Sahabat masih ingat dengan episode sebelumnya? Jika sudah lupa bisa berliterasi ulang di episode 1 dan 2. Caranya dengan klik tanda panah di sudut kanan bawah π€π€
Episode 3
Terpukau
Hari
itu aku datang di acara Pertemuan Komunitas Penyiar (PKP) yang bertempat di
sebuah rumah makan di tepi pantai. Semilirnya angin silih berganti dengan suara
debur ombak membuat suasana terasa romantis. Aku datang bersama teman-teman sekerja
yakni dari Radio Suara Desaku kecuali mas Dika dan Andre yang sedang bertugas.
Setelah melakukan registrasi kami pun memasuki ruangan sambil berkenalan satu
sama lain sebelum acara dimulai. Tiba-tiba jantungku seperti berhenti berdetak
ketika ada yang menyebut namanya “Radit” saat berjabat tangan denganku. Aku
hilang keseimbangan antara logika dan rasaku. Sosok Radit ternyata persis
seperti dalam imajiku. Tinggi, hitam manis, cara berpakainnya sangat rapi, dan
satu lagi yang kuperhatikan tidak banyak basa-basi. “Sasi Kirana” jawabku
sambil berusaha melepaskan jabat tangannya seketika karena kurasakan ada yang
menekan di ujung jari jemariku, dan aku berusaha menghilangkan kesan terpukau
pesonanya karena Mas Yosi menegur kami.
Sepanjang acara, perhatianku sedikit
pun tak terlepas dari Radit. Saat mengambil
makan dan minum aku ingin sedikit mengenalnya, namun tidak
sedikit wanita yang mendekatinya untuk berkenalan. Hingga pada puncak acara
yakni pertunjukan seni hasil kreasi dari masing-masing radio. Betul dugaanku,
Radit selalu menjadi pusat perhatian. Dia sebagai pemeran utama dalam sandiwara
yang ditampilkan. Semua bersorak ketika Radit muncul di pentas. Kecil hatiku
dengan keadaan ini. Impianku lebih dekat dengan Radit tidak semudah yang
kubayangkan. Fans wanitanya sangat banyak.
Tiba giliran kelompok Radio Suara
Desaku yang menyajikan sebuah opera tentang perjalanan seorang wartawan yang
tidak mau disuap. Aku sempat grogi dan kehilangan beberapa kata ketika tanpa sengaja
kilatan bola mataku beradu pandang dengan Radit. Tapi syukurlah aku segera
tersadar dan mampu menguasai diri hingga pertunjukan opera selesai. Sorak sorai
penonton menyertai berakhirnya semua pertunjukan. Aku ganti kostum dan
merapikan diri lalu beranjak ke luar.
Namun tanpa kutahu tiba-tiba sebuah tangan yang sarat kelembutan terulur di
hadapanku menunggu jabat tanganku.
“Ow…,” kagetku sambil mengulurkan
tangan.
“Selamat, Anda tampil dengan bagus
sekali,” ucapnya teriring senyum yang membuatku salah tingkah. Belum sempat aku
menjawab ia sudah meneruskan kalimatnya.
“Bukankah Anda, Rena Antari?” ia
menyebutkan nama udaraku dulu, saat aku menjadi fans setianya.
“Iya,” jawabku spontan. Aku senang
tapi ia tahu dari mana ya? perasaan kami belum pernah bertemu. Sebuah Tanya
yang tak sampai ke luar
dari mulutku. Karena kurasakan kelu di ranting-ranting lidah dan bibirku.
“Pantesan… tak pernah ada kabarnya,
sudah menjadi penyiar rupanya, musik tembang
malamku jadi kesepian lo tanpa syair-syair Anda,” sindirnya lagi. Tatapan
matanya sangat menggoda bagiku. Tak tahu bagi dia, sengaja menggodaku atau
memang seperti itu. Ah aku hanya bisa tersenyum tanpa berani berharap lebih.
“Saya baru belajar, Mas,” jawabku
lagi. Namun kami harus segera berpisah karena Nina sudah memanggilku
dari tadi. Ternyata
betul teman-temanku sudah siap di mobil untuk pulang.
“Dari mana saja sih, lama banget,” suara
Santi yang mulai kegerahan setelah beberapa lama di dalam mobil.
“Sett!!, Mbak Kina dapat cowok
cakep,” jawab Nina sekenanya, hal ini membuat mata Mas Yosi melirik kesal
kepadaku. Aku hanya diam, kuisyaratkan supaya Nina diam namun dia malah bertanya padaku.
“Siapa namanya Mbak? Kenalin dong,”
aku tidak tahu lagi bagaimana menghentikan gurauan mereka yang bernada
mengejekku. Sementara mobil perlahan meninggalkan semilirnya udara pantai yang
membawa juta bahagia bagiku.
“Aku tahu, dia itu namanya Radit,” jawab
Santi, membuat suasana semakin menyesakkan rongga-rongga pernafasanku, karena
kelihatan sekali bayang-bayang muram di wajah mas Yosi yang duduk di samping
sopir dan aku duduk di belakang sopir.
“Yang mana sih?” tanya Lani yang
sedari tadi diam. Membuat seisi mobil berdengung kecuali aku dan Mas Yosi yang
terdiam dalam alam pikiran kami masing-masing.
“Baru bangun Lan?” kata Nina,
suasana di dalam mobil masih ramai canda tawa teman-temanku.
“Yang memerankan tokoh Arga tadi
lo,” jawab Nina lagi, kulirik Lani berusaha mengingatnya.
“Kamu sih, tadi disuruh panggil mbak
Kina gak mau, coba kalau mau pasti dah kenalan sama tuh cowok,” jawab Nina
asal.
“Memang kamu tadi kenalan?” jawab
Lani, Nina mengangguk.
“Betul mbak?” tanya Lani padaku, aku
hanya tersenyum dan ketika aku menggeleng semua ramai mencibir pada Nina.
“Huuuuuuuuuuu,” sorak semua.
“Dasar!”
kata Lani.
Sepanjang jalan kami bersenda gurau
seakan tiada sekat di antara kami, ya di tempat kerja kami tidak saling
membentangkan istilah aku senior dan kamu yunior, namun tetap saling membina
rasa saling menghargai. Ini yang membuatku sangat senang bekerja di radio ini.***
Aku
hilang keseimbangan antara logika dan rasaku. Sosok Radit ternyata persis
seperti dalam imajiku. Tinggi, hitam manis, cara berpakainnya sangat rapi, dan
satu lagi yang kuperhatikan tidak banyak basa-basi.
Bersambung ke episode 4 Rena Antari, Gadis Impianku
Kataku.
Jangan berharap mengerti perjuangan hidup pada seorang yang tidak pernah memperjuangkan hidupnya. {π·Menebar Asaπ·}
Buku lain


Lanjutkan berkarya ππππͺπͺπͺ
BalasHapusTerima kasih Bunda, adakah buah krisannya? [Kritik dan saran].
Hapussiip
BalasHapusTerima kasih π€
HapusJanganlah pernah menyerah ketika Anda masih mampu berusaha lagi. Tidak ada kata berakhir sampai Anda berhenti mencoba menulis lagi"
BalasHapusselamat karyamu bagus...
Terima kasih, semoga masih ada energi untuk ke sana.
HapusWow keren, lanjut berkarya kawan .
BalasHapusTerima kasih kawan setiakuuu ....
BalasHapus