Minggu, 01 Agustus 2021

Epis 3 Terpukau

 




 

Sahabat masih ingat dengan episode sebelumnya? Jika sudah lupa bisa berliterasi ulang di episode 1 dan 2. Caranya dengan klik tanda panah di sudut kanan bawah πŸ€”πŸ€”

Episode 3 

 Terpukau

                Hari itu aku datang di acara Pertemuan Komunitas Penyiar (PKP) yang bertempat di sebuah rumah makan di tepi pantai. Semilirnya angin silih berganti dengan suara debur ombak membuat suasana terasa romantis. Aku datang bersama teman-teman sekerja yakni dari Radio Suara Desaku kecuali mas Dika dan Andre yang sedang bertugas. Setelah melakukan registrasi kami pun memasuki ruangan sambil berkenalan satu sama lain sebelum acara dimulai. Tiba-tiba jantungku seperti berhenti berdetak ketika ada yang menyebut namanya “Radit” saat berjabat tangan denganku. Aku hilang keseimbangan antara logika dan rasaku. Sosok Radit ternyata persis seperti dalam imajiku. Tinggi, hitam manis, cara berpakainnya sangat rapi, dan satu lagi yang kuperhatikan tidak banyak basa-basi. “Sasi Kirana” jawabku sambil berusaha melepaskan jabat tangannya seketika karena kurasakan ada yang menekan di ujung jari jemariku, dan aku berusaha menghilangkan kesan terpukau pesonanya karena Mas Yosi menegur kami.

            Sepanjang acara, perhatianku sedikit pun tak terlepas dari Radit. Saat mengambil makan dan minum aku ingin sedikit mengenalnya, namun tidak sedikit wanita yang mendekatinya untuk berkenalan. Hingga pada puncak acara yakni pertunjukan seni hasil kreasi dari masing-masing radio. Betul dugaanku, Radit selalu menjadi pusat perhatian. Dia sebagai pemeran utama dalam sandiwara yang ditampilkan. Semua bersorak ketika Radit muncul di pentas. Kecil hatiku dengan keadaan ini. Impianku lebih dekat dengan Radit tidak semudah yang kubayangkan. Fans wanitanya sangat banyak.

            Tiba giliran kelompok Radio Suara Desaku yang menyajikan sebuah opera tentang perjalanan seorang wartawan yang tidak mau disuap. Aku sempat grogi dan kehilangan beberapa kata ketika tanpa sengaja kilatan bola mataku beradu pandang dengan Radit. Tapi syukurlah aku segera tersadar dan mampu menguasai diri hingga pertunjukan opera selesai. Sorak sorai penonton menyertai berakhirnya semua pertunjukan. Aku ganti kostum dan merapikan diri lalu beranjak ke luar. Namun tanpa kutahu tiba-tiba sebuah tangan yang sarat kelembutan terulur di hadapanku menunggu jabat tanganku.

            “Ow…,” kagetku sambil mengulurkan tangan.

            “Selamat, Anda tampil dengan bagus sekali,” ucapnya teriring senyum yang membuatku salah tingkah. Belum sempat aku menjawab ia sudah meneruskan kalimatnya.

            “Bukankah Anda, Rena Antari?” ia menyebutkan nama udaraku dulu, saat aku menjadi fans setianya.

            “Iya,” jawabku spontan. Aku senang tapi ia tahu dari mana ya? perasaan kami belum pernah bertemu. Sebuah Tanya yang tak sampai ke luar dari mulutku. Karena kurasakan kelu di ranting-ranting lidah dan bibirku.

            “Pantesan… tak pernah ada kabarnya, sudah menjadi penyiar rupanya, musik tembang malamku jadi kesepian lo tanpa syair-syair Anda,” sindirnya lagi. Tatapan matanya sangat menggoda bagiku. Tak tahu bagi dia, sengaja menggodaku atau memang seperti itu. Ah aku hanya bisa tersenyum tanpa berani berharap lebih.

            “Saya baru belajar, Mas,” jawabku lagi. Namun kami harus segera berpisah karena  Nina sudah memanggilku dari tadi. Ternyata betul teman-temanku sudah siap di mobil untuk pulang.

            “Dari mana saja sih, lama banget,” suara Santi yang mulai kegerahan setelah beberapa lama di dalam mobil.

            “Sett!!, Mbak Kina dapat cowok cakep,” jawab Nina sekenanya, hal ini membuat mata Mas Yosi melirik kesal kepadaku. Aku hanya diam, kuisyaratkan supaya Nina diam namun dia malah bertanya padaku.

            “Siapa namanya Mbak? Kenalin dong,” aku tidak tahu lagi bagaimana menghentikan gurauan mereka yang bernada mengejekku. Sementara mobil perlahan meninggalkan semilirnya udara pantai yang membawa juta bahagia bagiku.

            “Aku tahu, dia itu namanya Radit,” jawab Santi, membuat suasana semakin menyesakkan rongga-rongga pernafasanku, karena kelihatan sekali bayang-bayang muram di wajah mas Yosi yang duduk di samping sopir dan aku duduk di belakang sopir.

            “Yang mana sih?” tanya Lani yang sedari tadi diam. Membuat seisi mobil berdengung kecuali aku dan Mas Yosi yang terdiam dalam alam pikiran kami masing-masing.

            “Baru bangun Lan?” kata Nina, suasana di dalam mobil masih ramai canda tawa teman-temanku.

            “Yang memerankan tokoh Arga tadi lo,” jawab Nina lagi, kulirik Lani berusaha mengingatnya.

            “Kamu sih, tadi disuruh panggil mbak Kina gak mau, coba kalau mau pasti dah kenalan sama tuh cowok,” jawab Nina asal.

            “Memang kamu tadi kenalan?” jawab Lani, Nina mengangguk.

            “Betul mbak?” tanya Lani padaku, aku hanya tersenyum dan ketika aku menggeleng semua ramai mencibir pada Nina.

            “Huuuuuuuuuuu,” sorak semua.

            “Dasar!” kata Lani.

            Sepanjang jalan kami bersenda gurau seakan tiada sekat di antara kami, ya di tempat kerja kami tidak saling membentangkan istilah aku senior dan kamu yunior, namun tetap saling membina rasa saling menghargai. Ini yang membuatku sangat senang bekerja di radio ini.*** 


Aku hilang keseimbangan antara logika dan rasaku. Sosok Radit ternyata persis seperti dalam imajiku. Tinggi, hitam manis, cara berpakainnya sangat rapi, dan satu lagi yang kuperhatikan tidak banyak basa-basi.


Bersambung ke episode 4 Rena Antari, Gadis Impianku


Kataku.

Jangan berharap mengerti perjuangan hidup pada seorang yang tidak pernah memperjuangkan hidupnya. {🌷Menebar Asa🌷}


Buku lain



8 komentar:

  1. Lanjutkan berkarya πŸ’™πŸ’™πŸ’™πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih Bunda, adakah buah krisannya? [Kritik dan saran].

      Hapus
  2. Janganlah pernah menyerah ketika Anda masih mampu berusaha lagi. Tidak ada kata berakhir sampai Anda berhenti mencoba menulis lagi"
    selamat karyamu bagus...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih, semoga masih ada energi untuk ke sana.

      Hapus
  3. Wow keren, lanjut berkarya kawan .

    BalasHapus