasaran. Radit muncul dengan nampan
berisi teh dan sepiring kue.
“Maaf, tidak punya bibik,” guraunya
sambil menaruh nampan di meja, ibunya hendak memindahkan teh ke dekatku.
“Biar saya saja Bu,” kataku sambil
berdiri dan mengambil teh tersebut kusajikan untuk ibu, Radit dan untukku. Aku
merasa tidak enak dengan situasi ini.
“Di sini santai saja Nak, ibu hanya
berdua dengan Radit, bapaknya meninggal sejak Radit berumur lima tahun,” ibunya
mengawali percakapan kami lagi. Mungkin melihat aku gugup, merasa tidak nyaman
sekali, dan akhirnya aku hanya mampu mengangguk untuk menutupinya.
“Nak Kirana berapa bersaudara?” tanyanya.
“Berdua, dengan kakak laki-laki,” jawabku.
“Oo.. kakaknya apa sudah menikah?”
balasnya.
“Sudah,
sekarang tinggal di Surabaya,” jawabku, mau melanjutkan Mas Radit sudah muncul
lagi. Aku pun akhirnya bisa mengimbangi pembicaraan ibu.
“Wah.. ibu, kalau ada tamu, diajak ngobrol terus. Maklum biasanya
sendirian. Ayo makan dulu. Aku sudah siapkan lo…,” ajak Mas Radit.
“Iya Nak ayo makan dulu, hari ini
ibu masak istimewa, opor ayam sama lontong kesukaan Radit,” aku hanya menurut
tak tahu bagaimana jika mau menolaknya.
Penataan perabot di ruang tengah dan
ruang makan tidak berlebihan, namun kelihatan sekali kalau terawat setiap hari.
Pasti sentuhan lembut jemari tangan ibu yang merawatnya. Mereka tampak akur
sekali, saling menyayangi. Aku semakin mengagumi keluarga ini. Aku ingin turut
dalam kemesraan mereka.
Di tengah-tengah suasana makan ibu
banyak bercerita tentang Radit dan masa lalunya. Kadang ada rasa cemburu,
kagum, dan kadang juga ingin menjadi bagian dari mereka. Namun, aku bukan
siapa-siapa, mungkin saja banyak gadis-gadis yang dibawa untuk dikenalkan pada
ibunya.
Selesai makan siang ibunya pamit untuk salat Duhur dan beristirahat. Aku dan Mas Radit duduk di taman belakang yang ternyata juga sarat dengan tanaman. Ada tanaman bunga, obat-obatan, dan sayuran. Ibu betul-betul seorang yang rajin, seperti bapakku dalam hal bertanam. Mas Radit menceritakan tentang bagaimana mencari tahu tentang ihwalku dari mas Hendra temannya sewaktu sama-sama mengikuti lomba menjadi penyiar di radio tempatnya bekerja sekarang, yang rumahnya tak jauh dari rumahku. Itu dilakukannya sebelum aku menjadi penyiar, sehingga dia tahu betul tentang masa-masa SMAku. Kini, ia merasa tiada keraguan lagi untuk membawaku pada ibunya dan meminangku menjadi istrinya. Namun bagiku semua itu terlalu terburu-buru, aku hanya mengenal Mas Radit seorang penyiar dengan suara sangat menyentuh hatiku, lebih dari itu aku belum tahu apa-apa. Meski jujur aku tertarik padanya, namun untuk melangkah ke jenjang rumah tangga, aku meminta waktu dan mas Radit mengiyakan, begitu pula ibunya.
Selama penantiannya Mas Radit sering
mengunjungiku, sebaliknya aku juga sering menjenguk ibunya. Aku merasa mungkin
ini yang terbaik bagiku, sehingga aku pun meminta persetujuan kedua orang
tuaku. Hasilnya mereka dengan senang hati merestui. Aku bahagia, perjalananku
mendapat restu ke dua belah pihak tanpa harus bersusah payah seperti selama
ini, bapak dan ibu melarangku untuk berpacaran termasuk ketika aku berpacaran dengan
Mas Afdal. Perjalanan cinta kami lalui dengan indahnya, aku yang masih sangat
muda berpacaran dengan Mas Radit yang terbilang sudah dewasa, dia mampu
menuntunku dalam banyak hal. Dalam kepenyiaran dia selalu menambah ilmuku
dengan beragam pengetahuan yang dimilikinya. Dari sisi kehidupan ternyata
pengetahuan agama dan sosial kemasyarakatannya juga sangat baik. Pandai sekali
dia mencuri perhatian kedua orang tuaku, seminggu saja Mas Radit tidak ke rumah
pasti ditanyakan. Hal ini semakin membuatku enggan untuk menerima permintaan
kakak supaya aku melanjutkan kuliah. Aku telah terpaut dan terlena dengan
keagungan cinta kami. Masa-masa ini sangat indah kulewati sebagaimana remaja
lain. Tak ingin lagi memikirkan yang lain, selain bekerja dan mengisi hari
dengan sahdunya kebersamaan.*** Bersambung ke episode 6 ....
Aku
tak menolak tapi kupagari hatiku agar tak berfikir lebih untuk seorang Radit.
Ia banyak sekali fans setianya. Dia pasti sudah memiliki seorang kekasih.
Kataku
Jangan risau ketika perjuangan tidak sesuai harapan. Ingat, kita hanya sebagai pelaku, bukan penentu.
Buku lain


Kataku
BalasHapusJangan risau ketika perjuangan tidak sesuai harapan. Ingat, kita hanya sebagai pelaku, bukan penentu.
Rena...
"Setiap orang tentu punya mimpi dan harapan dalam hidupnya. Ada yang sekedar mimpi, seperti mimpi di malam hari atau siang bolong, namun adapula yang bermimpi kemudian terbangun untuk mewujudkannya. Tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan, untuk itulah kita harus berusaha jika ingin mengubah sebuah impian menjadi kenyataan"
Siaaaap... Matur nuwun 🙏🙏🙏
BalasHapus