Minggu, 15 Agustus 2021

Epis 5 Fans Setiaku


 
Terima kasih pada pembaca yang masih setia berliterasi di blog ini. Semoga tidak semakin hambar ya...

Di balik kesyahduan syair-syair puitisnya, ia juga mampu bermain peran. Sayang aku bukan seorang yang mampu dengan mudah mendekati seorang wanita, aku memerlukan waktu yang lama untuk mengenalnya atau sekedar mengajaknya mengobrol.


Episode 5 (Sasi Kirana)
Fans Setiaku

                Kembali pada aktivitasku, setiap hari aku memiliki jam kerja yang berbeda, kecuali untuk acara Simfoni Malam yang kuasuh selalu dimulai pukul 21.00 sampai dengan 22.00 setiap hari Sabtu. Tanpa diketahui siapa pun kini ada sosok lain yang menjadi fans setiaku, karena ia menggunakan nama udara. Nama Arvel Anantara sebenarnya nama yang tak asing bagiku. Dulu nama itu selalu mengirimkan syair-syair indahnya untukku, Rena Antari lewat suara lembut bersahaja Mas Radit. Dan tak jarang aku pun membalasnya dengan cara yang sama. Kini, nama itu muncul lagi, mungkinkah nama itu milik Mas Radit? Tanyaku dalam hati tanpa pernah berani untuk bertanya. Hingga pada suatu hari Minggu, Mas Radit mengajakku jalan. Aku tak menolak tapi kupagari hatiku agar tak berfikir lebih untuk seorang Radit. Ia banyak sekali fans setianya. Dia pasti sudah memiliki seorang kekasih. Kalau pun hari ini mengajakku jalan, mungkin hanya sebagai sesama penyiar saja. Tidak lebih. Tepisku dalam hati yang mulai dirayapi getaran aneh tentang Mas Radit. Aku tidak boleh berharap apa pun dari perjalanan ini.

            Jalanan ramai, banyak muda-mudi berpasangan hilir mudik menuju pantai. Kupikir mas Radit akan mengajakku ke pantai tapi ternyata tidak, Mas Radit membelokkan motornya ke kanan lurus menuju perumahan. Perumahan Bougenvill Village. Aku mulai was-was.

         “Sebenarnya kita mau ke mana?” tanyaku dengan nada khawatir.

            “Tenang aja, kita makan dulu, aku lapar,” jawabnya santai.

            “Makan di mana?” kejarku lagi.

            “Kepikiran banget, aku bukan penjahat yang mau menculik tuan putri lo...,” jawabnya lagi. Dan hatiku berdegup kencang ketika tiba-tiba Radit menghentikan motornya di sebuah rumah mungil nan asri, padu padan antara cat pagar kayu yang berwarna-warni dengan tanaman di taman sangat serasi.

            “Rumah siapa?” tanyaku penasaran.

            “Arvel Anantara,” jawabnya singkat dengan senyum menggoda.

            “Kok!” serasa ada yang menyekat di rongga tenggorokanku. Kata-kataku tak bisa ke luar dengan sempurna. Berarti Arvel Anantara selama ini Mas Radit? Tanyaku dalam hati.

            “Sudahlah,” sergahnya sambil menarik tanganku dan membawanya masuk ke rumah.

            “Silakan duduk Tuan Putri,” serunya sambil menunjukkan tempat duduk untukku. Ia pun berlalu ke dalam sambil berkata.

            “Sebentar ya?” aku masih terpana dengan nama yang disebutnya baru saja. Nama itu telah ada sejak aku menjadi fans setianya, benarkah mas Radit menyimpan rasa itu selama ini? Selama menjadi fansnya aku tidak pernah bertemu dengannya.

            Aku bingung dengan perlakuan Mas Radit, aku tak pernah sekali pun mendatangi rumah cowok, apalagi dibawa seperti ini. Aku merasa tidak nyaman dengan perlakuan yang seperti ini. Aku kecewa.

        “Oo.. ada tamu,” suara seorang perempuan dari dalam membuyarkan lamunanku. Aku berdiri menyambut jabat tangannya.

            “Kenalkan, ibunya Radit,” tambahnya lagi.

            “Saya Kirana,” jawabku ragu, ia tersenyum.

            “Radit sering bercerita tentang Nak Kirana,” kata ibunya lagi, membuatku penasaran. Radit muncul dengan nampan berisi teh dan sepiring kue.

            “Maaf, tidak punya bibik,” guraunya sambil menaruh nampan di meja, ibunya hendak memindahkan teh ke dekatku.

            “Biar saya saja Bu,” kataku sambil berdiri dan mengambil teh tersebut kusajikan untuk ibu, Radit dan untukku. Aku merasa tidak enak dengan situasi ini.

            “Di sini santai saja Nak, ibu hanya berdua dengan Radit, bapaknya meninggal sejak Radit berumur lima tahun,” ibunya mengawali percakapan kami lagi. Mungkin melihat aku gugup, merasa tidak nyaman sekali, dan akhirnya aku hanya mampu mengangguk untuk menutupinya.

            “Nak Kirana berapa bersaudara?” tanyanya.

            “Berdua, dengan kakak laki-laki,” jawabku.

            “Oo.. kakaknya apa sudah menikah?” balasnya.

“Sudah, sekarang tinggal di Surabaya,” jawabku, mau melanjutkan Mas Radit sudah muncul lagi. Aku pun akhirnya bisa mengimbangi pembicaraan ibu.

            “Wah.. ibu, kalau ada tamu, diajak ngobrol terus. Maklum biasanya sendirian. Ayo makan dulu. Aku sudah siapkan lo…,” ajak Mas Radit.

            “Iya Nak ayo makan dulu, hari ini ibu masak istimewa, opor ayam sama lontong kesukaan Radit,” aku hanya menurut tak tahu bagaimana jika mau menolaknya.

            Penataan perabot di ruang tengah dan ruang makan tidak berlebihan, namun kelihatan sekali kalau terawat setiap hari. Pasti sentuhan lembut jemari tangan ibu yang merawatnya. Mereka tampak akur sekali, saling menyayangi. Aku semakin mengagumi keluarga ini. Aku ingin turut dalam kemesraan mereka.

            Di tengah-tengah suasana makan ibu banyak bercerita tentang Radit dan masa lalunya. Kadang ada rasa cemburu, kagum, dan kadang juga ingin menjadi bagian dari mereka. Namun, aku bukan siapa-siapa, mungkin saja banyak gadis-gadis yang dibawa untuk dikenalkan pada ibunya.

            Selesai makan siang ibunya pamit untuk salat Duhur dan beristirahat. Aku dan Mas Radit duduk di taman belakang yang ternyata juga sarat dengan tanaman. Ada tanaman bunga, obat-obatan, dan sayuran. Ibu betul-betul seorang yang rajin, seperti bapakku dalam hal bertanam. Mas Radit menceritakan tentang bagaimana mencari tahu tentang ihwalku dari mas Hendra temannya sewaktu sama-sama mengikuti lomba menjadi penyiar di radio tempatnya bekerja sekarang, yang rumahnya tak jauh dari rumahku. Itu dilakukannya sebelum aku menjadi penyiar, sehingga dia tahu betul tentang masa-masa SMAku. Kini, ia merasa tiada keraguan lagi untuk membawaku pada ibunya dan meminangku menjadi istrinya. Namun bagiku semua itu terlalu terburu-buru, aku hanya mengenal Mas Radit seorang penyiar dengan suara sangat menyentuh hatiku, lebih dari itu aku belum tahu apa-apa. Meski jujur aku tertarik padanya, namun untuk melangkah ke jenjang rumah tangga, aku meminta waktu dan mas Radit mengiyakan, begitu pula ibunya.

            Selama penantiannya Mas Radit sering mengunjungiku, sebaliknya aku juga sering menjenguk ibunya. Aku merasa mungkin ini yang terbaik bagiku, sehingga aku pun meminta persetujuan kedua orang tuaku. Hasilnya mereka dengan senang hati merestui. Aku bahagia, perjalananku mendapat restu ke dua belah pihak tanpa harus bersusah payah seperti selama ini, bapak dan ibu melarangku untuk berpacaran termasuk ketika aku berpacaran dengan Mas Afdal. Perjalanan cinta kami lalui dengan indahnya, aku yang masih sangat muda berpacaran dengan Mas Radit yang terbilang sudah dewasa, dia mampu menuntunku dalam banyak hal. Dalam kepenyiaran dia selalu menambah ilmuku dengan beragam pengetahuan yang dimilikinya. Dari sisi kehidupan ternyata pengetahuan agama dan sosial kemasyarakatannya juga sangat baik. Pandai sekali dia mencuri perhatian kedua orang tuaku, seminggu saja Mas Radit tidak ke rumah pasti ditanyakan. Hal ini semakin membuatku enggan untuk menerima permintaan kakak supaya aku melanjutkan kuliah. Aku telah terpaut dan terlena dengan keagungan cinta kami. Masa-masa ini sangat indah kulewati sebagaimana remaja lain. Tak ingin lagi memikirkan yang lain, selain bekerja dan mengisi hari dengan sahdunya kebersamaan.*** Bersambung ke episode 6 ....

Aku tak menolak tapi kupagari hatiku agar tak berfikir lebih untuk seorang Radit. Ia banyak sekali fans setianya. Dia pasti sudah memiliki seorang kekasih.


Kataku

Jangan risau ketika perjuangan tidak sesuai harapan. Ingat, kita hanya sebagai pelaku, bukan penentu.


Buku lain


Buku ini karya bersama 10 besar sayembara penulisan karya ilmiah bahasa  dan sastra Badan Bahasa Kemdikbud Jakarta 2016


2 komentar:

  1. Kataku

    Jangan risau ketika perjuangan tidak sesuai harapan. Ingat, kita hanya sebagai pelaku, bukan penentu.

    Rena...
    "Setiap orang tentu punya mimpi dan harapan dalam hidupnya. Ada yang sekedar mimpi, seperti mimpi di malam hari atau siang bolong, namun adapula yang bermimpi kemudian terbangun untuk mewujudkannya. Tidak ada kesuksesan tanpa perjuangan, untuk itulah kita harus berusaha jika ingin mengubah sebuah impian menjadi kenyataan"

    BalasHapus